Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kualitas Udara Makassar Kembali Tidak Sehat, BMKG Sebut Efek Karhutla

Kota Makassar
3 min read
Kualitas Udara Makassar Kembali Tidak Sehat, BMKG Sebut Efek Karhutla
Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Kualitas udara Makassar kembali tidak sehat sejak Jumat malam, dengan konsentrasi PM2,5 di atas 55 mikrogram per meter kubik hingga Sabtu siang.
  • BMKG menyebut asap kiriman dari luar Sulawesi dan potensi karhutla lokal dapat menyumbang partikulat yang terbawa angin ke Makassar.
  • Kondisi buruk berpotensi bertahan beberapa hari, bergantung pada penanganan karhutla, turunnya hujan, dan perubahan arah angin; BMKG terus memantau situasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembalitampak kelabu tanpa awan pada Sabtu (10/10/2026). Berdasarkan pantauan IDN Times, udara juga terlihat berkabut dan berdebu, terutama ketika diamati dari ketinggian.

Kondisi tersebut terjadi ketika kualitas udara di Makassar dan sekitarnya kembali memburuk. Setelah sempat membaik ke kategori sedang, konsentrasi partikulat PM2,5 kembali meningkat hingga masuk kategori tidak sehat sejak Jumat (9/10/2026) malam. Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, mengatakan peningkatan konsentrasi PM2,5 masih terpantau hingga Sabtu siang.

"Jadi, yang sebelumnya itu sudah mulai turun menjadi level sedang, nah sejak kemarin malam ini naik kembali ke level tidak sehat atau di atas 55 mikrogram per meter kubik, seperti itu. Sampai siang ini juga masih terpantau dalam kategori tidak sehat," kata Rizky saat diwawancarai melalui telepon, Sabtu (10/10/2026).

  1. 1. Karhutla lokal berpotensi memperburuk kualitas udara

    IMG-20261010-WA0167.jpg
    Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Rizky mengatakan penurunan kualitas udara di Makassar tidak hanya berpotensi dipengaruhi kiriman asap dari luar Sulawesi. Titik panas atau potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi sendiri juga dapat menjadi sumber partikulat yang mencemari udara.

    "Jadi, selain ada potensi dari kiriman asap dari luar daerah Sulawesi, dari Sulawesi-nya sendiri juga berpotensi untuk memberikan kontribusi atau sumbangsih asap di wilayah Makassar dan sekitarnya," katanya.

    Partikel hasil pembakaran dapat terbawa angin hingga mencapai kawasan perkotaan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsentrasi PM2,5 di udara dan memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.

  2. 2. Kualitas udara berpotensi buruk beberapa hari ke depan

    IMG_20261005_140337.jpg
    Kondisi langit di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang tampak berkabut pada Senin (5/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    BMKG belum dapat memastikan kapan kualitas udara di Makassar akan kembali membaik. Menurut Rizky, kondisi tersebut bergantung pada penanganan sumber kebakaran, potensi hujan, serta perubahan arah angin.

    Jika karhutla masih berlangsung, maka kualitas udara yang buruk berpotensi bertahan selama beberapa hari ke depan. Kondisi ini juga bergantung pada ada tidaknya hujan yang dapat membantu mengurangi konsentrasi partikulat di atmosfer.

    "Kualitas udara ini kan sumbernya dari kebakaran hutan dan lahan ya. Jadi, kalau misalkan sumbernya ini masih belum teratasi, ya potensi untuk penurunan kualitas udara ini juga masih ada di wilayah Sulawesi," kata Rizky.

    Dia menjelaskan hujan dapat membantu mengurangi partikulat di udara. Sebaliknya, jika belum ada potensi hujan yang memadai, maka konsentrasi PM2,5 berpotensi tetap tinggi.

    "Apalagi juga kalau belum adanya potensi hujan yang bisa membantu mengurangi kualitas udara ini, jadinya apa namanya, konsentrasi yang kurang baik ini bisa masih bisa bertahan sampai beberapa hari ke depan, tergantung juga dengan arah anginnya juga," tuturnya.

  3. 3. Perubahan arah angin memengaruhi konsentrasi PM2,5

    Kantor Balai BMKG Wilayah IV Makassar. (IDN Times/Asrhawi Muin)
    Kantor Balai BMKG Wilayah IV Makassar. (IDN Times/Asrhawi Muin)

    Selain aktivitas karhutla dan potensi hujan, arah angin turut menentukan kondisi kualitas udara di Makassar. Perubahan arah angin dapat memengaruhi pergerakan asap sehingga konsentrasi partikulat di suatu wilayah ikut berubah.

    Rizky membenarkan bahwa perubahan arah angin berpengaruh terhadap kondisi udara yang sebelumnya sempat membaik, tetapi kembali memburuk. Menurutnya, apabila arah angin berubah sehingga tidak lagi membawa asap menuju Sulawesi Selatan, maka konsentrasi PM2,5 di wilayah tersebut berpotensi menurun.

    "Iya, betul, dipengaruhi arah angin, " katanya saat dikonfirmasi mengenai pengaruh arah angin terhadap perubahan kualitas udara.

    Hingga kini, BMKG terus memantau perkembangan konsentrasi PM2,5 dan kondisi atmosfer di Sulawesi Selatan. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara karena kondisi tersebut masih dapat berubah dalam beberapa hari ke depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More