Udara Makassar Masih Buruk, Kapan Kondisi Ini Akan Berakhir?

- BMKG memprediksi kualitas udara Makassar dan sekitarnya berfluktuasi dari kategori sedang hingga tidak sehat sampai 15 Oktober 2026; PM2,5 di Maros tercatat 65 µg/m³.
- Akumulasi asap, debu, dan polutan setelah lebih dari tiga bulan tanpa hujan memperburuk kondisi; karhutla serta angin timur-tenggara berpotensi membawa asap ke Makassar.
- BMKG mengimbau warga memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup pintu-jendela, memperbanyak minum, dan memantau informasi resmi karena PM2,5 berisiko bagi kesehatan.
Makassar, IDN Times - Kualitas udara di Makassar dan sekitarnya masih perlu diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kualitas udara di wilayah tersebut akan berfluktuasi pada kategori sedang hingga tidak sehat selama tiga hari ke depan, atau hingga 15 Oktober 2026.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, mengatakan pemantauan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, pada Senin (12/10/2026) pukul 07.00 WITA menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2,5 mencapai 65 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
"Tiga hari ke depan (hingga 15 Oktober) diprediksi fluktuatif pada kategori sedang hingga tidak sehat," kata Amhar saat diwawancarai IDN Times melaui Whatsapp, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Perubahan kualitas udara dipengaruhi akumulasi polutan di atmosfer dan kondisi cuaca.
1. Kualitas udara dipengaruhi akumulasi polutan

Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Amhar menjelaskan memburuknya kualitas udara dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi akumulasi asap, debu, dan polutan lain yang melayang di udara. Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya hujan selama lebih dari tiga bulan.
"Akumulasi asap, debu, dan polutan lain yang melayang di udara, apalagi sudah lebih dari tiga bulan tidak hujan," katanya.
Amhar mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia juga masih berpotensi menyumbang asap. Di Sulawesi Selatan (Sulsel), kebakaran lahan juga dilaporkan masih terjadi di beberapa kabupaten dan kota.
"Saat ini masih terjadi karhutla di beberapa provinsi di Indonesia. Di Sulsel sendiri dilaporkan masih terjadi kebakaran lahan di beberapa kabupaten/kota," katanya.
Dia mengatakan angin lapisan atas di Sulsel umumnya masih bertiup dari arah timur hingga tenggara. Kondisi tersebut memungkinkan asap dari wilayah lain terbawa angin dan mencapai Makassar.
"Sementara itu, angin lapisan atas di Sulsel umumnya masih bertiup dari timur/tenggara. Sebaran asap yang tiba di Makassar bisa dari asap yang terbawa angin dari wilayah lain," jelasnya.
2. Hujan dapat membantu membersihkan udara

Ilustrasi hujan (IDN Times/Irwan Idris) Amhar mengatakan hujan berperan dalam mengurangi konsentrasi partikel pencemar yang melayang di atmosfer. Partikel seperti debu, asap, dan polutan lain dapat terbawa turun ke permukaan tanah bersama air hujan sehingga udara menjadi lebih bersih.
"Hujan sangat berpengaruh karena hujan ini berperan sebagai salah satu yang membersihkan udara," tuturnya.
Meski demikian, kondisi kualitas udara tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk sumber polutan dan kondisi atmosfer. Karena itu, hujan dapat membantu memperbaiki kualitas udara, tetapi tidak menjamin kondisi langsung kembali normal jika sumber pencemaran masih berlangsung.
3. BMKG imbau warga kurangi aktivitas luar ruangan

Kondisi langit di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang tampak berkabut pada Senin (5/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan fisik di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Warga juga disarankan menutup jendela dan pintu rumah untuk mengurangi masuknya polutan dari luar, menjaga kesehatan, serta memperbanyak minum air putih.
Paparan PM2,5 dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Partikel halus ini juga berisiko memperburuk penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi resmi BMKG. Warga juga diharapkan mengikuti imbauan dari instansi terkait untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan polutan.





















