Makassar, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan mengungkap kondisi penyempitan ruang sipil dan krisis ekologis terjadi di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil pemetaan lembaga tersebut, sebanyak 21 kabupaten/kota masuk kategori zona risiko tinggi hingga sedang.
Temuan tersebut dipaparkan dalam peluncuran laporan riset bertajuk Demokrasi yang Pudar di Tengah Lanskap yang Rapuh: Potret Keadilan Ekologis dalam Bayang-Bayang Penyempitan Ruang Sipil di Tiga Bentang Alam Sulawesi Selatan. Kegiatan itu digelar di Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar pada Kamis (5/6/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Kepala Departemen Riset Keterlibatan Publik WALHI Sulsel, Slamet Riadi, menjelaskan riset berlangsung selama empat bulan, sejak Januari hingga April 2026. Penelitian tersebut mencakup tiga wilayah dengan karakteristik berbeda, yakni kawasan pesisir Kota Makassar, kawasan karst Kabupaten Maros, serta wilayah hutan dan pertambangan di Kabupaten Luwu Timur.
Menurut Slamet, hasil penelitian menunjukkan pola pembangunan yang serupa di berbagai wilayah. Pemerintah mulai mengakui adanya krisis ekologis, namun orientasi pembangunan masih bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan investasi.
"Integrasi antara analisis dokumen dan matriks lanskap menunjukkan bahwa pesisir Makassar, karst Maros, dan hutan Luwu Timur berada dalam satu paradigma pembangunan yang sama, krisis ekologis diakui secara normatif, tetapi model ekonomi yang berpotensi memperdalam krisis tetap dipertahankan," kata Slamet, dikutip dalam siaran persnya, Sabtu (6/6/2026).
