Ilustrasi. Sejumlah ibu rumah tangga menimbang sampah rumah tangga yang sudah dipilah di bank sampah. (IDN Times/Dhana Kencana)
Selain menyasar rumah tangga, Pemerintah Kota Makassar terus memperluas pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di seluruh kecamatan.
Munafri mengatakan perubahan perilaku juga dilakukan melalui dunia pendidikan. Seluruh sekolah mulai dari PAUD, SD, hingga SMP didorong menerapkan pemilahan sampah sejak dini agar menjadi kebiasaan bagi para siswa.
"Kami ingin anak-anak sejak kecil terbiasa membedakan dan mengolah sampah dengan baik," ujarnya.
Untuk memperkuat kolaborasi, Pemkot Makassar membentuk Dewan Lingkungan yang dipimpin Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar. Dewan tersebut melibatkan akademisi, aktivis lingkungan, komunitas, hingga pelaku ekonomi kreatif guna memperkuat edukasi dan penerapan teknologi dalam pengelolaan sampah.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat Bank Sampah Unit dan Bank Sampah Induk sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular. Pemerintah memberikan dukungan pendanaan agar transaksi pembelian sampah dari masyarakat tidak mengalami keterlambatan sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Munafri optimistis rangkaian pembenahan yang dilakukan, mulai dari transformasi TPA, peningkatan partisipasi masyarakat, pendidikan lingkungan, hingga penguatan ekonomi sirkular, dapat membawa Makassar keluar dari persoalan persampahan.
"Kami meyakini, insyaallah dengan proses yang kami lakukan, Kota Makassar akan menjadi kota yang paling pertama yang berhasil keluar dari persoalan persampahan di Indonesia," tuturnya.