Diskusi di Makassar, Alam Ganjar Tampung Aspirasi Relawan

Makassar, IDN Times - Muhammad Zinedine Alam Ganjar, putra calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo, bertemu sejumlah kelompok relawan di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5/12/2023).
Dalam pertemuan, yang berlangsung di Popsa District, Kecamatan Ujung Pandang, Alam berdiskusi dan menampung aspirasi tentang sejumlah isu strategis. Pertemuan dihadiri sejumah kelompok relawan Ganjar Pranowo, seperti Ganjarist, Sahabat Ganjar, Garuda Milenial, Srikandi Ganjar, Banteng Muda Indonesia, dan lain-lain.
1. Pemerintah perlu mengalokasikan dana riset

Dari sejumlah diskusi yang muncul, ada satu pertanyaan menarik, salah satunya terkait riset. Alam menilai, pentingnya negara untuk mengembangkan dana riset secara lebih optimal dalam menciptakan hal-hal baru untuk kemajuan suatu negara.
"Kita bisa lihat contoh-contoh di negara lain yang mengalokasikan dana riset cukup besar karena dana riset pun menjadi sebuah basis bagaimana terobosan baru diciptakan oleh negara, setidaknya memfasilitasi teman-teman untuk berkreasi," kata Alam dalam keterangan yang dikutip, Rabu (6/12/2023).
2. Anggaran riset yang dialokasikan pemerintah Indonesia masih kecil

Mengutip data UNESCO, Alam menyebut besaran anggaran riset yang dialokasikan pemerintah Indonesia pun masih sangat rendah. Yaitu 0,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto pada 2021.
Jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, jumlah itu masih kecil. Misalnya dibandingkan dengan Thailand (0,5 persen), Malaysia (1,3 persen), dan Singapura (2,1 persen).
Rendahnya alokasi dana riset dianggap jadi penyebab banyak peneliti muda kesulitan untuk mendapatkan akses riset yang memadai. Sehingga menyebabkan ketimpangan dalam pengembangan penelitian di Indonesia.
3. Alam menganggap data riset satu pintu lebih baik

Selain itu, Alam pun mencermati bagaimana data riset di Indonesia yang tidak satu pintu. Alam melihat seringkali ada data riset yang berbeda dalam cakupan yang sama.
Untuk itu, menurut Alam pentingnya data riset yang terintegrasi satu pintu guna memudahkan para peneliti untuk memperoleh informasi yang sama.
"Nanti akan ada satu data, dimana satu data itu akan dipakai untuk keseluruhan lembaga negara, data tersebut akan terintegrasi sehingga tidak ada tumpang tindih dan perbedaan data antar lembaga, apabila nantinya ada persoalan hal tersebut akan lebih mudah evaluasi karena aksesnya satu pintu," ucap Alam.



















