Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bejat! Kakek Pemilik Warung di Makassar Diduga Cabuli 32 Anak SD

Bejat! Kakek Pemilik Warung di Makassar Diduga Cabuli 32 Anak SD
Kantor Polrestabes Makassar. IDN Times/Darsil Yahya
Intinya Sih
  • Seorang kakek berinisial MD (60), pemilik warung di Makassar, ditahan polisi atas dugaan mencabuli 32 anak SD di Kecamatan Manggala.
  • Korban terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan kelas 1 hingga 6, dengan modus pelaku melakukan pelecehan saat anak-anak membeli jajanan di warungnya.
  • Kasus ini sempat terhenti karena laporan pertama dicabut, namun kembali dibuka setelah pendampingan DP3A mengungkap jumlah korban yang terus bertambah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Sebanyak 32 anak Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diduga menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh seorang Kakek berinsial MD (60). Pelaku kini telah ditahan di Mapolrestabes Makassar.

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Makassar, Iptu Ariyanto, mengatakan MD telah ditahan sejak Jumat (17/7/2026).

"Iya betul ada masuk laporan polisinya, pelakunya sudah ditahan," kata Ariyanto kepada IDN Times, Senin (20/7/2026).

1. Korban mencapai 32 orang anak

Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Aditya Pratama)

Kasus dugaan pencabulan ini terungkap pada Juni 2026 saat tiga siswi SD mengaku menjadi korban pencabulan yang diduga dilakukan oleh terduga pelaku. Saat itu, orang tua korban sempat membuat laporan ke Polrestabes Makassar, namun kemudian dicabut oleh orang tua korban sehingga proses hukum tidak berlanjut.

Kasus ini kembali mencuat setelah DP3A Kota Makassar melalui Shelter Warga Antang memberikan pendampingan kepada para korban dan keluarganya. Dari proses pendataan, terungkap jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 32 siswa.

2. Korbannya anak laki-laki dan perempuan

Sekretaris Shelter Warga Antang DP3A Kota Makassar, Fony Hataul (48). IDN Times/Darsil Yahya
Sekretaris Shelter Warga Antang DP3A Kota Makassar, Fony Hataul (48). IDN Times/Darsil Yahya

Sekretaris Shelter Warga Antang DP3A Kota Makassar, Fony Hataul (48) mengatakan, terduga pelaku merupakan seorang pemilik warung di depan sekolah korban.

"Korbannya, anak perempuan dan laki-laki. Kelas 1 sampai kelas 6," ucap Fony saat ditemui di Mapolrestabes saat mendampingi lima orang tua korban untuk membuat laporan polisi.

Fony menjelaskan, terduga pelaku menjalankan aksi bejatnya saat korban membeli jajanan di warung milik pelaku saat jam istrihat atau jam pulang sekolah. Ada korban yang digendong hingga diraba-raba bagian tubuhnya.

"Hampir semua korbannya mengalami trauma, apalagi mereka anak-anak," ungkapnya.

3. Laporan pertama sempat dicabut karena diduga atur damai

Ilustrasi kekerasan seksual (IDN times/Aditya Pratama)
Ilustrasi kekerasan seksual (IDN times/Aditya Pratama)

Sementara itu, SH (45) ibu salah satu korban mengaku kasus ini heboh di lingkungan sekolah karena ada laporan terdapat tiga siswa yang yang diduga melangami pelecehan, Hingga akhirnya ia bertanya ke anaknya mengenai kebenaran informasi tersebut.

Awalnya sang anak tidak mau mengakui karena merasa takut, justru para korban menceritakan semuanya ke gurunya, hingga akhirnya kasus ini terungkap.

"Kita sebagai orang tua itu bolak balik nanya waktu akhir bulan lima ke anak-anak tapi mereka tidak ada yang mengaku dan ternyata anak-anak justru mengaku ke guru hingga gurunya yang memberitahu kami," ujarnya.

Pihak sekolah kemudian mengadakan pertemuan pertama pada 2 Juni 2026. Dari pertemuan itu orang tua korban diarahkan ke Shelter DP3A Kota Makassar untuk mendapatkan pendampingan. Selanjutnya orang tua korban ke Polrestabes Makassar untuk membuat laporan sambil melakukan konseling di PPA.

‎"Tiba-tiba kalau nggak salah waktu hari Rabu dikasih tahu bahwa si pelaku ini keluar, ternyata baku atur damai dengan pelapor yang pertama," kata SH.

‎Tak terima dengan adanya dugaan atur damai, pihak sekolah mengadakan lagi pertemuan kedua yang dihadiri pejabat kepala sekolah yang baru, PPA, RW dan Shelter DP3A Kota Makassar, kemudian diarahkan lagi membuat laporan baru.

‎‎"Akhirnya hari Jumat diaturlah jadwal kita bikin laporan baru dan disitu ada tiga laporan yang setau saya, kalau dari pertemuan-pertemuan itu ada sekitar 32 nama, tapi yang baru terdaftar di PPA baru ada 23," ungkapnya.

SH mengungkapkan, ada dua anaknya yang menjadi korban, usia 9 tahun dan 10 tahun. Anak pertamanya melapor ke gurunya bahwa ikut menjadi korban Pencabulan MD. Kini kedua anaknya telah mendapatkan pendampingan spikolog.

"Saat pulang ke rumah dia baru nangis cerita bahwa dia jadi korban," ujarnya.

Dia menambahkan, modus terduga pelaku melakukan pencabulan saat korban belanja di warung, di mana terduga pelaku pura-pura menggendong korban yang tidak bisa menggapai rak jualan pelaku.

‎"Kalau belanja sendiri-sendiri itu kalau mereka mau ngambil di rak yang tinggi itu sama bapaknya ditawari untuk digendong atau diangkat, tapi anaknya tidak mau. Nah caranya itu tangan kanannya di pinggang, tangan kiri di kelamin si anak-anak ini, kebanyakan modusnya begitu," tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sulawesi Selatan

See More