Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mata Pertama dari Langit: Jejak TNI AU dalam Operasi ATR 42-500
Operasi evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport di Gunung Bulusaraung, Pangkep, menggunakan helikopterH225M Caracal TNI Angkatan Udara. (Dok. TNI AU)
  • ATR 42-500 PK-THT rute Yogyakarta-Makassar hilang kontak pada 17 Januari 2026 dengan 10 orang di dalamnya; Boeing 737 Surveillance TNI AU menemukan serpihan dan ekor pesawat di Gunung Bulusaraung.
  • Medan karst terjal, kabut tebal, dan cuaca cepat berubah menghambat operasi SAR. TNI AU, Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta warga menggabungkan pengamatan udara, jalur darat, dan pengamanan lokasi.
  • Seluruh 10 korban ditemukan meninggal hingga hari ketujuh. Evakuasi bertahap memakai tandu dan hoist helikopter membawa korban ke Lanud Sultan Hasanuddin sebelum identifikasi DVI di RS Bhayangkara Makassar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Helikopter H225M Caracal itu tak pernah benar-benar mendarat. Puluhan meter di bawahnya, lereng curam Gunung Bulusaraung berupa tebing-tebing karst terbentang. Pilot mempertahankan heli tetap melayang di atas punggungan sempit, sementara kru di pintu kabin mengawasi tali hoist yang perlahan diturunkan ke bawah.

Angin dari putaran rotor menyapu ilalang dan Semak. Sejumlah personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat), Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga setempat bergerakmengangkat tandu berbalut kantong jenazah berwarna jingga. Tanpa banyak aba-aba, hanya sekadar isyarat tangan, proses pengangkatan korban berlangsung aman di tengah suara mesin helikopter dan hembusan angin yang cukup kuat.

Pemandangan itu terjadi berulang selama operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, di wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan pada Januari 2026 lalu. Namun proses itu sesungguhnya dimulai jauh sebelum helikopter pertama menurunkan hoist. Saat sebagian besar perhatian masih tertuju pada kabar hilangnya pesawat, sebuah operasi udara telah bergerak untuk mencari titik jatuhnya di tengah bentang pegunungan yang tertutup kabut.

Siang itu, Sabtu, 17 Januari 2026, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan hilang kontak. Pesawat membawa tujuh awak dan tiga penumpang, termasuk pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menyewanya untuk misi pengawasan udara maritim. Saat itu, informasi yang diterima hanya berupa koordinat terakhir sebelum komunikasi dengan pesawat terputus. Di atas kertas, koordinat tersebut masih mencakup wilayah pencarian yang sangat luas.

Di Lanud Sultan Hasanuddin, waktu menjadi faktor yang tidak bisa ditunda. Begitu laporan lost contact diterima, personel segera memetakan koordinat terakhir pesawat untuk menentukan sektor pencarian. Tidak lama berselang , pesawat Boeing 737 Surveillance dari Skadron Udara 5 diterbangkan menuju kawasan yang diperkirakan menjadi jalur terakhir ATR 42-500.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan keputusan itu diambil segera setelah informasi diterima. "Tiga puluh menit setelah terjadi informasi lost contact, unsur udara tersebut sudah terbang dan berada di atas area pencarian," ujarnya ketika menjelaskan jalannya operasi beberapa hari kemudian.

Kecepatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam keseluruhan operasi. Di saat tim darat masih menyiapkan jalur menuju kawasan pegunungan, pesawat Boeing sudah lebih dahulu menyisir lereng-lereng Bulusaraung dari udara menggunakan sistem pengamatan yang dilengkapi kamera Wescam. Dari ketinggian sekitar 7.300 kaki, awak pesawat memeriksa setiap lekuk pegunungan, mencari kemungkinan adanya serpihan maupun perubahan bentuk vegetasi yang dapat mengindikasikan lokasi kecelakaan.

Hasil penyisiran itu mulai memperlihatkan petunjuk. Pada mulanya terlihat serpihan yang tersebar di lereng, kemudian bagian ekor pesawat. Temuan tersebut segera diteruskan kepada seluruh unsur SAR dalam bentuk koordinat agar dapat ditindaklanjuti melalui jalur darat maupun udara.

