Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Dainichi Merawat Warisan Manis Aren di Ribuan Meja Kopi
Kurniawan menunjukkan salah satu produk gula aren Dainichi yang kini merajai pasar di Kawasan Indonesia Timur. (Dok. Wawan untuk IDN Times)
  • Dainichi lahir saat Ridwan melihat gula merah petani Bone menumpuk pada pandemi. Ia mengolahnya menjadi gula aren cair, bubuk, dan beccu yang lebih praktis.
  • Branding Instagram, marketplace, dan penjualan ke bisnis memperluas pasar Dainichi. Produk ini digunakan sekitar 2.500 coffee shop, 90 bakery, dan 60 toko ritel di Indonesia Timur.
  • Dainichi bermitra dengan lebih dari 200 petani aren, menerapkan QC ketat, pembinaan, bantuan alat, serta menyiapkan beasiswa untuk keluarga petani binaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times – Pada 2020, pandemi membuat jalanan Kota Makassar di Sulawesi Selatan lengang dan banyak usaha kehilangan pembeli. Muhammad Ridwan pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Ia mengikuti keadaan seperti banyak orang lain yang terpaksa menghentikan rutinitas ketika COVID-19 menyebar.

Di kampung itulah, Ridwan menangkap sesuatu yang sebenarnya sudah lama di depan mata. Rumah-rumah para pembuat gula merah masih sibuk mengepulkan asap. Nira yang dipanen dari pohon aren tetap dimasak berjam-jam hingga mengental, sebelum dituangkan ke dalam cetakan. Proses itu nyaris tak berubah dari generasi ke generasi. Hanya saja, hasil akhirnya tak selalu menemukan pembeli.

“Ada beberapa keluargaku pembuat gula merah. Saya lihat di desa-desa banyak sekali gula merah yang menumpuk, tidak terjual, bahkan sampai berjamur,” katanya saat berbincang dengan IDN Times, Rabu, 22 Juli 2026.

Pemandangan itu masih membekas di ingatan Ridwan. Saat itu dia tidak langsung terlintas  terlintas bagaimana cara menjual lebih banyak gula merah. Yang ia pikirkan justru bagaimana gula-gula itu bisa memiliki nilai yang lebih tinggi.

"Dari situ timbul inisiatif. Saya merasa ini harus dikelola dan diberi value (nilai) tambah,” ucapnya.

Kalimat yang terdengar sederhana. Namun di situlah seluruh perjalanan Dainichi bermula.

1. Nilai tambah produk gula aren yang lebih praktis

Ridwan tak dibesarkan sebagai pengusaha gula aren. Latar belakang pendidikannya justru Antropologi di Universitas Hasanuddin. Setelah lulus kuliah, ia juga bekerja di bidang yang sama sekali tidak bersinggungan dengan industri pangan ataupun pertanian.

Dia pernah bekerja selama tiga tahun sebagai pengawas proyek lapangan di perusahaan kontraktor milik seorang teman. Hari-harinya dihabiskan berpindah dari satu lokasi proyek ke lokasi lain. Namun seperti banyak anak muda lainnya, Ridwan juga punya angan-angan membangun usaha sendiri.

Di sela pekerjaannya sebagai pengawas proyek, ia mencoba peruntungan di bisnis minuman.

"Sambil kerja kontraktor, saya mencoba buka usaha sampingan minuman boba. Namanya 'Kamsia Boba'."

Di masa itu bisnis minuman dengan bola-bola (bubble) tapioka sedang naik daun. Gerai-gerai baru bermunculan di berbagai kota. Minuman dengan aneka topping itu menjadi salah satu tren yang menjanjikan. Ridwan melihat peluang itu dan ikut mencoba peruntungan.

Ia mengeluarkan modal sekitar Rp20 juta dengan usaha itu bisa berkembang. Yang datang justru pandemi. Dalam sekejap kebiasaan masyarakat berubah. Mobilitas menurun, pusat-pusat keamaian jadi lengang. Usaha makanan dan minuman ikut terpukul, termasuk Kamsia Boba yang tidak mampu bertahan.

Sebagian orang memilih berhenti saat gagal. Tapi Ridwan mengambil kesempatan kedua.

Usaha boba dibuka lagi dengan sejumlah penyesuaian. Kali ini dia mulai menggunakan gula aren sebagai bahan baku. Tidak Cuma untuk racikan minuman, gula aren itu juga ditawarkan ke kedai-kedai yang jadi mitra usahanya. Hal yang di luar dugaan, sebab justru gula aren itu yang dapat respons paling baik.

