Palu, IDN Times - “Sejak ada orang yang positif corona di Palu, kehidupannya kita terasa betul sulitnya.” Kalimat itu dilontarkan Saadiyah, salah satu penyintas bencana gempa dan likuefaksi yang menerjang wilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 silam. Hingga saat ini, Saadiyah masih bertahan tinggal di tenda darurat yang dibangun pemerintah di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, sebab rumah dia di Perumnas Balaroa lenyap ditelan tanah.
Situasi sulit yang dirasakan Saadiyah tak jauh berbeda dengan sejumlah warga yang juga menempati tenda darurat. Di saat harta benda telah lenyap karena likuefaksi, COVID-19 malah hadir menambah kesulitan hidup.
Saadiyah bersama suami mengaku begitu cemas akan keberlangsungan perekonomian keluarga. Apalagi mereka masih harus mencukupi kebutuhan empat orang anak tersayang.
