Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DP3A: Banyak Anak di Makassar Tidak Sadar Jadi Korban Kekerasan Seksual
Ilustrasi kekerasan seksual (IDN times/Aditya Pratama)
  • DP3A Makassar mengungkap banyak anak korban kekerasan seksual tidak sadar telah dilecehkan, dengan kasus terbaru melibatkan pemilik warung di sekitar sekolah dasar Kecamatan Manggala.
  • Hasil asesmen menunjukkan 32 anak diduga menjadi korban, di mana pelaku memanfaatkan momen saat anak membeli jajanan dan menempatkan barang di rak tinggi untuk mendekati mereka.
  • DP3A mendampingi korban secara bertahap bersama tim TRC selama pemeriksaan di Polrestabes Makassar serta menyiapkan layanan konseling Puspaga agar pemulihan psikologis berjalan hati-hati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar menyebut banyak anak yang menjadi korban kekerasan seksual tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi korban. Kondisi serupa juga ditemukan dalam kasus dugaan pencabulan oleh seorang pemilik warung di salah satu SD di Kecamatan Manggala.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengatakan banyak korban baru mengungkapkan kejadian yang dialaminya setelah diperiksa. Dalam kasus tersebut, pengakuan itu muncul setelah DP3A bersama pihak sekolah dan keluarga mengasesmen serta pendalaman terhadap para korban.

"Karena anak-anak ini tidak sadar bahwa pelecehan seksual. Dia pikir biasa ji begitu dipegang-pegang," kata Ita, Selasa (21/7/2026).

1. Banyak korban baru bercerita saat pendalaman kasus

Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Aditya Pratama)

Ita menjelaskan sebagian anak baru berani menceritakan pengalaman mereka kepada guru maupun orang tua setelah kasus tersebut mulai terungkap. Bahkan, ada korban yang mengaku mengalami kejadian serupa lebih dari satu kali, namun tidak pernah menyampaikan kepada siapa pun sebelumnya.

"Pelaku ini adalah pemilik warung depan sekolah. Setiap anak-anak ke situ belanja, itulah dia lakukan pelecehan seksual," katanya.

Menurut Ita, pengakuan para korban terus bertambah selama proses pendampingan berlangsung. Berdasarkan hasil asesmen DP3A bersama pihak sekolah dan keluarga, jumlah anak yang diduga menjadi korban mencapai 32 orang.

2. Dugaan terjadi saat anak membeli jajanan di warung

Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times)

Ita menjelaskan terduga pelaku diduga menjalankan aksinya saat anak-anak datang membeli jajanan di warung miliknya. Sebagian besar korban merupakan siswa yang berbelanja di lokasi tersebut.

Menurut dia, barang dagangan yang sering dibeli anak-anak diduga sengaja diletakkan di rak bagian atas. Kondisi itu diduga dimanfaatkan pelaku untuk mendekati para korban.

"Di atas yang tidak bisa dijangkau anak-anak. Jadi dengan cara itu dia gendong," kata Ita.

3. Korban didampingi bertahap selama proses pemeriksaan

Ilustrasi kekerasan seksual. (IDN Times/Aditya Pratama)

Korban diduga berasal dari berbagai jenjang kelas di sekolah tersebut. Karena itu, DP3A mendampingi secara bertahap agar proses pemeriksaan tidak membebani kondisi psikologis anak.

Ita pun mengatakan pihaknya membawa sekitar lima korban setiap hari ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar. Setiap anak didampingi oleh tim Trauma Recovery Center (TRC) selama menjalani pemeriksaan hingga berita acara pemeriksaan (BAP) selesai.

"​Setiap korban didampingi oleh satu tim TRC kami, dan kami juga dampingi mereka sampai BAP-nya selesai. Dan ini sudah masuk ke hari ini hari ketiga ya dari sekian korban," katanya.

4. DP3A minta penanganan kasus berjalan hati-hati

ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Mardya Sakti)

Selain mendampingi proses hukum, DP3A juga menyiapkan layanan konseling melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Layanan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat peristiwa yang dialami.

Ita meminta penanganan kasus berlangsung secara hati-hati, terutama dalam penyebaran informasi kepada publik. Menurut dia, hal itu penting agar tidak mengganggu proses penyidikan maupun pendampingan terhadap para korban.

"Cuma sampai sekarang belum ada yang muncul konseling, tapi kita tetap meminta mereka karena mungkin kasus BAP dulu mereka konsentrasi," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article