Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dinkes Sulsel: Imunisasi adalah Pencegahan Penyakit, Bukan Pengobatan

1001378561.jpg
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)
Intinya sih...
  • Imunisasi ibarat payung saat hujan, mengurangi risiko penyakit tiba-tiba tanpa peringatan
  • Manfaat imunisasi sulit terlihat tapi penting untuk pencegahan, sering diragukan masyarakat
  • Banyak hoaks menyangkut imunisasi, media massa diminta bantu tingkatkan kesadaran masyarakat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Imunisasi menjadi langkah pencegahan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Meski manfaatnya tidak langsung terlihat seperti pengobatan penyakit, imunisasi mempersiapkan tubuh agar mampu mengenali penyakit sebelum terjadi infeksi.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar, Sabtu (29/11/2025). Dia menegaskan imunisasi bukan pengobatan ketika penyakit sudah terjadi. 

"Imunisasi bukan pengobatan. Tapi imunisasi berada di pencegahan sehingga konsepsi pencegahannya, di mana-mana pun kita bicara. Ketika kita berbicara sebuah metodologi pencegahan, maka itu kita susah mengukur output-nya," kata Yusri.

1. Imunisasi ibarat payung saat hujan

ilustrasi imunisasi (unsplash.com/CDC)
ilustrasi imunisasi (unsplash.com/CDC)

Yusri mengibaratkan imunisasi ibarat payung saat hujan. Payung tidak bisa menjamin tubuh tetap kering, tapi setidaknya mengurangi risiko basah. Hal ini, menurutnya, merupakan bentuk ikhtiar dalam menjalani kehidupan.

"Kalau hujan kita pakai payung, kan? Kalau pakai payung, Anda jamin tidak akan basah? Tetap basah. Tetapi basahnya bisa kita antisipasi, minimal kaki. Imunisasi kira-kira seperti itu," kata Yusri.

Jika seseorang tidak diimunisasi, maka penyakit bisa datang tiba-tiba dan menyerang tubuh tanpa peringatan. Namun, bagi yang sudah diimunisasi, tubuh sudah mengenali penyakit sehingga langkah-langkah pencegahan berikutnya bisa lebih mudah diantisipasi.

2. Manfaat imunisasi sulit terlihat tapi penting untuk pencegahan

ilustrasi imunisasi polio (dok. Kemenkes)
ilustrasi imunisasi polio (dok. Kemenkes)

Yusri menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak langsung terlihat, sehingga sulit diukur secara kasat mata. Kondisi ini membuat masyarakat sering meragukan efektivitas pencegahan melalui vaksin.

"Banyak orang bertanya, kenapa harus divaksin kalau anak sehat? Padahal tujuan imunisasi adalah mempersiapkan tubuh menghadapi penyakit sebelum terinfeksi," kata Yusri.

Selain itu, banyak orang menganggap bahwa setelah imunisasi, tubuh tidak akan lagi merasakan sakit. Persepsi ini membuat sebagian masyarakat meremehkan pentingnya pencegahan melalui vaksin.

"Yang terjadi kemudian akan menjadi sebuah dinamika di masyarakat, karena efek pencegahan itu pada rasa dan raga tidak terlalu nampak. Jangan salah, imunisasi itu output-nya ikhtiar," kata Yusri.

3. Banyak hoaks menyangkut imunisasi

Ilustrasi imunisasi vaksin COVID-19. IDN Times/Arief Rahmat
Ilustrasi imunisasi vaksin COVID-19. IDN Times/Arief Rahmat

Kondisi ini juga ditambah dengan hoaks yang tidak terbendung. Menurut Yusri, sebagian besar hoaks yang beredar di masyarakat lahir dari ketidaktahuan internal warga itu sendiri. Hoaks tidak selalu berasal dari pihak luar, melainkan sering muncul dari kebingungan dan salah paham di dalam komunitas.

"Sekitar 60 persen hoaks bersumber dari kebingungan internal masyarakat sendiri. Saya contohkan ya, seorang pasien masuk ke ruang isolasi dengan kasus TBC. Tanpa sepengetahuan petugas, orang lain masuk ke situ. Pola pikir seperti itu sering menciptakan narasi sendiri di masyarakat,” ujarnya.

Situasi serupa juga terjadi pada imunisasi. Beberapa orang mempertanyakan keberadaan vaksin, termasuk isu kandungan babi, padahal Indonesia telah memiliki norma hukum dan agama yang mengakui penggunaan vaksin dalam kondisi darurat. 

"Saat vaksin COVID-19 hadir, meski ada kandungan babi, negara menyatakan situasi darurat. Ilmu Fikih menjelaskan, jika darurat, maka penggunaan vaksin diperbolehkan," jelas Yusri.

Yusri pun meminta media massa untuk turut membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan melalui vaksinasi. Dia menekankan bahwa media berperan sebagai jembatan antara data ilmiah dan publik sehingga penyampaian informasi yang tepat dapat menepis hoaks dan membangun kepercayaan masyarakat pada imunisasi.

"Bantu kami sehingga masyarakat sadar bahwa hadirnya imunisasi bisa menurunkan angka kematian. Kalau berhenti diimunisasi, manfaatnya baru terasa saat kasus penyakit muncul. Itulah pentingnya imunisasi," kata Yusri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Tak Kuasa Menahan Emosi, Warga Bakar Mobil Pencuri Anjing di Minahasa

30 Nov 2025, 19:17 WIBNews