Produk gula aren Dainichi dipasarkan melalui marketplace. (IDN Times/Aan Pranata)
Mengapa Dainichi?
Singkatnya, Ridwan butuh nama yang dapat mewakili kualitas sekaligus terkesan profesional. Pilihannya mengarah pada nama bernuansa Jepang, sesuatu yang sejak lama dekat dengan minat pribadinya. Nama-nama gunung di Negeri Sakura dikulik, selaras dengan filosofi pohon aren yang tumbuh di dataran tinggi.
"Saya meriset nama-nama gunung di Jepang, karena filosofinya pohon aren itu tumbuh di dataran tinggi atau pegunungan. Kalau pakai nama 'Fuji' rasanya terlalu pasaran. Akhirnya saya menemukan nama gunung 'Dainichi'. Namanya bagus dan filosofinya pas."
Ridwan tidak bermaksud ingin menjauh dari asal-usul produknya. Justru sebaliknya. Dia ingin produk lokal bisa diterima tanpa beban prasangka bahwa kualitasnya jelek.
"Alasannya, dari riset ke pelanggan-pelanggan kami di Makassar waktu itu, banyak yang punya persepsi buruk terhadap brand lokal. Mereka kerap dikecewakan karena kualitas produk lokal yang tidak konsisten, kurang standar, dan etos kerjanya dianggap kurang profesional."
Sejak awal dia memilih menjadikan media sosial sebagai fondasi branding Dainichi. Ruang pertama untuk memperkenalkan mereknya adalah Instagram.
"Dainichi pertama kali tumbuh dan besar di Instagram. Setelah branding di Instagram kuat, barulah kami masuk ke marketplace,” katanya.
Akun Instagram Dainichi bukan sekadar etalase produk. Akun itu lebih sering mengajak audiens melihat cerita perjalanan gula aren. Dari kisah petani menyadap nira, bagaimana proses memasak gula yang diwariskan lintas generasi, sampai tahapan pengawasan sebelum produk dipasarkan.
Di kanal itu juga Dainichi berulang kali menegaskan bahwa gula aren merupakan warisan Indonesia yang lahir dari dedikasi dan pengetahuan turun-temurun. Bersamaan dengan narasi itu, mereka memperlihatkan bagaimana proses quality control hingga uji laboratorium bisa menjaga kemurnian rasa dan konsistensi produk.
Bagi Ridwan, cerita semacam itu bukan sekadar pelengkap promosi. Dia percaya pelanggan tak hanya membeli gula aren. Pelanggan juga ingin tahu asal-usul produk yang dikonsumsi, serta bagaimana proses pembuatannya.
Barulah setelah fondasi mereknya mulai terbentuk, Dainichi masuk ke lokapasar.
"Jadi, marketplace itu pada dasarnya jadi channel 'penyambung tangan', jalur komunikasi kita ke pelanggan dari hasil branding yang sudah kita bangun," dia mengatakan.
Cara pandang itu membuat Ridwan tidak melihat marketplace sebagai tujuan akhir. Menurutnya, banyak pelaku UMKM berharap penjualan akan langsung meningkat hanya dengan membuka toko digital. Padahal, keberhasilan tidak ditentukan oleh keberadaan toko semata, melainkan bagaimana toko itu dikelola.
“Banyak teman-teman UMKM yang ada di marketplace dan penjualannya begitu-begitu saja karena memang tidak dikelola dengan baik. Tidak diatur promonya, diskon-diskonnya, tidak ada afiliator, dan tidak live.”
Karena itu, Dainichi tidak pernah hanya mengunggah foto produk lalu menunggu pembeli datang. Marketplace dirawat seperti halnya kanal komunikasi lain. Ada promosi, ada program afiliasi, hingga interaksi rutin dengan pelanggan.
Dainichi tidak bergantung pada satu saluran penjualan. Strategi business-to-business (B2) berjalan seiring dengan penjualan di lokapasar alias marketplace yang dimulai sejak tahun 2021. Kanal penjualan digital berperan penting agar bisa menemui pelanggan secara lebih luas.
Ridwan mengungkapkan, setiap hari, toko daring Dainichi di Shopee rata-rata menerima 40 hingga 50 pesanan. Bila ditotal, bisa mencapai 1.500 unit per bulan. Jumlah itu memang tidak sebesar porsi distribusi ke pelanggan bisnis, tetapi menjadi pintu masuk bagi konsumen rumah tangga di mana pun, yang ingin membeli langsung tanpa harus datang ke toko.
“(Toko) online sangat, sangat penting. Karena kan ini bukan lagi eranya susah komunikasi ya. Jadi gampang sekali orang mengakses, salah satu yang memudahkan orang untuk bertransaksi,” katanya.
Platform digital menawarkan potensi besar untuk memperluas pangsa pasar. Laporan Perekonomian Bank Indonesia Sulawesi Selatan per Juni 2026 menunjukkan, pada triwulan I 2026 aktivitas belanja di marketplace tumbuh pesat. Nominal transaksi e-commerce di Sulsel tercatat senilai Rp3,73 triliun, naik 25,40% dari periode sama tahun sebelumnya. Volume transaksinya pun menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,01% (yoy) menjadi 29,89 juta transaksi.
Statistik E-Commerce yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 mencatat, pada tahun 2024 jumlah usaha e-commerce di Indonesia sebanyak 4,4 juta, naik 15,30% dari tahun sebelumnya. Nilai transaksi dalam setahun menembus Rp1.288,93 triliun.
Di sisi lain, jalur bisnis terus berkembang. Pelanggan pertama Dainichi berasal dari jaringan yang pernah mengenal Kamsia Boba ketika masih beroperasi di Makassar.
“Nah setelah Kamsia Boba tutup, kita beralih ke pelanggan coffee shop.”
Pada masa-masa awal, satu per satu Wawan mendatangi kedai kopi. Saat itu belum ada tim pemasaran. Apalagi jaringan distribusi yang besar. Ridwan menawarkan produknya sendiri. Ia menjelaskan mengapa gula aren cair dan gula aren bubuk yang ia buat berbeda dengan produk lain yang sudah beredar.
Beberapa kedai kopi mulai mencoba. Dari sana, kabar mengenai produk Dainichi menyebar dari satu coffee shop ke yang lainnya.
“Kita kasih ke beberapa coffee shop, kayak misalnya Society, terus apa lagi… Caffeine, terus Delicate, dan brand-brand besar yang ada di Makassar, itu kita suplai sampai sekarang. Kita juga masuk di toko-toko retail, supermarket.”
Hari ini, produk Dainichi tidak hanya tersebar di kedai kopi di Makassar. Berdasarkan data perusahaan, gula aren Dainichi telah digunakan oleh sekitar 2.500 coffee shop, 90 bakery, dan 60 toko ritel. Jaringan distribusinya menjangkau berbagai kota di Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi, Maluku, Papua, hingga Kalimantan.
“Jadi sekarang posisinya Dainichi itu, dari hasil riset, kita brand gula aren di Indonesia Timur yang paling besar. Rencananya tahun depan kami baru akan merambah ke Kalimantan, Jawa, bahkan Jakarta."
Meski demikian, dia tidak pernah menganggap posisi itu sebagai garis akhir. Baginya, kualitas produk jauh lebih penting daripada sekadar memperluas pasar.