Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kepala Barantin: Indonesia Bisa Jadi Pemain Udang Nomor 1 Dunia
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding usai meninjau proses budidaya dan pengolahan udang di PT Bogatama Marinusa (BOMAR), Makassar, Jumat (7/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menilai Indonesia berpeluang menjadi pemain udang nomor satu dunia melalui ekosistem budidaya berstandar tinggi dan pemanfaatan teknologi.
  • PT BOMAR mencatat kelangsungan hidup udang di atas 95 persen pada pembenihan dan budidaya, didukung pengelolaan induk, benur, kualitas air, serta biosekuriti ketat.
  • Barantin mendorong model BOMAR dikaji untuk diterapkan di daerah lain, sementara perusahaan menekankan konsistensi CBIB dan pembaruan teknologi guna menekan kegagalan budidaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, menyebut Indonesia berpeluang menjadi pemain udang nomor satu dunia. Hal itu didukung oleh potensi pengembangan ekosistem budidaya udang yang menerapkan standar tinggi dan teknologi.

Karding menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi PT Bogatama Marinusa (BOMAR) di Jalan Kima Raya II Kav N-4B1, Daya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (7/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, dia meninjau penerapan sistem budidaya dan pengendalian mutu udang yang diterapkan perusahaan.

Menurut Karding, ekosistem yang dibangun BOMAR menunjukkan bahwa industri udang Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan komoditas dengan standar ekspor dunia. Pengelolaan tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari induk, benur, hingga pengendalian lingkungan budidaya.

"Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia karena kalau udangnya ini dikelola dengan tepat, apa yang terjadi di BOMAR ini satu ekosistem dengan standar yang sangat tinggi," kata Karding.

1. Survival rate udang di BOMAR di atas 95 persen

Suasana PT Bogatama Marinusa (BOMAR) di Makassar, Jumat (7/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Karding menyoroti tingkat survival rate atau kelangsungan hidup udang yang diterapkan dalam ekosistem BOMAR. Angka tersebut disebut berada di atas 95 persen, baik pada tahapan pembenihan maupun budidaya.

Karding mengaku terkejut dengan capaian tersebut. Menurutnya, angka survival rate di atas 95 persen menunjukkan keberhasilan penerapan teknologi dan standar operasional dalam mengelola budidaya udang.

"Saya tadi kaget. 95 saya kira hanya pembenihan saja. Ternyata fakta," katanya.

Karding menjelaskan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pengelolaan induk, benur, serta lingkungan budidaya. Pemantauan kualitas air mencakup salinitas, tingkat keasaman atau pH, kadar oksigen, hingga keberadaan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada udang.

Selain itu, penerapan biosekuriti yang ketat juga menjadi bagian penting dalam sistem produksi. Karding melihat langsung prosedur sanitasi yang diterapkan sebelum seseorang memasuki area produksi.

"Kalau model yang beliau pakai ini, kuman masuk itu sampai pemeriksaan ada kali 20 kali cuci tangan. Ini semua dibungkus semua, seperti masuk rumah sakit," katanya.

2. Karding dorong model BOMAR direplikasi

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding meninjau proses budidaya dan pengolahan udang di PT Bogatama Marinusa (BOMAR), Makassar, Jumat (7/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Menurut Karding, penerapan standar tersebut menjadi penting di tengah tantangan penyakit yang masih menghantui industri udang. Dengan sistem budidaya yang mampu menekan risiko penyakit, potensi produksi udang nasional dinilai dapat terus ditingkatkan.

Dia bahkan membuka peluang agar sistem yang diterapkan BOMAR dapat dikembangkan menjadi model budidaya udang di Indonesia. Model tersebut dinilai dapat diterapkan di daerah lain untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri udang nasional.

"Kalau Pak Tigor mau menjadikan model di Indonesia, saya yakin kita akan jadi besar," katanya.

Karding mengatakan pihaknya akan mendorong pembahasan lebih lanjut dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan apabila model tersebut dinilai dapat dikembangkan dan diterapkan di daerah lain. Menurutnya, kerja sama antara pelaku usaha dan Badan Karantina Indonesia penting untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan daya saing udang Indonesia di pasar global.

"Tugas kami kan memastikan bahwa semua udang atau perikananlah ya, komoditi perikanan keluar masuk, baik di pulau antar pulau maupun antar negara, itu harus betul-betul sehat, mutunya terjaga, kualitasnya terjaga," kata Karding.

3. BOMAR sebut tantangan utama ada di hulu

CEO PT BOMAR, Tigor Chendarma, di PT Bogatama Marinusa (BOMAR), Makassar, Jumat (7/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Sementara itu, CEO PT BOMAR, Tigor Chendarma, mengatakan tantangan utama industri udang berada di sektor hulu, khususnya dalam memastikan kualitas induk dan benur. Menurutnya, proses tersebut harus menerapkan cara budidaya yang baik dan benar.

"Udang itu tantangannya di hulu, di budidayanya. Mulai dari induk, benur, itu yang paling penting itu harus dikembangbiakkan dulu di situ dengan cara yang benar," Tigor.

Dia menyebut penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) secara konsisten menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan keberhasilan produksi. Selain itu, teknologi juga perlu terus diperbarui untuk mengatasi berbagai kendala dalam proses budidaya.

"Konsistensi dalam aplikasi CBIB itu penting. Tentunya juga harus update teknologi. Karena teknologi itu perlu untuk gimana teknologi mampu mengatasi hambatan atau kendala yang berjalan," katanya.

Menurut Tigor, kegagalan dalam budidaya harus ditekan agar pasokan bahan baku dapat terus bertumbuh. Dengan demikian, industri udang nasional dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan memiliki daya saing.

"Kegagalan budidaya itu yang harus kita atasi supaya suplai bahan baku bisa bertumbuh, meningkat, menjadikan industri kita itu lebih efektif, efisien, punya daya saing," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article