"Ternyata sangat laku dan banyak peminatnya."

Di Kecamatan Bontocani, kawasan yang berada di dataran tinggi Bone, sebagian warga menggantungkan hidup dari mengolah nira pohon aren menjadi gula merah. Tradisi yang sudah bertahan turun-temurun. Saban hari, orang-orang di desa memproduksi gula dengan cara yang nyaris sama dari generasi ke generasi.

Ridwan menyadari bahwa di satu sisi dia melihat potensi pasar gula aren. Di sisi lain dia menyaksikan sendiri bagaimana petani kesulitan menjual hasil produksinya. Yang dia tahu, persoalan bukanlah pada kualitas gula, melainkan karena produk itu belum punya nilai tambah yang menarik minat pembeli.

“Akhirnya, gula-gula itu saya olah menjadi gula aren cair dan gula aren bubuk. Saya bawa dan jual ke Makassar, dan ternyata laku keras," ucap Ridwan.

Ridwan pun mantap mengubah arah usahanya. Usaha boba ditinggalkan, lalu fokus memasarkan produk gula aren. Alih-alih menjual gula merah cetakan seadanya, dia mengolah barang itu jadi produk yang lebih praktis dengan label Bernama Dainichi.

Dainichi kini menyediakan tiga bentuk produk berbagai ukuran untuk kebutuhan pasar yang berbeda. Ada gula aren cair yang sering digunakan kedai kopi dan pelaku usaha minuman karena praktis dan mudah larut. Lalu ada gula aren bubuk, yang jadi pilihan bagi pelaku usaha makanan, bakery, maupun konsumen rumah tangga yang butuh takaran lebih presisi.

Belakangan juga hadir produk baru Bernama gula aren beccu. Yang ini berupa kubus padat kecil-kecil, yang mempertahankan bentuk paling akrab dengan dapur-dapur tradisional.

Momentum itu datang pada waktu yang tepat. Di berbagai kota, tren minuman berbahan gula aren mulai jadi tren. Es kopi susu gula aren yang sebelumnya lebih dulu ramai di Jakarta perlahan menjalar ke Makassar dan kota-kota lain di Indonesia Timur. Ridwan melihat peluang itu.

"Seiring berjalannya waktu, tren industri F&B, khususnya es kopi susu gula aren yang awalnya ramai di Jakarta, mulai menjamur. Momentum dan peluang ini sangat pas."

Lambat laut permintaan mulai bertambah. Kebutuhan bahan baku ikut meningkat. Dainichi memperlebar sayap dengan membangun jaringan Bersama petani di luar Bone untuk memenuhi kebutuhan produksi. Nira didatangkan dari Sinjai, Malino, Pinrang, hingga Enrekang. Pelan-pelan, usaha yang lahir dari kegagalan bisnis minuman itu menemukan jalannya sendiri.

2. Bangun kepercayaan, kini menguasai pasar di Indonesia Timur

Produk gula aren Dainichi dipasarkan melalui marketplace. (IDN Times/Aan Pranata)

Mengapa Dainichi?

Singkatnya, Ridwan butuh nama yang dapat mewakili kualitas sekaligus terkesan profesional. Pilihannya mengarah pada nama bernuansa Jepang, sesuatu yang sejak lama dekat dengan minat pribadinya. Nama-nama gunung di Negeri Sakura dikulik, selaras dengan filosofi pohon aren yang tumbuh di dataran tinggi.

"Saya meriset nama-nama gunung di Jepang, karena filosofinya pohon aren itu tumbuh di dataran tinggi atau pegunungan. Kalau pakai nama 'Fuji' rasanya terlalu pasaran. Akhirnya saya menemukan nama gunung 'Dainichi'. Namanya bagus dan filosofinya pas."

Ridwan tidak bermaksud ingin menjauh dari asal-usul produknya. Justru sebaliknya. Dia ingin produk lokal bisa diterima tanpa beban prasangka bahwa kualitasnya jelek.

"Alasannya, dari riset ke pelanggan-pelanggan kami di Makassar waktu itu, banyak yang punya persepsi buruk terhadap brand lokal. Mereka kerap dikecewakan karena kualitas produk lokal yang tidak konsisten, kurang standar, dan etos kerjanya dianggap kurang profesional."

Sejak awal dia memilih menjadikan media sosial sebagai fondasi branding Dainichi. Ruang pertama untuk memperkenalkan mereknya adalah Instagram.

