DLH Makassar Genjot Edukasi ke Masyarakat soal Pilah Sampah dari Rumah

- Pemerintah Kota Makassar akan menerapkan sistem baru pengelolaan sampah mulai 1 Agustus 2026, di mana TPA Tamangapa hanya menerima sampah residu.
- DLH Makassar menggencarkan edukasi dan Program Jelajah Sampah untuk mengajak warga memilah serta mengurangi sampah rumah tangga sejak dari sumbernya.
- DLH mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dan memperkuat bank sampah agar tercipta ekonomi sirkular serta nilai ekonomi dari pengelolaan sampah.
Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar terus mempersiapkan penerapan sistem baru pengelolaan sampah yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026. Mulai tanggal tersebut, TPA Tamangapa hanya akan menerima sampah residu, sementara sampah organik dan sampah yang masih dapat didaur ulang diharapkan telah dikelola sejak dari sumbernya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Di sisi lain, DLH juga memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu.
"Karena itu edukasi kepada masyarakat menjadi sangat penting agar proses pemilahan sampah sudah dilakukan sejak dari rumah," kata Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, Jumat (17/7/2026).
1. Pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga

Helmy menjelaskan perubahan sistem pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pembenahan TPA. Menurutnya, pemerintah juga mendorong masyarakat mulai memilah sampah sejak dari rumah.
Helmy mengatakan transformasi sistem ini bertujuan mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA. Dengan demikian, yang dikirim ke TPA nantinya hanya sampah residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan atau diolah kembali.
"Karena persoalan sampah di Kota Makassar bukan hanya soal pembenahan sistem, pemilahan maupun pengolahan, tetapi juga bagaimana kita memiliki data yang akurat mengenai pengelolaan sampah," katanya.
2. Program Jelajah Sampah jadi media edukasi warga

Sebagai bagian dari sosialisasi, DLH menggencarkan Program Jelajah Sampah di berbagai kecamatan. Program tersebut tidak hanya mengajak masyarakat membersihkan lingkungan, tetapi juga mengenalkan pemilahan sampah, pengurangan sampah rumah tangga, hingga konsep ekonomi sirkular.
Menurut Helmy, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Setiap pelaksanaan kegiatan rata-rata diikuti sekitar 500 peserta.
"Animo masyarakat cukup tinggi. Ini menunjukkan semangat masyarakat sudah mulai berubah. Mereka lebih ingin tahu dan lebih peduli terhadap pengelolaan sampah," katanya.
3. Sampah diharapkan menjadi sumber nilai ekonomi

DLH juga mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan untuk urban farming. Selain itu, bank sampah mulai membeli hasil olahan masyarakat seperti kompos dan kasgot sebagai bentuk insentif agar warga semakin aktif memilah sampah.
Helmy berharap perubahan sistem ini melahirkan paradigma baru di tengah masyarakat bahwa sampah bukan lagi sekadar barang buangan, melainkan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Dia juga optimistis langkah tersebut akan mendukung target penghentian praktik open dumping di Kota Makassar.
"Kalau sampah organik sudah dikelola, hasilnya bisa menjadi kompos. Kompos ini bisa dimanfaatkan untuk tanaman dan urban farming. Dari situ kami berharap tercipta ekonomi sirkular di masyarakat," katanya.















![[CEK FAKTA] Benarkah Basri Kajang Ditangkap Terkait Korupsi di Gowa?](https://image.idntimes.com/post/20250905/upload_fc8e899744468f849856dffec892bd8b_98b1d504-1079-497e-b1d9-b55bd29e8ff4.jpeg)