"Itulah yang diberikan dari pesawat Boeing ini. Informasi berupa koordinat kemudian diberikan kepada pesawat helikopter dan langsung diadakan penjemputan," kata Arifaini.

Koordinat yang dikirim dari udara kemudian mengubah arah operasi. Pencarian yang semula masih menyisir kawasan luas mulai dipusatkan di satu titik di lereng Gunung Bulusaraung. Tapi penemuan lokasi jatuhnya pesawat ternyata baru menjadi awal dari pekerjaan yang jauh lebih berat.

Beratnya medan gunung dan cuaca ekstrem jadi tantangan

Tim SAR gabungan mencari korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Koordinat dari Boeing Surveillance memberi kepastian mengenai lokasi jatuhnya ATR 42-500. Tapi itu juga menunjukkan tantangan sesungguhnya. Bangkai pesawat berada di lereng Gunung Bulusaraung, kawasan pegunungan karst dengan kontur terjal yang sulit dijangkau, baik jalur darat maupun via udara.

Tim SAR gabungan harus lebih dulu membuka akses menuju lokasi. Jalur pendakian yang biasa digunakan masyarakat tidak mengarah ke titik jatuhnya pesawat, sehingga personel harus menyusuri vegetasi rapat, menembus semak, dan mencari pijakan di antara tebing batu kapur. Di beberapa titik, kemiringan lereng mendekati 90 derajat sehingga proses turun hanya bisa dilakukan menggunakan teknik rappelling.

Kondisi itu juga menjadi tantangan bagi unsur udara. Helikopter tidak dapat mendarat di sekitar lokasi karena tidak tersedia bidang yang cukup aman. Setiap penerbangan harus mempertimbangkan arah angin, ruang manuver, hingga perubahan cuaca yang berlangsung sangat cepat di kawasan pegunungan. Jalur udara memang memangkas waktu tempuh, tetapi tidak serta-merta membuat operasi menjadi lebih mudah.

Setelah titik jatuh pesawat dipastikan, TNI Angkatan Udara mengerahkan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 untuk menurunkan lima prajurit Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) bersama seorang personel Basarnas. Mereka menjadi unsur pertama yang diterjunkan melalui udara ke punggungan terdekat dengan lokasi kecelakaan.

Setibanya di lereng gunung, tugas mereka bukan langsung mengevakuasi korban. Personel lebih dahulu melakukan pengamanan area, menentukan titik kumpul, dan menyiapkan jalur yang memungkinkan untuk proses evakuasi. Pada saat yang sama, personel Lanud Sultan Hasanuddin, Yonko 473 Korpasgat, dan Yon Arhanud 23 Korpasgat bergerak melalui jalur darat bersama Basarnas, Kodam XIV/Hasanuddin, Polri, relawan, dan masyarakat setempat.

Operasi itu berlangsung dalam pembagian tugas yang saling melengkapi. Unsur udara membuka akses dari atas, sementara tim darat menjadi ujung tombak untuk mencapai badan pesawat. Informasi yang dikirim dari Boeing Surveillance terus diperbarui selama penyisiran berlangsung sehingga pergerakan di lapangan dapat disesuaikan dengan perkembangan terbaru.

Namun, seperti banyak operasi pencarian di kawasan pegunungan, cuaca adalah variable yang tidak bisa dikendalikan.

Pada Senin, 19 Januari 2026, atau dua hari setelah peristiwa kecelakaan pesawat, H225M Caracal kembali diterbangkan dengan membawa personel Korpasgat, anggota Basarnas, dan logistik menuju lokasi operasi. Penerbangan itu direncanakan untuk mempercepat distribusi peralatan sekaligus mendukung proses evakuasi korban yang mulai ditemukan.

Tapi rencana itu tak berjalan sesuai harapan. Tebalnya kabut di sekitar punggungan membuat jarak pandang terus berkurang. Setelah mengamati dari udara, awak helikopter memutuskan tidak melanjutkan penurunan personel. Penerbangan dibatalkan dan helikopter kembali ke pangkalan sebagai bagian dari penerapan prosedur keselamatan.

Keputusan itu sejalan dengan arahan Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto, yang sejak awal menekankan bahwa keselamatan personel harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan operasi.

"Keselamatan personel dan awak pesawat adalah yang utama. Laksanakan tugas sesuai prosedur, jaga komunikasi, serta perhatikan kondisi cuaca dan medan. Keberhasilan misi harus sejalan dengan penerapan safety yang ketat," ujarnya saat memimpin briefing sebelum penerbangan.

