Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Abdullah Daeng Sirua, Tokoh Agama di Balik Nama Jalan Abdesir
Papan penanda Jalan Abdullah Daeng Sirua (Abdesir) yang berada di Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. (dok. Google Maps)
  • Abdullah Daeng Sirua, lahir pada 1922, memulai kiprah sebagai pendidik dan menanamkan semangat kemerdekaan kepada murid-muridnya sejak masa pendudukan Jepang.
  • Saat Belanda kembali melalui NICA, ia mengorganisir perjuangan gerilya di Sulawesi Selatan bersama sejumlah pejuang, hingga menjadi buruan intel dan ditahan.
  • Dalam tahanan, Abdullah mengalami penyiksaan berat oleh militer Belanda; setelah 1949 ia kembali mengajar, menjadi pemuka agama Makassar, dan wafat pada 1979.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Bagi warga Kota Makassar, Jalan Abdullah Daeng Sirua (biasa disingkat Jalan Abdesir) merupakan salah satu jalur arteri penting yang menghubungkan wilayah Kecamatan Tamalanrea, Manggala dan Panakkukang. Namun, di balik keramaian lalu lintasnya, nama tersebut sebenarnya identik dengan seorang tokoh perjuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Abdullah Daeng Sirua dikenal sebagai sosok pendidik, pejuang gerilya, dan pahlawan pergerakan yang mengabdikan hidupnya demi kemerdekaan dan pendidikan. Dengan sepak terjang seperti itu, sang pemilik nama punya tempat penting dalam lembar sejarah.

1. Lahir di Kampung Tidur, Abdullah Daeng Sirua memulai kiprahnya sebagai pengajar

Suasana di salah satu sudut kota Makassar antara 1910 hingga 1925. (Collectie Wereldmuseum v/h Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Dalam buku "Tokoh-Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar" (Indonesia Culture Watch, 2008), Abdullah Daeng Sirua lahir pada 1922 dari keluarga terpandang. Ia adalah dari Yusuf Daeng Ngawing, seorang kepala kampung di Mapala, dan ibu bernama Yalus Daeng Te'ne. Sang ayah konsisten menentang penjajahan, baik dari masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, dan kemudian menurun ke Abdullah.

Abdullah sendiri mengawali kiprahnya di dunia pendidikan setelah lulus MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, kini setingkat SMP), sekolah para anak-anak Belanda dan pribumi keturunan bangsawan. Sebelum era revolusi fisik meletus, ia dikenal sebagai seorang pendidik yang peduli terhadap generasi muda lokal. Semangat kemerdekaan ia tumbuhkan saat mengajar murid-muridnya pada masa pendudukan Jepang, dan semakin kuat setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

2. Ikut turun mengorganisir perjuangan gerilya saat Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia

Suasana di salah satu sudut kota Makassar antara 1948 hingga 1949. (Collectie Wereldmuseum v/h Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Setelah Jepang hengkang, Belanda justru kembali berusaha masuk dan menguasai negeri yang baru merdeka tersebut. Mereka mendaratkan militer di bawah bendera NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yakni organisasi semi-militer bentukan Belanda yang bertugas mengambil alih dan menegakkan kembali pemerintahan sipil serta kekuasaan kolonial di Hindia-Belanda (Indonesia) setelah Perang Dunia II.

Kontan saja upaya tersebut mendapat perlawanan, salah satunya di Sulsel. Abdullah pun ikut turun dalam mengorganisir perlawanan di daerah perkotaan, pegunungan hingga pedesaan bersama para gerilyawan seperti Wolter Mongisidi, Ranggong Daeng Romo, hingga Emmy Saelan. Lantaran aktivitasnya, Abdullah menjadi buruan intel Belanda dan sempat ditahan selama beberapa bulan.

3. Abdullah disiksa oleh para tentara Belanda, dan mengalami cedera berat yang tidak bisa disembuhkan

Suasana parade militer di Kota Makassar untuk merayakan Hari Ratu Wilhelmina pada 1948. (Collectie Wereldmuseum v/h Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Di dalam penahanan, Abdullah disiksa dengan cara brutal oleh militer Belanda. Mulai dari digantung, dipasung, hingga diseret oleh mobil jip tentara. Meski sempat dikabarkan meninggal dunia, ia masih mampu bertahan hingga akhirnya dibebaskan meski mengalami cedera berat yang tidak bisa disembuhkan.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, Abdullah kembali fokus pada misi utamanya yakni mengajar. Tak sampai di situ, ia dikenal sebagai pemuka agama ternama di Makassar dan pernah menjabat sebagai Kepala Urusan Agama di Kecamatan Karuwisi dan Panakkukang.

Memasuki masa pensiun, ia tetap aktif mengabdikan hidupnya untuk syiar Islam dengan mengisi pengajian, ceramah, serta mengajar ilmu agama kepada masyarakat di sekitar kediamannya. Abdullah Daeng Sirua wafat pada 1979 pada usia 57 tahun, dan dimakamkan di area perkuburan keluarga di Tidung Mariolo.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article