"Dainichi pertama kali tumbuh dan besar di Instagram. Setelah branding di Instagram kuat, barulah kami masuk ke marketplace,” katanya.

Akun Instagram Dainichi bukan sekadar etalase produk. Akun itu lebih sering mengajak audiens melihat cerita perjalanan gula aren. Dari kisah petani menyadap nira, bagaimana proses memasak gula yang diwariskan lintas generasi, sampai tahapan pengawasan sebelum produk dipasarkan.

Di kanal itu juga Dainichi berulang kali menegaskan bahwa gula aren merupakan warisan Indonesia yang lahir dari dedikasi dan pengetahuan turun-temurun. Bersamaan dengan narasi itu, mereka memperlihatkan bagaimana proses quality control hingga uji laboratorium bisa menjaga kemurnian rasa dan konsistensi produk.

Bagi Ridwan, cerita semacam itu bukan sekadar pelengkap promosi. Dia percaya pelanggan tak hanya membeli gula aren. Pelanggan juga ingin tahu asal-usul produk yang dikonsumsi, serta bagaimana proses pembuatannya.

Barulah setelah fondasi mereknya mulai terbentuk, Dainichi masuk ke lokapasar.

"Jadi, marketplace itu pada dasarnya jadi channel 'penyambung tangan', jalur komunikasi kita ke pelanggan dari hasil branding yang sudah kita bangun," dia mengatakan.

Cara pandang itu membuat Ridwan tidak melihat marketplace sebagai tujuan akhir. Menurutnya, banyak pelaku UMKM berharap penjualan akan langsung meningkat hanya dengan membuka toko digital. Padahal, keberhasilan tidak ditentukan oleh keberadaan toko semata, melainkan bagaimana toko itu dikelola.

“Banyak teman-teman UMKM yang ada di marketplace dan penjualannya begitu-begitu saja karena memang tidak dikelola dengan baik. Tidak diatur promonya, diskon-diskonnya, tidak ada afiliator, dan tidak live.”

Karena itu, Dainichi tidak pernah hanya mengunggah foto produk lalu menunggu pembeli datang. Marketplace dirawat seperti halnya kanal komunikasi lain. Ada promosi, ada program afiliasi, hingga interaksi rutin dengan pelanggan.

Dainichi tidak bergantung pada satu saluran penjualan. Strategi business-to-business (B2) berjalan seiring dengan penjualan di lokapasar alias marketplace yang dimulai sejak tahun 2021. Kanal penjualan digital berperan penting agar bisa menemui pelanggan secara lebih luas.

Ridwan mengungkapkan, setiap hari, toko daring Dainichi di Shopee rata-rata menerima 40 hingga 50 pesanan. Bila ditotal, bisa mencapai 1.500 unit per bulan. Jumlah itu memang tidak sebesar porsi distribusi ke pelanggan bisnis, tetapi menjadi pintu masuk bagi konsumen rumah tangga di mana pun, yang ingin membeli langsung tanpa harus datang ke toko.

“(Toko) online sangat, sangat penting. Karena kan ini bukan lagi eranya susah komunikasi ya. Jadi gampang sekali orang mengakses, salah satu yang memudahkan orang untuk bertransaksi,” katanya.

Platform digital menawarkan potensi besar untuk memperluas pangsa pasar. Laporan Perekonomian Bank Indonesia Sulawesi Selatan per Juni 2026 menunjukkan, pada triwulan I 2026 aktivitas belanja di marketplace tumbuh pesat. Nominal transaksi e-commerce di Sulsel tercatat senilai Rp3,73 triliun, naik 25,40% dari periode sama tahun sebelumnya. Volume transaksinya pun menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,01% (yoy) menjadi 29,89 juta transaksi.

Statistik E-Commerce yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 mencatat, pada tahun 2024 jumlah usaha e-commerce di Indonesia sebanyak 4,4 juta, naik 15,30% dari tahun sebelumnya. Nilai transaksi dalam setahun menembus Rp1.288,93 triliun.

Di sisi lain, jalur bisnis terus berkembang. Pelanggan pertama Dainichi berasal dari jaringan yang pernah mengenal Kamsia Boba ketika masih beroperasi di Makassar.

“Nah setelah Kamsia Boba tutup, kita beralih ke pelanggan coffee shop.”

