Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kapan Awal Puasa Ramadan 2026? Simak Penjelasannya di Sini!

Ilustrasi pengamatan hilal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Ilustrasi pengamatan hilal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Tak terasa, bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sudah di depan mata. Euforia umat Muslim menyambut bulan puasa di tahun 2026 ini mulai terasa, dengan mulai mempersiapkan diri menjalankan kewajiban.

Allah SWT mewajibkan puasa Ramadan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa…”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dasar kewajiban puasa, sekaligus menegaskan bahwa pelaksanaan puasa berkaitan langsung dengan masuknya bulan Ramadan.

Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, pertanyaan yang paling sering muncul di benak masyarakat adalah: kapan tepatnya kita mulai berpuasa? Apakah tahun ini awal puasa akan serentak atau ada perbedaan?

Berikut penjelasan lengkap mengenai jadwal 1 Ramadan 1447 H.

1. Muhammadiyah sudah tetapkan tangal sejak jauh hari

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Berbeda dengan pemerintah yang menunggu pemantauan hilal di akhir bulan Syakban, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jauh-jauh hari. Menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, Muhammadiyah tidak bergantung pada terlihat atau tidaknya bulan secara fisik, melainkan pada posisi geometris benda langit.

Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini diambil karena berdasarkan perhitungan hisab, pada hari Selasa (17 Februari 2026), ijtimak (konjungsi) telah terjadi dan posisi hilal saat matahari terbenam sudah berada di atas ufuk. Bagi warga Muhammadiyah, persiapan tarawih perdana akan dimulai pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Dengan metode tersebut, Muhammadiyah dapat menentukan awal bulan Hijriah jauh sebelum waktunya, tanpa harus menunggu proses pengamatan hilal di lapangan. Penetapan ini juga merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi acuan Muhammadiyah dalam beberapa tahun terakhir.

Karena sifatnya yang berbasis perhitungan, jadwal Ramadan versi Muhammadiyah umumnya sudah bisa diketahui sejak awal tahun.

2. Pemerintah tunggu sidang isbat untuk putuskan awal puasa

Sidang isbat Kemenag RI. FOTO/Tangkapan layar YouTube Kemenag RI
Sidang isbat Kemenag RI. FOTO/Tangkapan layar YouTube Kemenag RI

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI belum menetapkan tanggal pasti 1 Ramadan 1447 H. Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan ormas Islam lainnya menggunakan metode Rukyatul Hilal (pengamatan langsung) yang dikombinasikan dengan data hisab (astronomi).

Kepastian awal puasa versi pemerintah baru akan diputuskan melalui Sidang Isbat yang rencananya digelar pada akhir bulan Syaban. Dalam sidang tersebut, Kemenag akan menerima laporan dari puluhan titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia, di samping mempertimbangkan hisab. Hasil sidang isbat inilah yang kemudian menjadi dasar penetapan awal puasa Ramadan secara nasional dan diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

3. Kriteria MABIMS jadi penentu

Pemantauan hilal di Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
Pemantauan hilal di Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Dalam penyusunannya, Pemerintah menggunakan kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) sebagai acuan. Syarat masuknya bulan baru adalah ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Standar ini merupakan hasil kesepakatan bersama negara-negara serumpun yang mengintegrasikan pendekatan hisab dan rukyat secara ilmiah dan moderat.

Penerapan standar ini bertujuan untuk mengurangi potensi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sekaligus memperkuat sinergi regional dalam penentuan kalender Islam.

4. Kenapa penetapan awal Ramadan bisa berbeda?

Ilustrasi perempuan sedang berpuasa ramadan (pexels.com/Thirdman)
Ilustrasi perempuan sedang berbuka puasa di bulan Ramadan. (pexels.com/Thirdman)

Perbedaan penetapan awal Ramadan bukan hal baru di Indonesia. Hal ini terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing pihak.

Muhammadiyah konsisten menggunakan hisab, sementara pemerintah mengombinasikan hisab dan rukyat. Dalam beberapa tahun, perbedaan metode ini bisa menghasilkan tanggal awal puasa yang berbeda satu hari.

Penentuan awal Ramadan secara lebih teknis dijelaskan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu hadis yang paling sering dijadikan rujukan berbunyi:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi landasan utama praktik rukyatul hilal (pengamatan bulan) yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia. Selain rukyat, terdapat pula hadis yang menjadi dasar munculnya pendekatan hisab atau perhitungan astronomi, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi SAW:

“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu begini dan begini (kadang 29 hari, kadang 30 hari).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama memahami hadis ini sebagai penegasan kondisi umat saat itu, sementara ulama lain menafsirkannya sebagai ruang bagi penggunaan ilmu pengetahuan modern, yang kemudian menjadi dasar metode hisab seperti yang digunakan Muhammadiyah.

Baik rukyat maupun hisab sama-sama memiliki landasan syariat dan telah lama dipraktikkan di dunia Islam. Perbedaan metode inilah yang kerap menyebabkan penetapan awal Ramadan tidak selalu bersamaan, meski tujuan akhirnya sama, yakni memastikan ibadah puasa dilaksanakan sesuai tuntunan agama.

Meski demikian, masyarakat diimbau tetap menjaga sikap saling menghormati dan menunggu pengumuman resmi pemerintah untuk kepastian awal Ramadan secara nasional.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Kapan Awal Puasa Ramadan 2026? Simak Penjelasannya di Sini!

26 Jan 2026, 10:25 WIBNews