Strategi Sidrap Hadapi El Nino, Benih 75 Hari hingga Listrik Sawah

- Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyiapkan empat strategi utama menghadapi El Nino, termasuk percepatan musim tanam dan optimalisasi infrastruktur air untuk menjaga produktivitas pertanian.
- Pemkab Sidrap menggunakan benih padi lokal berumur 75 hari yang dinilai lebih cepat panen namun tetap menghasilkan produktivitas tinggi hingga 10–12 ton per hektare.
- Program listrik masuk sawah diterapkan dengan teknologi pompa air berbasis listrik dari sumur dalam, menggantikan sistem berbahan bakar gas guna mengantisipasi kekeringan.
Makassar, IDN Times - Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, memaparkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino Godzilla, khususnya di sektor pertanian. Hal itu disampaikan saat ditemui di sela kegiatan Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (PSBM) 2026 di Makassar, Kamis (26/3/2026).
Syahar, sapaannya, menyebut pihaknya telah menyiapkan empat program utama untuk menjaga produktivitas pertanian. Strategi tersebut dimulai dari percepatan musim tanam hingga optimalisasi infrastruktur air.
"Kami sudah melakukan antisipasi. Satu, mempercepat musim tanam. Kedua mengurangi umur benih padi. Umur benih padi biasanya 110 hari. Sekarang kami sedang mempersiapkan menanam yang usia 75 hari," katanya.
1. Percepat tanam dan aktifkan infrastruktur air

Selain itu, Pemkab Sidrap juga mengembangkan program listrik masuk sawah untuk mendukung sistem irigasi berbasis teknologi. Program ini disertai dengan pengaktifan embung dan parit guna menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
"Yang ketiga memberlakukan program listrik masuk sawah. Keempat, embung dan parit itu diaktifkan," katanya.
Menurut Syahar, penerapan strategi tersebut berdampak pada peningkatan produktivitas pertanian di Sidrap. Dia menyebut hasil panen yang sebelumnya berada di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare, kini meningkat menjadi 10 hingga 12 ton per hektare.
"Sebelum saya jadi bupati, Sidrap itu paling 5-6 ton, sekarang 10-12 ton per hektare. Makanya Sidrap paling tertinggi pertumbuhan ekonominya di Sulsel karena produksi yang ditambahkan," ucapnya.
2. Benih lokal 75 hari disebut lebih produktif

Syahar juga menyoroti penggunaan benih padi lokal Sulsel dengan masa panen lebih singkat. Benih berumur 75 hari tersebut dinilai tetap menghasilkan produktivitas tinggi.
"Benihnya benih lokal Sulawesi Selatan. Hasilnya sama, dan justru lebih tinggi produksinya. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Sidrap," katanya.
3. Teknologi listrik masuk sawah jadi andalan

Dalam penerapan program listrik masuk sawah, Syahar menjelaskan penggunaan teknologi pompa air berbasis listrik melalui sumur dalam. Sistem ini menggantikan metode pompanisasi berbahan bakar gas yang sebelumnya digunakan petani.
"Pengeboran sumur dalam pakai teknologi listrik. Biasanya pompanisasi tabung gas. Kalau di Sidrap sudah pakai listrik masuk sawah. Pakai mesin air (submersible) pompa celup teknologinya. Itu mengantisipasi El Nino," katanya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Syahar menyatakan optimistis sektor pertanian di Sidrap tetap terjaga. Dia menilai upaya yang disiapkan mampu menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino.
"Insyaallah. Yang kelima, doa. Itu terutama," katanya.


