Pada masa-masa awal, satu per satu Wawan mendatangi kedai kopi. Saat itu belum ada tim pemasaran. Apalagi jaringan distribusi yang besar. Ridwan menawarkan produknya sendiri. Ia menjelaskan mengapa gula aren cair dan gula aren bubuk yang ia buat berbeda dengan produk lain yang sudah beredar.

Beberapa kedai kopi mulai mencoba. Dari sana, kabar mengenai produk Dainichi menyebar dari satu coffee shop ke yang lainnya.

“Kita kasih ke beberapa coffee shop, kayak misalnya Society, terus apa lagi… Caffeine, terus Delicate, dan brand-brand besar yang ada di Makassar, itu kita suplai sampai sekarang. Kita juga masuk di toko-toko retail, supermarket.”

Hari ini, produk Dainichi tidak hanya tersebar di kedai kopi di Makassar. Berdasarkan data perusahaan, gula aren Dainichi telah digunakan oleh sekitar 2.500 coffee shop, 90 bakery, dan 60 toko ritel. Jaringan distribusinya menjangkau berbagai kota di Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi, Maluku, Papua, hingga Kalimantan.

“Jadi sekarang posisinya Dainichi itu, dari hasil riset, kita brand gula aren di Indonesia Timur yang paling besar. Rencananya tahun depan kami baru akan merambah ke Kalimantan, Jawa, bahkan Jakarta."

Meski demikian, dia tidak pernah menganggap posisi itu sebagai garis akhir. Baginya, kualitas produk jauh lebih penting daripada sekadar memperluas pasar.

3. Tumbuh bersama lebih dari 200 mitra petani

Ilustrasi aktivitas petani aren. (IDN Times/Dhana Kencana)

Selama beberapa tahun terakhir, Ridwan dan tim terus menyempurnakan produknya. Ia punya target sederhana, gula aren yang dikirim ke Jayapura memiliki rasa dan kualitas yang sama dengan yang digunakan kedai kopi di Makassar ataupun Kendari.

Menurutnya, salah satu pembeda Dainichi terletak pada kadar air. Produk gula aren yang dihasilkan jauh lebih kering dibandingkan kompetitor, dengan kadar air terjaga di angka dua persen. Dampak dari kekeringan yang stabil ini, rasa yang dihasilkan jadi lebih creamy dan kental.

"Atau orang Bugis bilang lebih janna," katanya. Indeks glikemiknya pun relatif lebih rendah, sehingga membantu menjaga energi tetap stabil tanpa lonjakan gula darah yang drastis.

Ridwan tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana proses itu dilakukan. Ia hanya mengatakan bahwa konsistensi tersebut dijaga melalui mekanisme produksi.

"Kami menggunakan mesin khusus yang jarang saya ekspos, yang tidak dimiliki oleh kompetitor lain. Itulah secret recipe kami."

Perhatian terhadap kualitas itu juga tercermin dari penerimaan pasar digital. Berdasarkan data penjualan marketplace yang dihimpun DataPinter, produk gula aren Dainichi sudah terjual lebih dari 43.000 ribu unit di Shopee. Produk terlarisnya, Gula Aren Bubuk 1 kg, sudah terjual 17.895 unit dengan penilaian 4,95 dari ribuan ulasan pelanggan. Sedangkan produk Gula Aren Cair dengan berbagai ukuran kemasan juga mencatat belasan ribu penjualan.

Namun bagi Ridwan, menjaga kualitas tidak dimulai dari ruang produksi. Ia percaya, pekerjaan itu sudah harus dimulai jauh sebelum gula aren tiba di pabrik. Jauh di kebun-kebun aren tempat para petani memanen nira setiap hari.

Gula aren sendiri menjadi salah satu komoditas penting dalam industri pangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi gula aren nasional mencapai 154 ribu ton pada 2024, meningkat dibandingkan 142 ribu ton pada tahun sebelumnya. Sebagian besar produksi tersebut berasal dari petani skala kecil, termasuk yang berada di Sulawesi Selatan.

Seiring meluasnya pasar Dainichi, kebutuhan bahan baku pun ikut bertambah. Meski demikian, peningkatan pasokan tidak membuat standar kualitas mereka menjadi longgar. Justru sebaliknya.

"Untuk bahan baku, kami bermitra dengan sekitar 200-an petani aren, belum termasuk petani binaan di bawah mereka. Kami menerapkan standar Quality Control (QC) yang sangat ketat. Kalau ada produk dari petani yang cacat atau reject sedikit saja, langsung kami kembalikan. Ini kunci agar kualitas kami tetap konsisten."

