Membawa Mobil Listrik ke Ujung Selatan Sulawesi

- Perjalanan mobil listrik Makassar–Tanjung Bira sejauh 190 kilometer mengonsumsi estimasi 29,83 kWh, dengan biaya sekitar Rp71.592 atau 55,7 persen lebih rendah dibandingkan Pertamax.
- PLN meresmikan SPKLU 22 kW di Jeneponto yang terintegrasi dengan Cora Cafe, memberi pengemudi ruang istirahat sekaligus melibatkan petani kopi dan barista lokal.
- PLN UID Sulselrabar mengoperasikan 65 SPKLU di 51 lokasi, termasuk jalur menuju Bira dan Paduppa Resort, serta menargetkan 685 unit terpasang pada 2030.
Makassar, IDN Times – Jarum jam digital di dasbor Hyundai Ioniq 5 yang saya tumpangi menunjukkan pukul 07.16 WITA ketika kami bergerak dari Jalan Letjen Hertasning, Rappocini, Kota Makassar, pada Kamis (11/12/2025). Indikator baterai mobil tertera di angka 90 persen, dengan estimasi jarak tempuh tersisa mencapai 471 kilometer.
Pagi itu, PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) mengajak sejumlah jurnalis berkendara menuju kawasan wisata Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba. Perjalanan bertajuk Jurnal EV ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di jalur selatan Sulawesi Selatan.
Rute yang kami tempuh adalah jalur klasik para pelancong, sebuah etape berjarak total sekitar 190 kilometer. Perjalanan sekitar lima jam melintasi Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng, sebelum berakhir di Bulukumba.
1. Efisiensi di tengah senyapnya kabin mobil listrik

Menjajal mobil listrik pada rute wisata Makassar menuju Tanjung Bira di Bulukumba. (IDN Times/Aan Pranata) Keluar dari Makassar, arus lalu lintas relatif lancar. Aspal mulus di beberapa ruas berganti dengan jalan bergelombang di titik lain. Di balik kemudi, sensasi berkendara mobil listrik terasa hening. Tidak ada getaran mesin, hanya suara ban dan angin yang sesekali masuk ke kabin.
Setelah menempuh jarak 84 kilometer, kami tiba di pemberhentian pertama, Kabupaten Jeneponto. Kami memarkir kendaraan di halaman Kantor PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Jeneponto, di Balang Toa, Kecamatan Binamu.
Setelah menempuh 84 kilometer dari Makassar, indikator baterai turun dari 90 persen menjadi 73 persen. Dasbor mencatat konsumsi energi rata-rata 15,7 kWh per 100 kilometer. Angka itu menjadi dasar untuk memperkirakan biaya perjalanan hingga Tanjung Bira.
Jika dihitung sederhana, perjalanan Makassar–Tanjung Bira sejauh kurang lebih 190 kilometer membutuhkan energi sekitar 29,83 kWh. Dengan tarif listrik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN senilai Rp2.400 per kWh, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp71.592.
Sebagai pembanding, biaya Pertamax mobil bensin untuk jarak yang sama diperkirakan Rp161.543. Berdasarkan perhitungan tersebut, biaya energi mobil listrik sekitar 55,7 persen lebih rendah.
Pengisian kendaraan listrik di SPKLU pun sesederhana mencolokkan kabel dan menunggu penuh. Pengguna bisa memilih skema prabayar atau pascabayar. Untuk prabayar, estimasi kebutuhan daya dibayar di awal. Sementara pada layanan pascabayar, konsumsi listrik dicatat secara real time dan ditagihkan sesuai pemakaian aktual.
Kedua skema itu terhubung penuh dengan aplikasi PLN Mobile. Aplikasi yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, melainkan juga media identifikasi kendaraan, pemilihan konektor, hingga otorisasi transaksi. Aplikasi ini juga berperan sebagai peta perjalanan. Pengguna dapat melihat sebaran SPKLU terdekat, mengecek ketersediaan konektor, hingga melakukan pemesanan terlebih dahulu.
2. Ruang Teduh SPKLU Jeneponto terintegrasi UMKM lokal

