Timsus Ditreskrimsus Polda Sulsel awalnya menerima informasi, bahwa penyebab banjir yang menelan banyak korban jiwa di sana karena pembalakan liar. Namun setelah mengaji dan menyelidiki, informasi yang didapatkan Polda Sulsel justru berbeda dengan fakta di lapangan.
"Sesuai fakta yang kita dapat di lapangan, kita dapatkan bukan karena illegal logging, eksploitasi hutan dan lain-lain. Tapi memang karena faktor alam," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Sulsel Kombes Pol Agustinus Pangaribuan kepada IDN Times, saat dikonfirmasi, Kamis, 6 Agustus lalu.
Hanya saja, Agustinus saat itu tidak menyebutkan secara detail faktor alam yang dimaksud. Banjir bandang di Masamba diketahui terjadi pada Senin, 13 Juli 2020. Sepanjang 13 hari operasi, tim SAR gabungan berhasil menemukan 38 korban meninggal dunia. 9 orang lainnya belum ditemukan. BPBD Sulsel mencatat korban terdampak bencana di Lutra mencapai 3.627 kepala keluarga atau 14.483 jiwa.
Mereka mengungsi di 3 kecamatan berbeda. Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Masamba. Tiga kecamatan itu menjadi lokasi terdampak bencana. Bencana juga mengakibatkan kerusakan 4.202 unit rumah, 9 unit sekolah, 13 unit rumah ibadah yang terdiri dari 12 masjid dan satu gereja.
Selain itu, ditambah fasilitas kesehatan, masing-masing satu puskesmas, satu laboratorium kesehatan daerah dan satu unit PSC serta delapan kantor pemerintahan. Insfrastruktur seperti jalan juga tak luput dari hantaman bencana banjir, di mana akses jalan yang terdampak total sepanjang 12,8 kilometer.