Bagi Ridwan, konsistensi adalah modal paling mahal yang dimiliki sebuah merek. Orang mungkin hanya mencicipi satu sendok gula aren di dalam segelas kopi. Namun dari rasa yang singkat itu, mereka membentuk kepercayaan.

Karena itu hubungan Dainichi dengan petani tidak berhenti ketika gula selesai ditimbang. Ridwan mengatakan, kemitraan yang ia bangun tidak hanya berbicara mengenai harga beli atau jumlah pasokan.

"Kami melakukan pembinaan, memberikan bantuan alat seperti panci untuk mengolah gula, hingga menyentuh aspek spiritual. Rencananya tahun ini, kami juga akan memberikan program beasiswa untuk anak-anak para petani aren binaan kami."

Bantuan peralatan diberikan agar proses pengolahan menjadi lebih baik. Pembinaan dilakukan agar kualitas gula yang dihasilkan tetap terjaga. Sementara program beasiswa yang tengah disiapkan menjadi cara Dainichi memperluas manfaat kemitraan hingga ke keluarga para petani.

Cara pandang itu juga terlihat dalam bagaimana Dainichi memperkenalkan dirinya kepada publik. Di akun Instagramnya, Dainichi menampilkan bahwa warisan gula aren Indonesia tidak hanya berbicara tentang rasa manis. Di baliknya ada pengetahuan, ketekunan, dan dedikasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Narasi tersebut sejalan dengan apa yang dibangun Ridwan sejak awal. Ia tidak ingin pelanggan hanya mengenal Dainichi sebagai merek gula aren. Ia ingin mereka juga mengenal orang-orang yang berada di baliknya. Bahwa setiap botol gula aren cair atau setiap kemasan gula aren bubuk selalu bermula dari kerja panjang para petani.

4. Potret UMKM yang Berjaya di Ruang Digital

Jumlah UMKM di Indonesia pada akhir Desember 2025. (Dok. SIDT Kementerian UMKM)

Perjalanan Dainichi hanya satu di antara jutaan cerita UMKM di Indonesia yang sedang berusaha tumbuh. Ada yang berangkat dari dapur rumah, bengkel kecil, kebun, atau ruang tamu yang bersalin rupa jadi tempat produksi. Jalannya mungkin berbeda-beda, namun banyak yang menghadapi tantangan serupa. Yakni bagaimana memberi nilai tambah pada produk serta menemukan pembeli di luar lingkungan terdekatnya.

Berdasarkan Basis Data Tunggal Kementerian UMKM, Indonesia memiliki sekitar 30,2 juta pelaku UMKM per Desember 2025. Menyumbang 61,8% persen terhadap Penerimaan Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hingga 92% tenaga kerja nasional.

Di antara jalinan cerita itu, ruang digital mengambil peran sebagai jalan baru yang mempertemukan produk-produk lokal dengan lebih banyak orang. Bukan sebagai pengganti pasar.

Makanan dan minuman, dengan jumlah 6,4 juta unit, jadi salah satu sektor penyangga ekonomi nasional. Jumlah yang sangat besar. Tantangannya kini tidak lagi berhenti pada soal produksi. Pelaku UMKM didorong mampu memanfaatkan teknologi agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengingatkan bahwa digitalisasi tidak cukup dimaknai sekadar membuka toko di marketplace. Pelaku juga usaha juga mesti beradaptasi dengan media sosial, pembayaran digital, big data, hingga artificial intelligence untuk memperkuat branding, membaca tren konsumen, serta mengembangkan pasar.

“Dengan kolaborasi, inovasi, dan semangat kebersamaan, kita bisa membawa UMKM Indonesia naik kelas sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai komponen penting dalam ekonomi digital global,” katanya,” katanya dilansir situs resmi Kementerian UMKM.

Dorongan agar UMKM semakin akrab dengan teknologi juga datang dari pemerintah daerah. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai transformasi digital perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah agar produk-produk lokal memiliki daya saing yang lebih kuat.

Tahun lalu, Dinas Koperasi dan UKM Makassar mendata ada sebanyak 31.848 usaha UMKM di daerahnya, dan diperkirakan meningkat tiga kali lipat di 2026. Munafri menekankan bahwa banyak kisah sukses pelaku UMKM yang besar justru lahir dari inovasi sederhana dan dimulai dari ruang terbatas.

"UMKM bisa tumbuh jadi motor penggerak ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru,” kata Munafri.

Editorial Team

Related Article