Makassar, IDN Times - Di bawah langit yang perlahan berubah jingga, beberapa petani belum beranjak dari tengah sawah di Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Lumpur membenamkan setengah betis mereka, sementara tangan-tangan terampil itu satu per satu menancapkan bibit padi ke petakan yang baru diairi.
Irama langkah kaki yang terjebak di lumpur menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Ceblak, ceblak, ceblak.
Petang itu, Senin, 8 Juni 2026, Abdul Rafik berdiri di pematang. Pemuda 26 tahun itu memandang hamparan yang belum benar-benar hijau. Batang-batang padi muda membentuk pola teratur yang di atas tanah-tanah basah.
Di Sidrap, salah satu sentra pangan utama Sulawesi Selatan, pemandangan seperti ini bukan hal baru. Musim tanam selalu menghadirkan kesibukan yang sama dari tahun ke tahun. Namun, jika telinga sedikit dipasang lebih peka, ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Bagi petani di wilayah sawah tanah hujan seperti di Duampanua, biasanya musim tanam di luar kalender penghujan identik dengan raungan mesin. Pompa berbahan bakar gas LPG bekerja tanpa henti menarik air dari perut bumi, dengan suara bising bersahut-sahutan yang memekakkan telinga.
Tapi pagi itu, di hamparan sawah Rafik, suasananya sangat sunyi. Dari ujung pipa PVC putih di dekat pematang tempat ia berdiri, air jernih mengalir deras membasahi lahan. Tak ada deru mesin putar, tak ada bau bahan bakar fosil. Itu sudah dirasakan sekitar dua tahun, sejak tiang-tiang PLN dengan kotak meteran prabayar berdiri membelah petak-petak sawah.
Air itu ditarik menggunakan mesin pompa celup yang digerakkan tenaga listrik. Air dimuntahkan dari lubang kedalaman di atas 60 meter, lalu disebarkan ke penjuru lahan tanam dengan bantuan selang. Satu titik sumur bor bisa menjangkau areal persawahan seluas lima hektare.
"Arus listrik lebih stabil. Beda dengan LPG. Dorongan mesinnya fluktuatif, kadang naik kadang turun," kata Rafik, berdiri sejenak untuk meluruskan pinggangnya. "Karena arusnya stabil kalau pakai listrik, debit air tidak berkurang selama proses pemakaian. Bahkan dipakai dua hari dua malam pun bisa."
Bagi petani muda yang sejak bangku sekolah dasar sudah terbiasa membantu orangtuanya di sawah, listrik kini punya arti yang berbeda. Bukan sekadar penerang rumah saat malam hari, melainkan cara baru untuk memangkas biaya produksi yang selama ini membebani petani.
Sebelum jaringan listrik masuk ke areal persawahan pada awal 2024, Rafik sangat bergantung pada pompa berbahan bakar gas. Padi yang baru ditanam butuh diairi sepanjang hari, setidaknya hingga dua bulan pertama. Persoalannya bukan hanya ongkos yang mahal, tetapi juga sulitnya mendapatkan tabung gas ketika musim tanam tiba.
Dulu, untuk menyedot air tanah ke sawahnya, Rafik bisa menghabiskan tiga hingga empat tabung gas Elpiji 3 kilogram dalam sehari semalam. Kelangkaan barang dan fluktuasi harga acap kali jadi tantangan. Apalagi gas itu memang tidak ditujukan untuk pertanian.
“Kalau memakai LPG bisa tembus Rp100 ribu, tergantung kondisi harga dan debit air," ungkap Rafik. Sekarang… untuk satu hari satu malam biaya listrik sekitar Rp40 ribu. Terus terang saja, biaya produksi kami sebagai petani menjadi lebih efektif, bahkan penghematannya bisa tembus 50 persen.”
Perubahan itu bukan hanya terasa di dompet, tetapi juga pada beban kerja para petani. Khaeruddin (32), Ketua Kelompok Tani Laonrumae, masih ingat betul bagaimana beratnya bertani di musim kemarau sebelum listrik masuk ke sawah mereka.
"Kalau dulu harus mencari tabung, memikul mesin ke sawah," Khaeruddin terkekeh getir.
Bukan sekadar lelah fisik, membiarkan aset berharga di tengah sawah pada malam hari adalah pertaruhan besar. "Ada (ancaman kehilangan). Biasanya hilang itu mesin atau tabung," tambahnya.
Ia memandang hamparan lahan seluas 27 hektare yang digarap 31 anggota kelompok tani yang dipimpinnya. Pompa digunakan bergiliran dan dirasakan manfaatnya oleh para petani. “Sekarang tinggal membawa selembar kertas voucher dan menekan tombol. Selesai.”
