Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benteng Somba Opu Dipugar, Disiapkan Jadi Wisata Sejarah
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memulai revitalisasi Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (Dok. Humas Kemenbud)
  • Kementerian Kebudayaan memulai revitalisasi Benteng Somba Opu di Gowa pada 27 Oktober 2026 untuk menjaga keaslian situs Kerajaan Gowa dan mengembangkannya sebagai wisata sejarah-edukasi.
  • Pemugaran tahap awal menargetkan dinding selatan sepanjang 101 meter dan Bastion Maccini Sombala, memakai bata tradisional perajin Takalar serta melibatkan arkeolog dan konservator hingga Desember 2026.
  • Pemerintah menyiapkan kawasan sebagai ruang budaya, edukasi, kuliner lokal, dan peluang ekonomi warga; Pemprov Sulsel juga mendorong status Benteng Somba Opu sebagai cagar budaya nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memulai revitalisasi Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, melalui peletakan batu pertama oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Selasa (27/10/2026). Pemugaran ini diarahkan untuk menjaga keaslian struktur benteng sekaligus mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman serta Plt Bupati Gowa Darmawangsyah Muin turut mendampingi Fadli Zon dalam kegiatan tersebut.

Revitalisasi Benteng Somba Opu menjadi upaya menghidupkan kembali salah satu peninggalan penting Kerajaan Gowa. Pemerintah berharap kawasan bersejarah ini dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah, aktivitas kebudayaan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

1. Pemugaran menyasar dinding selatan dan Bastion Maccini Sombala

Salah satu bagian di kawasan Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Pekerjaan revitalisasi dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan dengan fokus pada dinding selatan benteng dan Bastion Maccini Sombala. Berdasarkan kajian teknis, total panjang segmen struktur yang dikaji mencapai 638,91 meter, sedangkan pemugaran tahap awal direncanakan menyasar empat segmen dengan panjang keseluruhan 567,24 meter secara bertahap.

Pada 2026, pekerjaan dinding benteng ditargetkan mencapai panjang 101 meter dengan melibatkan sekitar 50 tenaga kerja dan kebutuhan sekitar 70 ribu batu bata. Sementara itu, pemugaran Bastion Maccini Sombala melibatkan 30 tenaga kerja dengan estimasi kebutuhan 40 ribu batu bata.

Material yang digunakan dirancang menyerupai konstruksi asli benteng. Batu bata berukuran panjang 24 sentimeter, lebar 14 sentimeter, dan tebal 4 sentimeter tersebut diproduksi secara tradisional oleh perajin lokal di Kabupaten Takalar.

Tahapan pekerjaan meliputi dokumentasi kondisi awal, pembersihan area, penggalian dasar, penguatan struktur, pemasangan batu kosong, pengisian pasir urug, pengecoran lantai kerja, hingga pemasangan bata pengikat pada sisi luar dinding. Seluruh proses melibatkan tim ahli, termasuk arkeolog dan konservator, dengan target penyelesaian pekerjaan pada Desember 2026.

2. Benteng Somba Opu diarahkan menjadi investasi kebudayaan

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memulai revitalisasi Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (Dok. Humas Kemenbud)

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa pemugaran situs bersejarah perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran anggaran. Menurutnya, pelestarian warisan budaya dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kebudayaan sekaligus kesejahteraan masyarakat.

“Revitalisasi ini merupakan investasi, bukan sekadar cost center. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Karena itu, aset budaya bersejarah seperti Benteng Somba Opu harus kita rawat dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Fadli dalam siaran pers yang diterima Rabu (28/10/2026).

Penataan kawasan diarahkan untuk mengembalikan bentuk dan fungsi benteng dengan tetap memperhatikan keaslian material serta kaidah arkeologis. Kawasan ini juga diproyeksikan mengintegrasikan wisata sejarah, edukasi, budaya, hingga kuliner lokal.

Fadli berharap Benteng Somba Opu dapat berkembang menjadi ruang publik yang aktif dan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kebudayaan. Selain memperkuat pelestarian sejarah, pemanfaatan kawasan tersebut diharapkan ikut mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

“Kita berharap kawasan ini tidak hanya terawat, tetapi juga dapat menjadi ruang kegiatan budaya, seperti konser musik hingga jambore budaya, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan begitu, pelestarian warisan budaya dapat berjalan bersama dengan pemanfaatan yang berkelanjutan,” katanya.

3. Pemprov Sulsel dorong Benteng Somba Opu menjadi cagar budaya nasional

Benteng Somba Opu pada tahun 1638, berdasarkan peta yang dibuat oleh East India Company pada 1670. (Wikimedia Commons)

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap pelestarian Benteng Somba Opu. Ia menilai kawasan tersebut memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan perlu diwariskan kepada generasi mendatang.

“Benteng Somba Opu merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan dan kejayaan Kerajaan Gowa. Kita berharap melalui revitalisasi ini, Benteng Somba Opu dapat kembali menjadi kawasan bersejarah yang terjaga sekaligus destinasi wisata edukasi,” ujar Andi Sudirman.

Ia juga menyampaikan bahwa Menteri Kebudayaan berkomitmen mendorong Benteng Somba Opu menjadi cagar budaya nasional. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan dan pelestarian situs bersejarah itu.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, lanjut Andi Sudirman, siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Gowa dalam mendukung revitalisasi. Ia berharap penataan kawasan tetap memperhatikan keberadaan masyarakat di sekitarnya agar pelestarian warisan sejarah berjalan seiring dengan upaya mencari solusi bagi warga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article