Kasus COVID-19 di Sulsel Naik, Pemprov Siapkan Tempat Isoter

Makassar, IDN Times - Angka kasus COVID-19 di Provinsi Sulawesi Selatan mulai meningkat. Menurut data Satgas Penanganan COVID-19 Sulsel, ada penambahan 25 kasus pada Jumat 28, Januari 2022.
Kenaikan itu mulai tampak pada 25 Januari 2022, di mana tercatat ada 15 kasus baru. Lalu bertambah lagi 12 kasus di tanggal 26 Januari dan 20 kasus di 27 Januari. Kasus COVID-19 aktif yang tercatat mencapai 122 orang.
Selama angka kasus COVID-19 Sulsel melandai, angka kasus harian tak pernah melebihi 10 kasus. Kini Pemerintah Provinsi mulai bersiap untuk mengantisipasi lonjakan kasus di masa depan.
"Memang kita mulai waspada karena di mana-mana sudah mulai peningkatan kasus. Tapi memang kita sudah antisipasi untuk mau tidak mau, suka tidak suka, akan menyusul," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Arman Bausat, Sabtu (29/1/2022).
1. Tempat isoter belum terpakai

Pemprov Sulsel pun kini mempersiapkan kembali tempat isolasi terpusat bagi masyarakat yang terkonfirmasi positif COVID-19. Saat kasus masih cukup tinggi, Pemprov memanfaatkan sejumlah lokasi sebagai tempat isolasi terpusat.
"Kesiapan pemerintah sekarang kita sudah mulai siapkan Asrama Haji, kita mulai siapkan (gedung) BPSDM kembali," kata Arman.
Asrama Haji di Sudiang, Biringkanaya, Makassar, menyediakan 1.500 tempat tidur. Sedangkan gedung di BPSDM ada 150 tempat tidur dan BBPK Makassar 80 tempat tidur. Sejauh ini, tempat-tempat tersebut tak diisi pasien COVID-19.
2. Daerah diminta antisipasi lonjakan kasus

Beberapa rumah sakit rujukan juga mulai terpakai merawat pasien COVID-19, meski jumlah pasiennya tidak banyak. Misalnya di RSUD dr Wahidin Sudirohusodo terpakai dua tempat tidur isolasi, satu tempat tidur isolasi di RSKD Dadi, dan satu tempat tidur di RSUD Haji.
Selain tiga rumah sakit tersebut, masih ada rumah sakit rujukan COVID-19 lainnya yaitu RS Universitas Hasanuddin, RSUD Sayang Rakyat, RSUD Kota Makassar, dan RSUD Labuang Baji. Kondisi tempat tidur rumah sakit tersebut masih tidak terpakai.
Kendati demikian, Arman meminta semua rumah sakit tetap waspada. Pasalnya, masih ada potensi peningkatan kasus COVID-19.
"Semua rumah sakit pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota kita sudah ingatkan, kan sudah dapat zoom dengan para kadis kesehatan kabupaten/kota untuk mengantisipasi lonjakan dengan tetap jalan vaksinasi," kata Arman.
3. Tak ada penanganan khusus varian Omicron

Arman mengatakan dengan mulai meningkatnya kasus COVID-19, maka pemerintah akan mulai lagi fokus pada penanganan COVID-19. Namun tak ada penanganan khusus untuk varian Omicron.
Menurutnya, varian Omicron meski memiliki daya tular lebih tinggi namun tidak dengan risiko fatality atau kematian. Dia menegaskan penanganan kasus COVID-19 dengan varian Omicron masih akan sama.
"Pada dasarnya kita tidak usah terlalu berpikir apa itu Omicron. Karena apa pun hasilnya, Omicron atau bukan, tetap kalau dia tidak bergejala maka pasti diisolasi. Kalau bergejala pasti masuk rumah sakit," katanya.





















