Korban Jiwa Akibat Banjir Bandang di Masamba Diprediksi Bertambah

Makassar, IDN Times - Tim SAR gabungan masih terus berupaya mencari dan menyelamatkan korban banjir bandang yang menerjang Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani bahkan telah menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari terhitung sejak 14 Juli 2020.
Hingga Minggu (19/7/2020), Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penananggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 36 orang meninggal dunia, 40 masih hilang, dan 58 orang luka-luka. Namun Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, memperkirakan jumlah korban meninggal masih akan meningkat.
"Sampai saat ini memang 36 orang ini yang menjadi korban jiwa. Jadi potensi kemungkinan (korban jiwa bertambah) masih bisa karena tertimbun lumpur yang mungkin akan kesulitan dalam akses untuk mencari," kata Raditya dalam konferensi pers BNPB via daring, Minggu (19/7/2020).
1. Proses pencarian korban terus dilakukan

Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Luwu Utara, BPBD Kota Palopo, Basarnas, PMI, Tagana Kabupaten Luwu Utara, petugas Damkar Luwu dibantu oleh unsur TNI/Polri beserta warga, hingga kini terus fokus untuk mencari dan dan mengevakuasi korban.
Lokasi pencarian korban dibagi menjadi 6 titik yaitu, Perumahan Kelapa Gading Asri dan Perumahan Savana Graha Radda. Lalu di Jalan Masamba-Tomini , Puncak Meli, Petambua. Lingkar Tugu Coklat dan Jalan Poros Masamba-Tomini. Kemuddian di Jalan Ir Soekarno (Jalan Poros Masamba-Tomini, Bandara Andi Djemma). Jalan Lesangi dan Jalan Poros Malangke, serta RS Andi Djemma Masamba Kelurahan Bone Tua.
"Proses pencarian korban akan berlangsung selama satu minggu dan bila mana memang nanti masih dibutuhkan untuk mencari lagi, Basarnas akan tetap melakukan stand by dan bisa melakukan proses lebih lanjut," kata Raditya.
2. Sebanyak 14.483 orang mengungsi

Selain menelan korban jiwa, banjir bandang yang menerjang pada 13 Juli 2020 lalu itu juga mengakibatkan 14.483 orang atau 3.627 keluarga mengungsi. Mereka berasal dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Masamba, Baebunta, dan Sabbang. Dia antara mereka, ada yang merupakan kelompok rentan yaitu 2.530 orang lansia, 870 orang balita yang di antaranya 124 orang bayi, dan 137 orang ibu hamil.
"Kelompok rentan ini akan memudahkan bagi tim yang melakukan bantuan dalam hal logistik dan seterusnya bisa dilaksanakan dengan baik," kata Raditya.
Adapun jumlah pengungsian yang tercatat saat ini ada di 76 titik di 3 kecamatan tersebut. Dalam satu pengungsian, terdiri dari 70-100 orang. Hunian sementara juga sudah disiapkan, 20 tenda sudah siap dibangun.
3. Banjir mengakibatkan kerusakan infrastruktur

Banjir bandang tersebut tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mergakibatkan kerusakan infrastruktur. Sebanyak 9 unit sekolah, 13 unit rumah ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, dan 8 kantor pemerintahan mengalami kerusakan.
Jalan sepanjang 12,8 km dan 9 unit jembatan juga ikut terdampak. Akses Jalur Poros Masamba-Baebunta, Jalan Poros di Kecamatan Sabbang menuju Desa Malimbu juga masih tertimbun lumpur dan hanya bisa dilalui oleh kendaraann roda dua. Sementara itu, 219 hektare lahan pertanian dan 241 hektare lahan persawahan juga tak luput dari terjangan banjir.
Infrastruktur lainnya yang juga mengalami kerusakan yaitu 100 meter pipa air bersih, 2 bendungan irigasi, 1 pasar tradisional, 61 unit mikro usaha, bahkan 1 unit peralatan dapur umum BPBD terbawa hanyut pada saat penanganan Sungai Masamba.



















