Nobar Film SOLATA di Makassar Sambil Donasi untuk Korban Gempa NTT

- PEMBIS dan Darut Tauhid Peduli menggelar nobar SOLATA di CGV Panakkukang Square, Makassar, 3 September 2026; tiket Rp150 ribu mencakup konsumsi serta donasi korban gempa NTT.
- SOLATA mengisahkan relawan guru dari Jakarta di Ollon, Toraja, yang menemukan masalah program Kelas Jauh; film ini mengangkat ketimpangan pendidikan dan kehidupan di pedalaman.
- Setelah diputar di Yordania dan Bulgaria, SOLATA dijadwalkan menjadi headline ASEAN Plus Three Film Festival di Praha pada 7–14 September 2026, dengan pemutaran 11 September.
Makassar, IDN Times - Pengusaha Menulis Buku Indonesia (PEMBIS) bekerja sama dengan Darut Tauhid Peduli akan menggelar nonton bareng film SOLATA di Makassar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mendukung industri film nasional, tetapi juga dirangkaikan dengan penggalangan donasi untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Film SOLATA: Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih berkisah tentang Angkasa, relawan guru dari Jakarta, yang melakukan perjalanan ke Ollon, Toraja. Di sana, ia mendapati program Kelas Jauh tidak berjalan sebagaimana mestinya dan bertemu enam murid yang nama depannya menyerupai nama-nama presiden Indonesia, yakni Karno, Harto, Wahid, Bambang, Mega, dan Habibie.
1. Nobar sekaligus berdonasi untuk korban gempa NTT

Nonton bareng film SOLATA sekaligus donasi korban gempa NTT. (Dok. Istimewa) Nonton bareng film SOLATA akan digelar di CGV Panakkukang Square, Makassar, pada 3 September 2026 pukul 15.30 WITA. Tiket dibanderol Rp150 ribu dan sudah termasuk tiket menonton, snack, minuman, sekaligus donasi untuk korban gempa di NTT.
Sutradara sekaligus produser film SOLATA, Ichwan Persada, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengatakan pihaknya ikut tergerak untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana di NTT.
“Kami ikut tergerak untuk berpartisipasi ambil bagian dalam meringankan beban saudarasaudara kita di NTT. Saya juga senang karena kegiatan ini juga lintas sektor dan agama sehingga bisa diikuti siapa saja,” ujar Ichwan dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Ketua Umum PEMBIS, Heny Suhaeny, mengatakan kegiatan seperti ini perlu terus digalakkan. Menurutnya, nonton bareng SOLATA sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan mendukung industri film nasional.
“Melalui nobar film SOLATA tak saja menjadi cara kami mendukung industri film nasional sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia ke masyarakat luas. Dan nilai plus lainnya adalah kita juga berdonasi melalui kegiatan ini yang akan disalurkan langsung ke saudara-saudara kita di NTT,” jelasnya.
2. SOLATA tembus festival film di Yordania

Proses syuting film SOLATA di bukit Ollon, Tana Toraja. (Dok. Istimewa) Selain mengangkat persoalan pendidikan di pedalaman Indonesia, SOLATA juga terus mendapat kesempatan tampil di festival film internasional. Film yang dibintangi Rendy Kjaernett, Rachel Natasya, dan Fhail Firmansyah itu baru saja diputar dalam Jordan Children and Youth’s Film Festival di Yordania pada 18 Agustus 2026.
Kehadiran SOLATA dalam festival tersebut mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman. Film ini dinilai memberikan gambaran mengenai ketimpangan pendidikan dan kondisi kehidupan di negara berkembang.
Sebelumnya, SOLATA juga telah diputar di Sofia Menar Film Festival, Bulgaria, dan meraih penghargaan khusus di Golden FEMI Film Festival, Bulgaria. Setelah tampil di Yordania, film tersebut kembali melanjutkan kiprahnya ke festival internasional berikutnya.
3. Jadi salah satu headline festival di Praha

Sutradara sekaligus produser film SOLATA, Ichwan Persada. (Dok. Istimewa) SOLATA dijadwalkan hadir dalam ASEAN Plus Three Film Festival yang berlangsung di Praha, Cekoslowakia, pada 7-14 September 2026. Film yang menjadi debut penyutradaraan film panjang Ichwan Persada itu bahkan menjadi salah satu headline festival dan adegan dari film tersebut digunakan sebagai latar poster resmi festival.
Film SOLATA dijadwalkan diputar pada 11 September 2026 di Municipal Library of Prague. Film tersebut akan hadir bersama karya dari Myanmar, China, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Ichwan mengaku bersyukur atas apresiasi yang terus datang dari festival film internasional. Ia berharap SOLATA masih mendapat kesempatan tampil dalam sejumlah festival berskala internasional hingga akhir tahun.
“Minimnya apresiasi dari festival dalam negeri ternyata justru dibalas oleh undangan dari festival demi festival internasional di luar negeri. Ini bukan balas dendam tentunya. Tapi paling tidak bisa jadi catatan bagi penyelenggara festival dalam negeri untuk memisahkan popularitas film dan para pembuat/pemerannya dari kualitas karyanya,” ujar Ichwan.
Kehadiran SOLATA di ASEAN Plus Three Film Festival juga mendapat dukungan penuh dari KBRI Praha. Bagi Ichwan, rangkaian undangan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi perjalanan film yang mengangkat persoalan pendidikan di pedalaman Indonesia itu.



















