Dipanggil Polisi, Rocky Gerung Pilih Hadiri Diskusi di Makassar

Makassar, IDN Times - Rocky Gerung tidak memenuhi panggilan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, untuk menjalani pemeriksaan laporan dugaan tindak pidana penistaan agama karena menyebut kitab suci adalah fiksi.
Mantan pengajar jurusan Filsafat Universitas Indonesia ini lebih memilih menghadiri diskusi politik di Makassar, yang bertajuk “Ngobrol Politik Bareng Rocky” di Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (31/1/2019).
“Hari ini saya dipanggil untuk diperiksa, untuk sesuatu laporan dungu dari tim sukses Pak Jokowi. Itu dari peristiwa setahun lalu, kok tidak diproses-proses. Ketika saya keliling blusukan akal sehat di hampir semua provinsi, tiba-tiba dipanggil polisi, ngapain?” ujar Rocky.
1. Rocky bantah pernah mengatakan kitab suci adalah fiksi

Rocky membantah pernah mengatakan kitab suci adalah fiksi. Menurutnya, pelaporan atas dirinya karena mengatakan kitab suci adalah fiksi, merupakan penggalan kalimat yang tidak utuh, dalam salah satu acara obrolan di stasiun tv. Menurut Rocky, fiksi menghasilkan imajinasi itu sebagai hal positif dan berbeda dengan kata fiktif yang berarti bohong.
“Saya bilang bila fiksi itu menghasilkan imajinasi, maka kitab suci juga adalah fiksi karena menghasilkan imajinasi, kalau gak setuju fiksi menimbulkan imajinasi, ya sudah, selesai. Dibilang saya menghina agama, agama siapa yang saya hina, saya tidak sebut apa-apa di situ, apa yang saya hina,” pungkas Rocky.
2. Rocky sebut imajinasi setiap orang tentang surga neraka berbeda-beda

Rocky menambahkan, ketika dirinya membayangkan surga, ia mengimajinasikan surga seperti taman bunga dan hutan lestari, karena ia sangat menyukai masuk hutan dan naik gunung. Menurut Rocky, setiap orang berbeda-beda imajinasinya tentang surga dan neraka, karena tidak ada standar baku tentang surga dan neraka.
“Saya membayangkan keinginan saya masuk surga seharum saya masuk hutan, karena hobi saya naik gunung. Buat anak 10 tahun ke depan, surga yang hutannya sudah jadi lahan perumahan, tidak lagi berimajinasi surga sama seperti hutan, mungkin dia berimajinasi surga seperti mall yang indah, karena mereka hobinya masuk-keluar mall,” tutur Rocky.
3. Rocky sebut orang yang akan mendakwanya tidak pernah berpikir abstrak

Rocky menganggap laporan atas dirinya sesuatu yang tidak benar. Rocky menjelaskan perbedaan kata fiksi dan fiktif, termasuk tentang fiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti novel.
“Orang yang akan mendakwa saya pasti tidak pernah berpikir abstrak. Kenapa tidak pernah berpikir abstrak karena doktrinnya kerja, kerja, kerja. Bukan pikir, pikir, pikir. Padahal politik adalah urusan pikiran, demokrasi urusan akal,” tandas Rocky.



















