Ramah Lingkungan, Buka Puasa di Masjid Al-Markaz Kini Bebas Plastik

- Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar menyiapkan 1.200 porsi buka puasa setiap hari dengan sistem kupon agar pembagian makanan berlangsung tertib dan merata bagi seluruh jemaah.
- Proses memasak dilakukan oleh belasan relawan di dapur tenda sejak siang, menghadapi tantangan cuaca namun tetap menjaga ritme kerja hingga waktu berbuka tiba.
- Tahun ini panitia mengganti kemasan plastik dengan kertas dan daun, membuat area masjid lebih bersih serta mendukung kebiasaan ramah lingkungan selama Ramadan.
Makassar, IDN Times - Ramadan tahun ini, Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar kembali menggelar program pembagian buka puasa dengan target 1.200 porsi setiap hari. Tak hanya berbagi makanan, panitia merancang alur pembagian agar tertib dan nyaman bagi semua jemaah.
Sebelum azan Magrib berkumandang, jemaah diarahkan ke ruangan khusus untuk menikmati takjil. Suasana hangat akan terasa azan Magrib berkumandang sebagai tanda masuknya waktu berbuka puasa. Para jemaah akan menyantap menu takjilnya. Tak lama kemudian, mereka bergegas menunaikan salat Magrib berjemaah.
Di tangan mereka sudah ada kupon kecil-kunci untuk mendapatkan paket makan malam. Seusai salat Magrib berjemaah, kupon tersebut ditukarkan dengan paket makanan yang telah disiapkan panitia.
"Kupon dibagikan terlebih dahulu agar pembagian makanan lebih tertib dan merata," kata Nanissa Suwarni, selaku Koordinator Kegiatan, dikutip Senin (2/3/2026).
1. Dapur di bawah tenda

Di balik kelancaran pembagian 1.200 porsi setiap hari, ada kerja kolektif belasan orang. Satu juru masak memimpin proses produksi di dapur utama, dibantu sebelas orang yang menangani masakan inti. Enam orang lainnya fokus menyiapkan dan membungkus takjil.
Aktivitas memasak sudah dimulai sejak siang hari. Dengan begitu, semua menu diharapkan sudah selesai sebelum waktu berbuka puasa.
Namun, tantangan terbesar bukan pada jumlah porsi, melainkan cuaca. Dapur yang masih berupa tenda membuat tim harus berhadapan langsung dengan hujan dan angin.
"Kalau hujan dan angin memang sedikit memengaruhi, tapi di luar itu tidak ada kendala berarti," jelas Nanissa.
Meski demikian, ritme kerja tetap terjaga. Saat waktu berbuka semakin dekat, ratusan bungkus nasi tersusun rapi, siap dibagikan setelah jemaah menukarkan kupon.
2. UPaya mengurangi jejak plastik

Ada yang berbeda dari Ramadan kali ini. Jika sebelumnya kemasan plastik dan boks mika kerap menumpuk di tempat sampah, maka kini panitia memilih pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Setiap porsi nasi dikemas menggunakan kertas nasi yang dilapisi daun. Setelah disantap, kemasan bisa langsung dibuang tanpa menyisakan banyak limbah plastik.
"Kami menghindari penggunaan plastik seperti boks atau kemasan mika karena sampahnya sangat banyak," kata Nanissa.
3. Area lebih bersih dan tertata

Langkah sederhana itu pun membawa perubahan suasana di akhir waktu berbuka. Area masjid tetap bersih, sampah lebih mudah dikelola, dan kesadaran menjaga lingkungan tumbuh bersama kebiasaan berbagi.
"Dengan kemasan daun dan kertas, selesai makan bisa langsung dibuang tanpa menyisakan banyak sampah plastik," kata Nannisa.
Program buka puasa ini tidak hanya menjadi ajang berbagi makanan, tetapi juga mencerminkan kepedulian sosial sekaligus upaya mengurangi limbah selama Ramadan.


















