Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pengangguran di Sulsel Bertambah 2.970 Orang dalam Setahun Terakhir

Kota Makassar
3 min read
Pengangguran di Sulsel Bertambah 2.970 Orang dalam Setahun Terakhir
Ilustrasi. Pencari kerja melamar pekerjaan di job fair. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • BPS Sulsel mencatat 211,92 ribu pengangguran pada Agustus 2026, bertambah 2,97 ribu orang setahun; TPT naik menjadi 4,23 persen meski penduduk bekerja mencapai 4,79 juta.
  • Lulusan SMK mencatat TPT tertinggi 6,78 persen, disusul SMA 6 persen dan lulusan Diploma IV hingga S3 sebesar 5,71 persen.
  • Sebanyak 61,26 persen pekerja berada di sektor informal, sementara 1,8 juta orang atau 37,52 persen penduduk bekerja belum bekerja penuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Jumlah pengangguran di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan dalam setahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat, ada 211,92 ribu orang yang belum bekerja pada Agustus 2026, bertambah sekitar 2,97 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Berita Resmi Statistik BPS Sulsel, Kamis (5/11/2026), kenaikan jumlah pengangguran tersebut terjadi bersamaan dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja. Pada Agustus 2026, jumlah penduduk bekerja di Sulsel mencapai 4,79 juta orang, naik sekitar 33,53 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah orang yang bekerja belum sepenuhnya diikuti penurunan jumlah pengangguran.

  1. 1. Tingkat pengangguran terbuka Sulsel mencapai 4,23 persen

    ilustrasi pengangguran
    ilustrasi pengangguran (IDN Times/Aditya Pratama)

    BPS Sulsel mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2026 sebesar 4,23 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 4,21 persen dan Agustus 2024 sebesar 4,19 persen.

    Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Sulsel mencapai 5 juta orang pada Agustus 2026. Jumlah tersebut bertambah sekitar 36,5 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah pengangguran bertambah sekitar 2,97 ribu orang.

  2. 2. Pengangguran lulusan SMK paling tinggi

    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana
    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

    Jika dilihat berdasarkan pendidikan, tingkat pengangguran terbuka tertinggi berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yakni sebesar 6,78 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat 6,17 persen.

    Setelah SMK, TPT tertinggi berikutnya berasal dari lulusan SMA sebesar 6 persen. Sementara itu, TPT lulusan perguruan tinggi jenjang Diploma IV hingga S3 mencapai 5,71 persen. Adapun TPT lulusan SMP sebesar 3,45 persen, Diploma I hingga III sebesar 2,50 persen, serta lulusan SD ke bawah sebesar 1,84 persen.

  3. 3. Mayoritas pekerja masih berada di sektor informal

    Pengemudi Gojek berhenti dengan sepeda motor di kawasan Bundaran HI pada malam hari
    ilustrasi pengemudi ojek daring yang termasuk kelompok pekerja informal calon penerima KPR subsidi (unsplash.com/fasyahalim)

    Di sisi lain, sebagian besar penduduk yang bekerja di Sulsel masih berada di sektor informal. BPS mencatat jumlahnya mencapai 2,94 juta orang atau 61,26 persen dari total penduduk bekerja pada Agustus 2026.

    Sementara itu, pekerja di sektor formal berjumlah sekitar 1,86 juta orang atau 38,74 persen. Proporsi pekerja formal ini turun dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 39,55 persen.

  4. 4. Hampir 1,8 juta pekerja tidak bekerja penuh

    Mahasiswa mengikuti job fair yang menghadirkan wawasan kewirausahaan untuk membuka peluang usaha selain mencari pekerjaan.
    Ilustrasi job fair.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    BPS juga mencatat sekitar 1,8 juta penduduk bekerja di Sulsel belum bekerja penuh pada Agustus 2026. Jumlah tersebut setara dengan 37,52 persen dari total penduduk bekerja, mencakup pekerja dengan jam kerja kurang dari 35 jam dalam seminggu.

    Dari jumlah tersebut, sebanyak 451,57 ribu orang atau 9,42 persen tergolong setengah pengangguran, yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan. Sementara itu, 1,35 juta orang lainnya merupakan pekerja paruh waktu yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu, tetapi tidak mencari atau tidak bersedia menerima pekerjaan tambahan.

    Data ketenagakerjaan ini menunjukkan bahwa persoalan pasar kerja di Sulsel tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya jumlah pengangguran. Kondisi pekerja informal dan penduduk yang belum bekerja penuh juga menjadi bagian dari gambaran ketenagakerjaan di daerah tersebut.

Related Articles

See More