Makassar, IDN Times - Helikopter H225M Caracal itu tak pernah benar-benar mendarat. Puluhan meter di bawahnya, lereng curam Gunung Bulusaraung berupa tebing-tebing karst terbentang. Pilot mempertahankan heli tetap melayang di atas punggungan sempit, sementara kru di pintu kabin mengawasi tali hoist yang perlahan diturunkan ke bawah.
Angin dari putaran rotor menyapu ilalang dan Semak. Sejumlah personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat), Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga setempat bergerakmengangkat tandu berbalut kantong jenazah berwarna jingga. Tanpa banyak aba-aba, hanya sekadar isyarat tangan, proses pengangkatan korban berlangsung aman di tengah suara mesin helikopter dan hembusan angin yang cukup kuat.
Pemandangan itu terjadi berulang selama operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, di wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan pada Januari 2026 lalu. Namun proses itu sesungguhnya dimulai jauh sebelum helikopter pertama menurunkan hoist. Saat sebagian besar perhatian masih tertuju pada kabar hilangnya pesawat, sebuah operasi udara telah bergerak untuk mencari titik jatuhnya di tengah bentang pegunungan yang tertutup kabut.
Siang itu, Sabtu, 17 Januari 2026, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan hilang kontak. Pesawat membawa tujuh awak dan tiga penumpang, termasuk pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menyewanya untuk misi pengawasan udara maritim. Saat itu, informasi yang diterima hanya berupa koordinat terakhir sebelum komunikasi dengan pesawat terputus. Di atas kertas, koordinat tersebut masih mencakup wilayah pencarian yang sangat luas.
Di Lanud Sultan Hasanuddin, waktu menjadi faktor yang tidak bisa ditunda. Begitu laporan lost contact diterima, personel segera memetakan koordinat terakhir pesawat untuk menentukan sektor pencarian. Tidak lama berselang , pesawat Boeing 737 Surveillance dari Skadron Udara 5 diterbangkan menuju kawasan yang diperkirakan menjadi jalur terakhir ATR 42-500.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan keputusan itu diambil segera setelah informasi diterima. "Tiga puluh menit setelah terjadi informasi lost contact, unsur udara tersebut sudah terbang dan berada di atas area pencarian," ujarnya ketika menjelaskan jalannya operasi beberapa hari kemudian.
Kecepatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam keseluruhan operasi. Di saat tim darat masih menyiapkan jalur menuju kawasan pegunungan, pesawat Boeing sudah lebih dahulu menyisir lereng-lereng Bulusaraung dari udara menggunakan sistem pengamatan yang dilengkapi kamera Wescam. Dari ketinggian sekitar 7.300 kaki, awak pesawat memeriksa setiap lekuk pegunungan, mencari kemungkinan adanya serpihan maupun perubahan bentuk vegetasi yang dapat mengindikasikan lokasi kecelakaan.
Hasil penyisiran itu mulai memperlihatkan petunjuk. Pada mulanya terlihat serpihan yang tersebar di lereng, kemudian bagian ekor pesawat. Temuan tersebut segera diteruskan kepada seluruh unsur SAR dalam bentuk koordinat agar dapat ditindaklanjuti melalui jalur darat maupun udara.
"Itulah yang diberikan dari pesawat Boeing ini. Informasi berupa koordinat kemudian diberikan kepada pesawat helikopter dan langsung diadakan penjemputan," kata Arifaini.
Koordinat yang dikirim dari udara kemudian mengubah arah operasi. Pencarian yang semula masih menyisir kawasan luas mulai dipusatkan di satu titik di lereng Gunung Bulusaraung. Tapi penemuan lokasi jatuhnya pesawat ternyata baru menjadi awal dari pekerjaan yang jauh lebih berat.