Hadirkan kenyamanan isi daya EV di Jeneponto, PLN resmikan Ruang Teduh dan kafe UMKM lokal. (IDN Times/Aan Pranata) Kantor PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Jeneponto berlokasi di Balang Toa, Kecamatan Binamu. Pada hari itu, General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah meresmikan pengoperasian SPKLU yang terintegrasi dengan Ruang Teduh, kedai kopi yang bekerja sama dengan kedai Bernama Cora Cafe. Area ini bisa digunakan pengemudi untuk beristirahat selama mobil mengisi daya.
SPKLU di lokasi ini berdampingan dengan kedai kopi, sehingga pengemudi bisa menunggu sambil beristirahat. Kerja sama tersebut juga melibatkan pelaku usaha lokal dalam layanan yang menyertai pengisian kendaraan listrik.
Ramli Usman, pengelola Cora Cafe, menjelaskan bahwa tempat ini adalah hasil kolaborasi lintas sektor. Kopi yang disajikan berasal dari petani binaan di kawasan Madaya, Sinjai, dan diseduh oleh barista lokal yang telah dilatih khusus.
"Hadirnya Cora Cafe ini diharapkan dapat menyerap kopi-kopi lokal. Ini kerja sama hulu ke hilir; petaninya kami bina, pengolahannya kami lakukan, dan penyajiannya pun di sini," ujar Ramli.
Kerja sama ini menghubungkan layanan pengisian kendaraan listrik dengan usaha kopi yang melibatkan petani dan barista lokal.
Edyansyah, usai prosesi pengguntingan pita, menegaskan bahwa pola kemitraan seperti ini adalah strategi PLN untuk mendekatkan infrastruktur EV kepada masyarakat. Tujuannya agar sambil mengisi daya, masyarakat bisa menikmati fasilitas yang nyaman.
"Ini inisiasi PLN bersama UMKM. Model seperti ini sudah kami terapkan di Parepare dan Watampone," kata Edyansyah.
Di lokasi ini, tersedia mesin pengisian berkapasitas daya 22 kW (medium charging). Untuk mobil listrik dengan kapasitas baterai standar sekitar 38 kWh, pengisian penuh membutuhkan waktu kurang dari dua jam, durasi yang pas untuk makan siang atau sekadar mengobrol santai.
3. Infrastruktur tumbuh sejalan dengan pemanfaatan kendaraan listrik

