Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPBD Makassar Siapkan Hampir Rp1 M dari BTT untuk Atasi Kekeringan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar. IDN Times/Asrhawi Muin
  • BPBD Makassar menyiapkan hampir Rp1 miliar dari Belanja Tidak Terduga untuk penanganan awal kekeringan setelah status tanggap darurat ditetapkan sejak 7 Agustus 2026.
  • Dana digunakan untuk tandon, distribusi air bersih, BBM, dan operasional. Masa tanggap darurat awal berlangsung 14 hari, dengan kemungkinan pengajuan anggaran tahap lanjutan.
  • Pemkot memperkuat Kelurahan Tangguh Bencana untuk mengelola tandon dan sumur dalam, sementara BPBD menyalurkan air bersih ke sekitar 20-30 titik per hari bersama lintas instansi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menyiapkan anggaran hampir Rp1 miliar dari Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan awal bencana kekeringan. Anggaran tersebut disiapkan setelah Pemerintah Kota Makassar menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sejak 7 Agustus 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan dana BTT akan digunakan untuk mendukung penanganan kekeringan. Anggaran tersebut disiapkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan di lapangan.

"Kita lihat ini karena ada beberapa, kurang lebih kita pembelian tandon untuk distribusi nanti, ada untuk penyaluran terutama nanti untuk seperti BBM dan sebagainya, ya kurang lebih hampir Rp1 miliar untuk tahap awal," kata Fadli, Rabu (26/8/2026).

1. Anggaran BTT digunakan untuk penanganan awal

ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Fadli, penggunaan anggaran tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan penanganan di lapangan. BPBD berupaya mengoptimalkan dana yang tersedia agar intervensi kepada masyarakat terdampak dapat berjalan efektif.

Fadli menjelaskan status tanggap darurat memiliki periode awal selama 14 hari. Apabila kondisi kekeringan masih membutuhkan penanganan setelah periode tersebut berakhir, pemerintah dapat mengajukan anggaran untuk tahap berikutnya.

"Karena di BTT itu, Tanggap Darurat itu waktunya cuma 14 hari saja. Nanti pada saat habis, lagi kita kalau dirasa masih perlu, kita lanjutkan lagi tahap kedua, tahap ketiga, tahap keempat nanti," katanya. 

Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk penyediaan tandon, distribusi air bersih, dan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Dana itu juga dialokasikan untuk mendukung kebutuhan operasional lainnya dalam penanganan kekeringan.

2. Kaltana disiapkan agar warga mandiri air

Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Selain penanganan jangka pendek melalui distribusi air bersih, Pemkot Makassar juga menyiapkan strategi jangka panjang. Upaya ini diarahkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan mobil tangki.

Salah satunya melalui penguatan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). Program tersebut akan melibatkan kelompok masyarakat di setiap kelurahan untuk membantu mengelola sumber air yang nantinya tersedia di wilayah mereka.

Fadli mengatakan Kaltana akan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat. Program tersebut diarahkan untuk membantu warga menghadapi kekeringan secara mandiri.

"Di setiap kelurahan ini kita buat kelompok masyarakat, penggiat kebencanaan. Mereka nanti yang akan mengelola," katanya.

3. Sumur dalam disiapkan sebagai sumber air alternatif

Tandon untuk bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan, Rabu (26/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Menurut Fadli, keberadaan Kaltana akan semakin penting ketika sumber air alternatif seperti sumur dalam dan tandon telah tersedia. Masyarakat diharapkan dapat mengelola dan memanfaatkan sumber air tersebut secara mandiri.

"Kita tinggal menyiapkan tandon-tandon di tiap titik itu dan sumur bornya, sumur dalam, yang air akan tersedia di sana," katanya.

Saat ini, BPBD juga menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak dengan sasaran sekitar 20-30 titik setiap hari. Penanganan melibatkan sejumlah stakeholder, termasuk Damkarmat, PDAM, DLH, PMI, kecamatan, dan TNI.

Curated For You

Editorial Team

Related Article