BPS Catat Ketimpangan Pengeluaran Sulsel Menurun pada September 2025

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat perkembangan ketimpangan pengeluaran masyarakat yang menunjukkan perbaikan dalam jangka menengah. Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis Kamis (5/2/2026), Gini Ratio Sulawesi Selatan pada September 2025 kembali menurun setelah sempat berfluktuasi akibat berbagai tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
Gini Ratio merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran penduduk, dengan rentang nilai antara 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 0, distribusi pengeluaran dinilai semakin merata, sedangkan nilai yang mendekati 1 menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi.
1. Dari pandemi hingga 2025, ketimpangan Sulsel berangsur membaik

BPS mencatat sejak September 2021, Gini Ratio Sulawesi Selatan menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan menurun dalam jangka menengah. Pada masa pandemi COVID-19, ketimpangan pengeluaran berada pada level relatif tinggi, sebelum menurun hingga September 2022.
Namun, kondisi tersebut kembali berubah pada Maret 2023 seiring tekanan perekonomian global dan kenaikan harga bahan pokok yang mendorong peningkatan ketimpangan. Setelah itu, Gini Ratio kembali membaik hingga September 2024, sempat mengalami kenaikan terbatas pada Maret 2025, dan kembali menurun pada September 2025. Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun ketimpangan sempat meningkat akibat guncangan ekonomi, proses pemulihan sosial ekonomi mampu menjaga ketimpangan tetap terkendali di Sulawesi Selatan.
2. Ketimpangan perkotaan masih lebih tinggi dibanding perdesaan

Ditinjau berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio wilayah perkotaan Sulawesi Selatan pada September 2025 tercatat sebesar 0,363. Angka ini menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 0,373, serta lebih rendah dibandingkan September 2024 yang tercatat 0,369.
Sementara itu, Gini Ratio wilayah perdesaan pada September 2025 tercatat sebesar 0,315. Angka ini relatif stabil dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 0,333, namun sedikit lebih tinggi dibandingkan September 2024 yang berada di angka 0,330. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran di wilayah perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan, meskipun keduanya berada dalam kondisi yang relatif terkendali.
3. Pengeluaran 40 persen terbawah menguat, Sulsel masuk kategori rendah

Selain Gini Ratio, BPS juga mengukur ketimpangan melalui persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah sesuai kriteria Bank Dunia. Ketimpangan dikategorikan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok ini kurang dari 12 persen, sedang jika berada pada kisaran 12–17 persen, dan rendah apabila berada di atas 17 persen.
Pada September 2025, persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 19,24 persen, meningkat dibandingkan Maret 2025 sebesar 18,44 persen serta lebih tinggi dibandingkan September 2024 yang sebesar 18,71 persen. Berdasarkan capaian tersebut, ketimpangan pengeluaran Sulawesi Selatan masuk dalam kategori rendah. Secara spasial, persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah di wilayah perkotaan tercatat sebesar 18,76 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 20,59 persen, menunjukkan pemerataan pengeluaran yang relatif lebih baik di wilayah perdesaan.
Secara nasional, tingkat ketimpangan pengeluaran antarprovinsi masih menunjukkan variasi yang cukup lebar. Pada September 2025, Gini Ratio tertinggi tercatat di Provinsi Papua Selatan sebesar 0,426, sementara terendah berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,214. Dibandingkan dengan Gini Ratio nasional sebesar 0,363, sejumlah provinsi masih berada di atas rata-rata nasional, sementara Sulawesi Selatan tercatat berada pada kelompok provinsi dengan tingkat ketimpangan yang relatif terkendali.


















