Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kualitas Udara Makassar Masih Tidak Sehat, PM2.5 di Level 65

Kota Makassar
2 min read
Kualitas Udara Makassar Masih Tidak Sehat, PM2.5 di Level 65
Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Maros mencapai 65 µg/m³ pada Senin pukul 07.00 WITA, menempatkan kualitas udara Makassar dan sekitarnya dalam kategori tidak sehat.
  • Level PM2.5 tersebut sekitar 4,3 kali pedoman batas rata-rata harian WHO sebesar 15 µg/m³ dan berisiko mengiritasi saluran pernapasan, terutama kelompok rentan.
  • BMKG mengimbau warga memakai masker, mengurangi aktivitas fisik luar ruangan, menutup pintu-jendela, serta memantau informasi resmi kualitas udara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Kualitas udara di Makassar dan sekitarnya perlu diwaspadai pada Senin (12/10/2026). Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 65 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 07.00 WITA, dengan kategori tidak sehat.

PM2.5 merupakan partikel pencemar udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel ini berisiko menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Berdasarkan grafik riwayat pemantauan BMKG, konsentrasi PM2.5 di Maros sempat berada pada kategori sedang sebelum kembali meningkat menjadi 65 µg/m³ pada pukul 07.00 WITA. Angka 65 sekitar 4,3 kali lipat dari pedoman batas rata-rata harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 µg/m³.

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan fisik di luar ruangan. Warga juga disarankan menutup jendela dan pintu rumah untuk mengurangi masuknya polutan dari luar.

Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan partikel halus. Masyarakat diharapkan memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi resmi BMKG dan menjaga kesehatan selama kondisi udara belum membaik.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More