Banjir di Soppeng: 8.000 Warga Terdampak, 6.000 Hektare Sawah Rusak

- Banjir di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, merusak ribuan rumah dan lahan pertanian sekitar 6.000 hektare
- Sebanyak 8.000 orang terdampak banjir, dengan Kelurahan Cabbenge menjadi wilayah yang paling parah terendam
- Pemerintah daerah dan provinsi memberikan bantuan sembako, air bersih, logistik, serta komitmen memperbaiki infrastruktur rusak
Makassar, IDN Times - Banjir yang melanda Kabupaten Soppeng sejak Minggu, 22 Desember 2024, memberikan dampak besar bagi warga setempat. Ribuan rumah terendam, infrastruktur rusak, dan lahan pertanian gagal tanam.
Pj Gubernur Sulawesi Selatan, Zudan Arif Fakrulloh, menyatakan banjir ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Soppeng. Kondisi ini diperparah dengan kiriman air dari Kabupaten Bone, yang menyebabkan debit sungai meluap.
"Kita sama-sama melihat dari hulunya semua, ujungnya yang ada di Bone (penyebabnya), kemudian curah hujannya yang tinggi," kata Zudan saat mengunjungi wilayah tersebut, Senin (23/12/2024).
1. Sekitar 6.000 hektare lahan pertanian gagal tanam

Banjir mengakibatkan kerusakan parah pada sektor pertanian, dengan sekitar 6.000 hektar lahan pertanian gagal tanam. Petani yang tergantung pada hasil panen kini terancam mengalami kerugian besar. Sekitar 8.000 orang diperkirakan terdampak.
Kelurahan Cabbenge jadi salah satu wilayah yang paling parah dengan lebih dari 300 rumah terendam. Banyak rumah, yang sebagian besar berbentuk rumah panggung, terendam hingga ketinggian yang cukup signifikan.
Salah seorang warga, Andi Satriawan, mengatakan bahwa sebagian ternaknya hanyut terbawa banjir. Namun, dia bersyukur atas bantuan air bersih yang diberikan oleh pemerintah.
"Tenggelam, ternak sebagian hanyut. Penanganan pemerintah Alhamdulillah baik, terutama air bersih," katanya.
2. Pemprov siap alokasikan anggaran untuk perbaikan infrastruktur

Sebagai langkah awal untuk membantu para korban, pemerintah daerah dan provinsi telah menyalurkan bantuan berupa sembako, air bersih, serta logistik lainnya. Zudan menyatakan kesiapan pemerintah untuk memberikan bantuan lebih lanjut, termasuk menyediakan bibit untuk para petani yang terdampak.
Selain sektor pertanian, infrastruktur seperti jalan dan jembatan juga rusak parah. Banyak ruas jalan yang terputus, menyulitkan akses menuju beberapa desa dan kelurahan.
Pemerintah telah berkomitmen untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, dengan anggaran yang diperkirakan akan dialokasikan pada APBD 2025.
"Kami akan siapkan bersama tim, kalau dimungkinkan dengan bantuan keuangan khusus nanti akan kita lihat. Itu untuk APBD 2025, karena APBD 2024 sudah habis masa waktunya, dan juga saya akan sampaikan kepada gubernur yang terpilih," jelasnya.
3. Ketinggian air sempat mencapai 2 meter

Pada kesempatan yang sama, Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak, mengungkapkan bahwa Kecamatan Lilirilau merupakan wilayah yang paling parah diterjang banjir. Ketinggian air sempat mencapai dua meter.
Meskipun air sudah mulai surut pada pagi hari, namun dampak banjir masih dirasakan oleh warga yang harus menghadapi kerugian besar, baik materiil maupun ekonominya.
"Jadi yang terparah di tempat kita berada di sini. Kemarin sampai dua meter, Alhamdulillah pagi-pagi sudah turun," katanya.



