Bagi tim yang berada di lapangan, keputusan tersebut berarti satu hal. Pekerjaan harus tetap berjalan melalui jalur darat. Personel SAR melanjutkan penyisiran, membuka jalur evakuasi, dan mengangkat korban menuju titik yang dinilai cukup aman untuk dijangkau helikopter ketika cuaca membaik. Tidak ada pilihan lain. Lereng Bulusaraung menuntut setiap tahap dilakukan secara bertahap, bahkan untuk memindahkan tandu beberapa puluh meter sekalipun.

Hari demi hari, koordinasi antara unsur udara dan darat semakin menentukan ritme operasi. Boeing Surveillance terus melakukan pengamatan dari atas, H225M Caracal bersiaga menunggu peluang terbang, sementara tim di lereng bergerak perlahan mendekati lokasi-lokasi yang sebelumnya belum dapat dijangkau. Operasi itu tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga ketelitian, disiplin, dan kemampuan setiap unsur untuk bekerja sebagai satu kesatuan.

Jalan pulang para korban lewat udara

TNI Angkatan Udara mengerahkan helikopter H225M Caracal untuk melanjutkan proses evakuasi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026) (dok. Dispenau)

Memastikan lokasi jatuhnya pesawat hanyalah satu bagian dari operasi. Tantangan berikutnya justru lebih berat, yakni membawa korban keluar dari lereng Bulusaraung yang curam menuju tempat yang memungkinkan untuk dievakuasi. Di sinilah setiap unsur dalam tim SAR gabungan menjalankan perannya secara bergantian, mulai dari personel yang menyisir lokasi, tim yang membuka jalur evakuasi, hingga awak helikopter yang menunggu kesempatan terbang.

Korban tidak dapat langsung diangkat dari titik ditemukannya badan pesawat. Medan yang terjal mengharuskan personel SAR memindahkan mereka secara bertahap menuju lokasi yang cukup terbuka. Proses itu makan waktu berjam-jam karena tandu harus melewati lereng berbatu, vegetasi rapat, dan jalur sempit yang hanya dapat dilalui beberapa orang dalam satu waktu. Di beberapa bagian, personel bergantian memikul tandu sambil tetap terikat tali pengaman agar tidak kehilangan pijakan.

Begitu korban berhasil dibawa ke titik yang memungkinkan, jalur udara mengambil alih.

Helikopter H225M Caracal kembali diterbangkan menuju Bulusaraung. Kali ini tugasnya bukan lagi menurunkan personel, melainkan mengangkat korban menggunakan metode hoist. Tanpa harus mendarat, helikopter mempertahankan posisi melayang di atas lereng, sementara kru di pintu kabin mengarahkan tali baja ke bawah. Personel di darat kemudian memastikan tandu telah terpasang dengan aman sebelum memberi isyarat kepada awak helikopter untuk memulai pengangkatan.

Foto-foto yang kemudian beredar luas memperlihatkan betapa rumitnya proses tersebut. Puluhan personel membentuk lingkaran di sekitar tandu, sebagian menjaga keseimbangan agar tandu tidak berayun ketika mulai terangkat, sementara yang lain mengamankan area di sekitar titik evakuasi. Di atas mereka, H225M Caracal tetap melayang dengan stabil di tengah ruang manuver yang sangat terbatas. Dalam kondisi seperti itu, koordinasi antara kru penerbang dan tim di darat menjadi penentu keberhasilan operasi.

Pada 21 Januari 2026, satu jenazah berhasil dievakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter Rescue Basarnas Dauphin AS-365 N3 menuju Lanud Sultan Hasanuddin. Jalur udara dipilih setelah tim SAR gabungan berhasil membawa korban ke titik aman di lereng gunung, tempat helikopter dapat melakukan proses pengangkatan tanpa harus mendarat.

Dari Lanud Sultan Hasanuddin, proses kemanusiaan itu berlanjut. Jenazah dipindahkan untuk menjalani identifikasi di Pos DVI Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Rangkaian itu menunjukkan bahwa operasi pencarian tidak berhenti ketika korban berhasil ditemukan. Masih ada proses identifikasi yang harus dilakukan agar setiap korban dapat dipastikan identitasnya dan diserahkan kepada keluarga.