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah saat meresmikan SPKLU PLN Jeneponto, Kamis (11/12/2025). (IDN Times/Aan Pranata) Dari Jeneponto, perjalanan berlanjut menuju Bulukumba melalui jalur pesisir selatan Sulawesi. Bagi pengguna mobil listrik, ketersediaan SPKLU di sepanjang rute menjadi salah satu pertimbangan sebelum bepergian, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan pengisian daya di tengah perjalanan.
Di rute menuju Tanjung Bira, SPKLU tersedia di kantor PLN ULP Takalar, ULP Jeneponto, ULP Bantaeng, UP3 Bulukumba, dan Paduppa Resort. Keberadaan titik pengisian tersebut memberi pilihan bagi pengemudi yang membutuhkan tambahan daya selama perjalanan. Edyansyah mengatakan, fasilitas itu diharapkan memudahkan pengguna kendaraan listrik yang hendak berwisata ke Bira.
Dia menyebutkan, saat ini, PLN UID Sulselrabar resmi mengoperasikan 65 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 51 lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Ditargetkan di akhir tahun 2025 akan ada tambahan 14 unit SPKLU yang beroperasi.
"PLN juga akan menambah jumlah titik SPKLU di wilayah ini, termasuk di kawasan kampus dan area perkantoran, sebagai bagian dari strategi jangka panjang mendukung transisi energi bersih serta memperluas akses fasilitas kendaraan listrik yang ramah lingkungan," ucapnya.
Berdasarkan data PLN UID Sulselrabar, saat ini terdapat 1.019 unit kendaraan listrik yang beredar di wilayah ini, dengan rasio 1:11 dengan mesin pengecasan SPKLU. Angka ini lebih ideal dibandingkan rasio nasional yang berada di angka 1:25.
Asisten Manajer Niaga dan Pemasaran UP3 Bulukumba, Mallombassi, menjelaskan bahwa penambahan SPKLU dilakukan di tengah pertumbuhan pasar kendaraan listrik. Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menunjukkan jumlah kendaraan listrik nasional naik dari 28.190 unit pada 2023 menjadi 117.694 unit hingga September 2025.
"Sebaran SPKLU kini sudah menjangkau jalur-jalur utama Trans Sulawesi," jelas Mallombassi. "Kehadiran SPKLU di jalur wisata menjadi bagian upaya mendukung mobilitas kendaraan listrik, khususnya bagi wisatawan."
Lebih jauh, PLN memiliki peta jalan yang agresif. Tahun 2025 ini, jumlah SPKLU eksisting yang sebanyak 56 unit sedang ditambah lagi dengan 14 unit yang dalam proses pengerjaan. Target jangka panjangnya pun sudah dipatok. Pada tahun 2030, ditargetkan akan ada 685 unit SPKLU yang terpasang di seluruh wilayah kerja UID Sulselrabar.
Peningkatan infrastruktur ini berbanding lurus dengan pemanfaatannya. Data transaksi menunjukkan lonjakan signifikan. Jika pada tahun 2021 hanya tercatat ratusan transaksi di SPKLU, angka tersebut meroket menjadi 9.459 transaksi hingga Agustus 2025. Nilai rupiah dari transaksi listrik ini pun telah menembus angka Rp1 miliar secara kumulatif.
4. Nyaman berwisata dengan mobil listrik

Wisatawan mengabadikan momen liburan di Paduppa Resort, di Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, yang tersedia Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). (IDN Times/Aan Pranata) Setelah menempuh total jarak 190 kilometer, kami akhirnya tiba di kawasan wisata Tanjung Bira, Bulukumba pada petang hari. Tujuan akhir kami adalah Paduppa Resort. Di pelataran parkir resort yang menghadap laut ini, satu unit SPKLU berkapasitas 22 kW berdiri siap melayani.
SPKLU di area penginapan memberi pilihan bagi tamu yang ingin mengisi daya mobil selama bermalam. Dengan begitu, mereka tidak harus mencari lokasi pengisian lain sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Andi Faiz Fadillah, pemilik Paduppa Resort, menyambut kami. Sebagai pelaku bisnis pariwisata, ia melihat kehadiran infrastruktur ini sebagai solusi atas keluhan tamu-tamunya.
"Bira ini posisinya di ujung kaki Sulawesi. Sebelumnya, banyak tamu yang khawatir membawa mobil listrik ke sini karena takut tidak bisa balik ke Makassar. Dengan adanya SPKLU ini, kami menjawab kekhawatiran itu," ungkap Andi Faiz.
Dalam kerja sama tersebut, pihak resort menyediakan lahan, sedangkan PLN menyiapkan mesin pengisian dan sistem kelistrikannya. Andi Faiz menilai fasilitas itu bisa menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang menggunakan mobil listrik.
"Biaya perjalanan tamu jadi jauh lebih murah. Cukup Rp50 ribu sampai Rp60 ribu sudah bisa sampai ke sini. Ini peluang besar untuk green tourism," tambahnya. Andi bahkan berencana menambah satu unit lagi jika antusiasme komunitas EV terus meningkat, serta menyiapkan promo khusus seperti voucher kopi atau diskon menginap bagi pengguna mobil listrik.
Perjalanan dari Makassar ke Tanjung Bira menunjukkan bahwa pengguna mobil listrik memiliki beberapa pilihan lokasi pengisian daya di sepanjang rute. SPKLU di kantor-kantor PLN dan area Paduppa Resort memberi tempat untuk mengisi baterai sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, pengguna tetap perlu memperhitungkan jarak tempuh, sisa baterai, dan lokasi pengisian berikutnya sebelum berangkat.




















