Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aliran Hakikinya Hakiki di Makassar Disebut Sesat, MUI akan Telusuri
ilustrasi aliran sesat (pexels.com/cottonbro)

Makassar, IDN Times - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menelusuri sejarah lahirnya sebuah ajaran di Makassar bernama Hakikinya Hakiki, yang disebut aliran sesat.

Ketua MUI Makassar, AGH Baharuddin mengatakan, kini pihaknya sedang mencari tahu lebih jauh soal siapa yang membawa aliran atau ajaran tersebut hingga ke Makassar.

"Nah, kita ini mau kejar, siapa gurunya? Siapa sanat gurunya? Dan istilah-istilah itu sambung-menyambung sampai ke nabi, kalau tidak itu berarti itu namanya sesat, berarti itu tidak diterima," kata Baharuddin dikonfirmasi, Jumat malam (6/1/2023).

1. Akan bertemu aliran Hakiki, MUI gelar rapat khusus

Logo Majelis Ulama Indonesia (MUI) (IDN Times/Mui.or.id)

Berdasarkan informasi, aliran atau ajaran Hakikinya Hakiki ini mulai beredar di Kota Makassar. Bahkan, beberapa waktu lalu, sebuah akun sosial media menayangkan perdebatan warga dengan pengikut dari aliran yang disebut punya 13 rukun Islam.

Terkait hal itu kata Baharuddin, MUI Kota Makassar dan beberapa unsur terkait seperti tokoh agama dan masyarakat, kejaksaan, telah menggelar rapat khusus untuk merespons aliran tersebut.

"Kita sudah lakukan rapat, dan keputusan waktu itu kita akan bertemu secara khusus antara pengikut mereka dengan MUI hari Senin (9/1/2023) nanti di kantor MUI. Kita akan membina kalau mau dibina," ujarnya.

2. MUI Makassar belum tahu banyak aliran Hakikinya Hakiki

Ilustrasi gedung MUI Pusat di Jakarta (IDN Times/Fitang Budhi Adhitia)

Baharuddin menyebutkan, MUI Makassar belum tahu pasti terkait aktivitas aliran itu. Untuk itu, pihaknya akan bertemu langsung dengan kelompok aliran Hakikinya Hakiki untuk mengetahui jelas aktivitas aliran ini.

"Itu kita belum tahu, nanti kita akan tanya mereka. Karena mereka kan menyatakan bahwa itu (berkaitan) dengan ma'rifat tapi itu yang kita mau jelaskan," ungkapnya.

"Karena kita dalam Islam itu bicara soal itu, apalagi berkaitan dengan (ma'rifat) itu ada silsilah, ada sanat guru," lanjut Baharuddin.

3. Marak labelisasi sesat

Gedung 13 lantai yayasan Nur Mutiara Ma'rifatullah di Gowa, Sulsel. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Sebelumnya, aktivitas ajaran Bab Kesucian di Gowa dinilai oleh MUI Sulsel sebagai aliran sesat, karena diduga telah melarang jamaahnya memakan daging, minum susu, hingga larangan solat bagi santri atau pengikut ajaran tersebut.

Tetapi kemudian, pandangan MUI Sulsel yang menganggap aktivitas Bab Kesucian aliran sesat, dianggap tidak berlandaskan pada bukti dan juga fakta-fakta yang kuat.

"Nur Mutiara Ma'rifatullah ini mengajarkan pola makan yang bersih, pola hidup yang bersih, pola pikir yang bersih, pola makan yang sehat, pola hidup yang sehat, akal sehat, perilaku sehat, hidup sehat, dan tidur yang sehat, itu saja" tegas pimpinan Bab Kesucian, Wayang Hadi Kusumo.

"Jadi bukan bab agama, kalau aliran itu syariat, tarikat, hakikat, ma'rifat itu sudah biasa. Bab kesucian ini ilmu, tidak pakai aliran. Bab suci ini mengajarkan azas-azas bersih, mengajarkan pola yang bersih, hal bersih, itu dasar-dasarnya," lanjutnya.

Wayang Hadi memastikan, Bab Kesucian adalah ilmu dasar untuk hidup lebih sehat, setelah itu baru dimulainya agama untuk memulai pola dan cara hidup yanh sehat.

"Nah, setelah jalani kursus Bab Kesucian ini terserah dianya mau mengambil suatu agama apa, tidak paksakan satu agama kepada orang yang belum ada agama, kita tidak memaksakan agama yang lain ke dalam orang yang sudah punya agamanya sendiri. Ini maksudnya tidak memaksakan suatu agama kepada orang yang sudah mempunyai keyakinan," tambah Hadi.

Editorial Team

Related Article