Beberapa hari kemudian, operasi serupa kembali dilakukan setelah tim SAR menemukan dua bagian tubuh korban di lokasi yang berbeda. Helikopter H225M Caracal kembali mengangkut hasil evakuasi menuju Lanud Sultan Hasanuddin. Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto, bahkan turut berada dalam salah satu penerbangan untuk memastikan seluruh tahapan evakuasi berjalan sesuai prosedur keselamatan.

Sementara itu, Korpasgat tidak hanya terlibat dalam evakuasi. Personel Yonko 473 Pasgat juga membantu distribusi logistik ke lokasi operasi dan ikut melakukan penyisiran di sekitar lereng Bulusaraung.

Hingga memasuki hari ketujuh operasi, seluruh sepuluh korban akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal. Dengan dukungan cuaca yang mulai membaik, proses evakuasi melalui udara berlangsung lebih lancar dibanding hari-hari sebelumnya. Korban dievakuasi satu per satu sebelum menjalani tahapan identifikasi sesuai prosedur yang berlaku.

Bagi personel yang terlibat, selesainya operasi bukan hanya ditandai dengan berakhirnya pencarian. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi korban yang tertinggal di lereng Bulusaraung, dan setiap keluarga akhirnya memperoleh kepastian mengenai orang yang mereka tunggu.

Nilai Pengabdian yang Diwariskan Pendahulu

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Tonny Harjono ketika memimpin hari Bhakti ke-79 TNI AU di Yogyakarta. (Tangkapan layar YouTube TNI AU)

Tujuh hari setelah operasi dimulai, Bulusaraung perlahan kembali seperti sediakala. Jalur yang sebelumnya dipenuhi lalu-lalang personel SAR mulai lengang. Posko operasi ditutup. Namun bagi mereka yang terlibat dalam operasi itu, Bulusaraung meninggalkan pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Selama sepekan, operasi pencarian memperlihatkan bagaimana setiap unsur bekerja dalam mata rantai yang saling bergantung.  Rangkaian itu menunjukkan bahwa operasi udara tidak pernah berdiri sendiri. Keberhasilannya bergantung pada koordinasi yang terbangun sejak informasi pertama diterima, kemampuan setiap unsur menjalankan perannya, dan kedisiplinan untuk tetap mengutamakan keselamatan di tengah cuaca yang berubah cepat.

Danlanud Hasanuddin Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto, menyebut sejak hari pertama pihaknya mengerahkan empat alutsista dan 257 personel untuk mendukung operasi tersebut. Selain tiga pesawat Boeing 737 Surveillance dan satu helikopter H225M Caracal, operasi juga melibatkan personel Korpasgat serta unsur gabungan Lanud Sultan Hasanuddin yang bekerja bersama Basarnas dan instansi lain.

"Sejak menerima informasi lost contact, kami langsung rapat dan memetakan titik koordinat untuk melakukan pengamatan udara. Hasil pengamatan itu kemudian kami kirimkan kepada Tim SAR Gabungan untuk ditindaklanjuti melalui jalur darat," ujar Arifaini.

Operasi itu akhirnya tidak hanya berakhir dengan ditemukannya seluruh korban, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemampuan udara memiliki peran yang jauh melampaui fungsi pertahanan. Dalam situasi tertentu, pesawat intai, helikopter angkut, personel penerbang, hingga satuan pasukan khusus menjadi bagian dari misi kemusiaan.

Semangat itulah yang kembali diingatkan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI M. Tonny Harjono, saat memimpin Upacara Peringatan ke-79 Hari Bakti TNI Angkatan Udara Rabu, 29 Juli 2026, di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta. Peringatan ini mengenang dua peristiwa bersejarah serangan udara pertama AURI dan misi kemanusiaan 1947.

Menurut Kasau, setiap generasi prajurit menghadapi tantangan yang berbeda. Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, prajurit masa kini menghadapi perkembangan teknologi, dinamika geopolitik, hingga karakter operasi yang semakin kompleks.

"Nilai yang diwariskan para pendahulu tetap sama. Yang terus berubah adalah cara kita mengejawantahkannya sesuai dengan tantangan zaman," ujar Kasau.

Curated For You

Editorial Team

Related Article