Mengenal Ali Malaka, Sang Pejuang yang Bukan Sekadar Nama Jalan

- Ali Malaka, bernama lengkap Muhammad Ali Malaka Amahoru, adalah keturunan bangsawan Maluku yang tumbuh di Makassar dan memakai marganya untuk melindungi keluarga dari intelijen Belanda.
- Pada revolusi fisik 1945–1949, ia memimpin Pemuda Tanete dalam LAPRIS serta menyusun serangan gerilya sporadis terhadap fasilitas NICA dan KNIL di Makassar.
- Ali Malaka menjadi buruan Kapten Raymond Westerling, lalu tertangkap setelah rencana menuju Surabaya bocor; ia tertembak di Kampung Baru dan dieksekusi pasukan Belanda.
Makassar, IDN Times - Bagi warga Kota Makassar, Ali Malaka bisa berarti satu hal. Ini adalah nama salah satu ruas jalan strategis di kawasan perkotaan yang menghubungkan area komersial Pantai Losari dan pemukiman di sekitar Kecamatan Ujung Pandang. Suasananya bisa dibilang ramai nyaris selama 24 jam, terutama ketika akhir pekan tiba.
Namun, di balik hiruk pikuk lalu lintas jalan tersebut, belum banyak yang mengetahui secara mendalam sosok Ali Malaka. Padahal, ia termasuk sosok yang berjasa besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan (Sulsel). Ali Malaka bahkan menjadi rekan untuk beberapa sosok penting seperti Ranggong Daeng Romo dan Wolter Mongisidi.
1. Lahir sebagai keturunan bangsawan Maluku, Ali Malaka berjuang di Sulawesi Selatan

Suasana Jalan Passarstraat (kini Jalan Nusantara) di Kota Makassar antara 1930 hingga 1942. (Collectie Wereldmuseum, part of the National Museum of World Cultures) Identitas Ali Malaka sempat menjadi misteri. Barulah belakangan terungkap bahwa nama lengkapnya adalah Muhammad Ali Malaka Amahoru. Ia lahir di Negeri Iha, Saparua, Maluku Tengah, dan memiliki garis keturunan bangsawan Raja Negeri Iha. Sejak kecil ia diboyong ke Makassar oleh pamannya dan tumbuh besar di kawasan Somba Opu serta Kampung Pisang (kini Kelurahan Pisang Selatan). Penggunaan nama "Ali Malaka" menyertakan nama marga disengaja demi melindungi keselamatan seluruh anggota keluarganya dari kejaran intelijen Belanda.
Masuk era revolusi fisik setelah Indonesia merdeka (1945-1949), Ali Malaka merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional dan pejuang kemerdekaan. Ia aktif terlibat dalam gerakan kepemudaan dan perjuangan bersenjata, sekaligus menyingkir ke hutan untuk bergabung bersama para gerilyawan.
2. Aktif merencanakan taktik penyerangan sporadis ke fasilitas militer KNIL dan NICA di Makassar

Suasana parade militer di Kota Makassar untuk merayakan Hari Ratu Wilhelmina pada 1948. (Collectie Wereldmuseum, part of the National Museum of World Cultures) Dalam pergerakan gerilya, Ali Malaka menjadi salah satu kolega erat dari pahlawan nasional Robert Wolter Mongisidi. Dalam buku "Propinsi Sulawesi" (Kementerian Penerangan, 1956), ini terjadi sebab Ali Malaka masuk dalam jajaran pemimpin Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Organisasi yang membawahi seluruh laskar gerilyawan di Sulawesi Selatan ini dibentuk pada 17 Juli 1946. Saat itu, Ali Malaka menjadi pemimpin kelompok Pemuda Tanete.
Namun, jauh sebelum menjadi anggota LAPRIS, Ali Malaka turut aktif menyusun taktik penyerangan ke fasilitas pasukan NICA dan KNIL di wilayah Kota Makassar secara sporadis sejak akhir 1945. Para pejuang waktu itu disebut melakukan gerilya dengan persenjataan dan peluru terbatas hasil rampasan dari Jepang. Ini membuat mereka mengandalkan taktik hit-and-run (serang dan kabur) demi menurunkan mental dan menciptakan rasa tidak aman di kalangan militer Belanda.
3. Ali Malaka menjadi salah satu target buruan Kapten Westerling dalam operasi milternya

Kapten Raymond Westerling, perwira militer Belanda yang ditugaskan di Sulawesi Selatan pada 1946 hingga 1947. (dok. Wikimedia Commons) Reputasi Ali Malaka sebagai sebagai salah satu pimpinan gerilya pemuda membuatnya menjadi salah satu buruan Kapten Raymond Westerling dalam Operasi Kraai (Desember 1946-Februari 1947. Dalam buku "Sulawesi dan Pahlawan-Pahlawannya" (Yayasan Kesejahteraan Generasi Muda Indonesia, 1977), Westerling dan pasukannya mendatangi Kampung Kalukuang pada 14 Desember 1946. Mereka mengumpulkan warga dan memaksa mereka menunjuk siapa yang bernama Ali Malaka. Karena tidak ada warga yang mau membuka suara, aksi penembakan brutal pun terjadi.
Namun, Ali Malaka akhirnya berhasil diringkus dalam sebuah operasi penghadangan. Ia dan sejumlah gerilyawan berencana menyeberang menuju Surabaya lewat jalur laut berkonsolidasi dengan pasukan Bung Tomo, tetapi rencana tersebut bocor ke intelijen Belanda. Ali Malaka tertembak di bagian paha di kawasan lorong Kampung Baru, sebelum akhirnya ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan Belanda.
Dengan sumbangsih perjuangan yang tak kalah besarnya, Ali Malaka jelas bukan sekadar nama jalan biasa. Dirinya berada di jajaran pejuang setelah Proklamasi Kemerdekaan yang berusaha menegaskan eksistensi Republik Indonesia dari upaya Belanda kembali mencengkeram.



















