Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masker Kembali Dicari di Tengah Menurunnya Kualitas Udara Makassar
Nurmia, penjual masker di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (13/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Kualitas udara Makassar memburuk akibat kabut asap dan panas menyengat, sehingga masker kembali dicari warga untuk mengurangi paparan polusi saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Pedagang di Jalan Sultan Alauddin mencatat sekitar 50 pembeli masker per hari, dengan harga Rp5 ribu per bungkus berisi dua lembar, meski belum menambah stok.
  • Warga, termasuk penderita asma dan alergi, mulai memakai serta membeli masker daring karena udara panas berasap mengganggu pernapasan dan kenyamanan aktivitas luar rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Udara panas terasa menyengat saat warga beraktivitas di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk karena paparan kabut asap, masker kembali menjadi salah satu barang yang dicari masyarakat untuk mengurangi paparan polusi saat berada di luar ruangan.

Di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Nurmia (51) tetap melayani pembeli masker di tengah aktivitasnya berjualan sehari-hari. Dia menjual berbagai peralatan berkendara, seperti sarung tangan, kaus kaki hingga masker. Namun dia mengaku penjualan masker cukup laku belakangan ini.

"Sekitar 50 pembeli sehari," kata Nurmia saat ditemui IDN Times di lapaknya, Selasa (13/10/2026).

Nurmia menjual masker dengan harga Rp5 ribu untuk satu bungkus kecil berisi dua lembar. Dia berjualan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WITA. Namun, hingga Selasa, dia belum menambah persediaan masker untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya permintaan.

1. Warga mulai menggunakan masker saat bepergian

Lapak penjual masker di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (13/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Bagi sebagian warga, masker menjadi salah satu perlengkapan yang mulai disiapkan ketika bepergian. Kekhawatiran terhadap kualitas udara mendorong masyarakat lebih memperhatikan perlindungan diri, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.

Ria (38), warga Makassar yang bekerja sebagai karyawan swasta, mengaku mulai lebih berhati-hati ketika keluar rumah. Terlebih lagi, dia memiliki riwayat asma dan alergi yang dapat kambuh ketika terpapar pemicu tertentu.

"Kondisi cuaca saat ini membuat saya harus memperhatikan aktivitas keluar rumah, apalagi saya sendiri mempunyai penyakit asma dan alergi yang bisa memicu kambuh, selain tentunya menyiapkan masker untuk mengurangi paparan udara yang sudah tidak sehat," kata Ria.

Dalam beberapa hari terakhir, dia mulai menggunakan masker saat bepergian. Ria juga memesan masker melalui layanan belanja daring sebagai persediaan untuk digunakan ketika beraktivitas.

Meski belum mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, mata perih, atau tenggorokan tidak nyaman, dia mengaku sempat merasakan ketidaknyamanan saat pulang dari kantor. Dia merasa udara yang panas dan berasap membuatnya tidak nyaman saat bernapas.

"Sejauh ini beberapa gejala belum ada, cuma tadi saat pulang dari kantor kondisi udaranya, anginnya sangat terasa panasnya, sehingga saat bernapas terasa tidak nyaman," tuturnya.

2. Aktivitas di luar rumah terasa lebih mengganggu

Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Penurunan kualitas udara juga memengaruhi kenyamanan Ria ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Dia merasa kondisi udara di luar rumah kini lebih menyengat dibandingkan biasanya.

Menurutnya, udara pada pagi hari yang biasanya terasa lebih segar kini tidak lagi memberikan kenyamanan yang sama. Panas yang terasa menyengat membuat aktivitas di luar rumah menjadi lebih mengganggu.

"Cukup mengganggu. Biasa pagi udaranya enak, masih segar walaupun mulai terik, tapi sekarang keluar dari rumah saja panasnya cukup menyengat di kulit," katanya.

3. Warga berharap penjualan masker tidak dimanfaatkan untuk mencari keuntungan berlebih

Ilustrasi masker. IDN Times/Asrhawi Muin

Pengalaman tersebut membuat Ria semakin memperhatikan kondisi tubuh dan perlindungan diri sebelum bepergian. Dia hanya bisa berharap kondisi kualitas udara segera membaik agar masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.

Ria berharap kondisi ini tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengambil keuntungan. Dia mengingatkan agar penjualan masker tidak dijadikan kesempatan untuk meraup untung secara berlebihan.

"Beberapa hari terakhir ini sudah mulai menggunakan dan juga saya mulai memesan masker melalui online. Semoga ini tidak menjadi kesempatan oknum tertentu mengambil keuntungan dari kondisi ini," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article