TPA Tamangapa, Antang, Makassar. (Dok. IDN Times)
Kasrudi menilai pembangunan PSEL tidak bisa terus ditunda karena Kota Makassar saat ini menghadapi persoalan sampah yang semakin mendesak. Dia menyebut produksi sampah harian Kota Makassar mencapai sekitar 1.100 ton per hari.
Selain menimbulkan persoalan lingkungan, aktivitas pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir juga kerap memicu kemacetan lalu lintas. Karena itu, percepatan pembangunan PSEL dianggap menjadi salah satu solusi jangka panjang yang dibutuhkan kota ini.
"Jadi kalau kita menunda lagi, berlarut-larut, yang dikorbankan ya warga Kota Makassar. Karena sampah di Makassar per hari itu 1.100 ton, jadi yang dikorbankan masyarakat. Mulai aromanya, belum lagi macetnya, dan sebagainya," ujarnya.
Kasrudi menambahkan seluruh tahapan administrasi dan kajian proyek telah berjalan, termasuk proses tender yang telah menghasilkan pemenang. Oleh sebab itu, menurut dia, pembangunan PSEL seharusnya segera dimulai.
Sementara itu, untuk kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang di Kecamatan Manggala, dia mengatakan lokasi tersebut nantinya direncanakan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta area bermain anak yang aman dan inklusif.
"Nah untuk TPA Antang nanti kami akan jadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau ruang bermain anak. Karena kasihan warga kita di Tamangapa itu, sudah lama menghirup aroma sampah yang tidak sedap itu," katanya.