Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Makassar Ingatkan Risiko Kebakaran Meningkat Selama Musim Kemarau
ilustrasi petugas damkar (pixabay.com/JonPauling)
  • BMKG Makassar memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau akibat kondisi cuaca kering dan kelalaian masyarakat seperti membuang puntung rokok sembarangan.
  • Suhu udara di Makassar diperkirakan mencapai 35–37 derajat Celsius, sehingga masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan dan memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi.
  • Fenomena El Nino membuat musim kemarau tahun ini lebih panjang dengan curah hujan rendah, berdampak pada kekeringan namun memberi peluang hasil tangkapan ikan lebih banyak bagi nelayan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Musim kemarau yang mulai menguat di Kota Makassar tidak hanya memicu cuaca lebih panas dan berkurangnya curah hujan, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap potensi munculnya titik api selama periode kemarau.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, mengatakan kondisi cuaca yang kering selama musim kemarau membuat berbagai material, seperti rumput kering, dedaunan, dan sampah, lebih mudah terbakar. Menurutnya, kelalaian kecil, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah tanpa pengawasan, dapat memicu kebakaran yang berpotensi meluas.

"Untuk daerah-daerah yang lagi musim kemarau, hati-hati terhadap titik-titik api. Jangan sembarang buang puntung rokok, takutnya kena daun, kebakaran atau bagaimana," kata Asriani kepada IDN Times, melalui sambungan telepon, Senin (20/7/2026).

1. Cuaca kering membuat risiko kebakaran meningkat

ilustrasi kebakaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Asriani menjelaskan musim kemarau tahun ini diperkirakan terasa lebih panjang karena dipengaruhi fenomena El Nino. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan menurun dan membuat lingkungan menjadi lebih kering.

Menurut Asriani, laporan kejadian kebakaran cenderung lebih sering muncul selama musim kemarau. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari tindakan yang berpotensi memicu munculnya titik api.

"Sering sekali saya lihat laporan kebakaran. Sayang kalau gara-gara puntung rokok rumah habis," katanya.

2. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas saat cuaca terik

Ilustrasi terik matahari (IDN Times/Lia Hutasoit)

Selain risiko kebakaran, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan selama musim kemarau. Suhu udara di Makassar diperkirakan dapat mencapai 35 hingga 37 derajat Celsius pada puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September.

Asriani mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca sedang terik, terutama pada siang hingga sore hari ketika suhu udara mencapai puncaknya. Dia juga mengingatkan masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi selama musim kemarau.

"Mulai kita hemat air. Kurangi aktivitas di luar ruangan karena sekarang ini bahkan jam 9 pagi saja sudah mulai menyengat. Jam 5 sore pun masih terasa panas. Perbanyak minum air putih," katanya.

3. Kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan terasa lebih panjang dibandingkan tahun lalu karena dipengaruhi fenomena El Nino. Berbeda dengan 2025 yang dipengaruhi La Nina, El Nino menyebabkan curah hujan berada di bawah kondisi normal.

Asriani mengatakan Kota Makassar saat ini bahkan telah mengalami sekitar 30 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga puncak musim kemarau pada Agustus-September.

"Dampaknya diperkirakan hampir sama dengan El Nino pada 2023. Berdasarkan pembaruan terakhir, El Nino tahun ini berada pada kategori lemah hingga moderate, sehingga kondisinya relatif mirip dengan yang terjadi pada 2023," kata Asriani.

4. Kemarau tetap punya dampak positif

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Di sisi lain, Asriani mengatakan fenomena El Nino tidak selalu membawa dampak negatif. Pada musim kemarau yang kering, nelayan justru berpotensi memperoleh hasil tangkapan ikan yang lebih banyak.

Menurutnya, kondisi laut saat musim kemarau membuat plankton naik ke permukaan. Kondisi tersebut menyebabkan ikan berkumpul di area yang sama sehingga lebih mudah ditangkap nelayan.

"El Nino itu sebenarnya tidak cuma membawa dampak negatif. Ada juga dampak positifnya bagi nelayan. Kalau musim kering sekali, biasanya tangkapan ikan akan lebih banyak karena plankton-plankton itu naik, jadi lebih banyak ikan yang didapat nelayan," katanya.

Sebaliknya, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terdampak musim kemarau. Terutama sawah tadah hujan dan tanaman yang bergantung pada curah hujan.

"Tapi memang kalau masyarakat umum pasti yang dia rasakan kalau sudah dengar musim kemarau pasti kesulitan air bersih ya," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article