5 Pertanyaan untuk Evaluasi Keadaan Pertemananmu, Jauhi Relasi Toksik!

- Kualitas relasi pertemanan menentukan apakah pertemanan patut diperjuangkan atau tidak
- Evaluasi kualitas pertemanan secara berkala untuk menghindari relasi toksik dan dampak negatif pada kesehatan mental
- Interaksi yang tidak tulus dan apa adanya akan menguras energi fisik dan emosional, serta perlu dievaluasi
Sama seperti hubungan lain, kualitas relasi pertemanan menjadi salah satu standar penting yang menentukan apa pertemanan itu patut diperjuangkan atau tidak. Kualitas yang dimaksud tidak hanya terletak pada berapa lama waktu yang dihabiskan bersama, atau topik pembicaraan apa saat kalian berkumpul, melainkan hal yang jauh lebih deep ketimbang itu.
Evaluasi kualitas pertemanan secara berkala akan menghindarkanmu dari relasi toksik. Kamu perlu jujur dan terbuka pada diri sendiri kala menjawab pertanyaan di bawah. Jangan sampai karena sungkan atau merasa tidak enak, kamu malah membohongi diri sendiri.
1.Seberapa sering terjadi interaksi yang kurang menyenangkan dan menyakitkan dalam pertemananmu?

Menurutmu, seberapa sering hubungan persahabatan kalian membuatmu merasa kesal, jengkel, bahkan sakit hati? Apa ini juga berdampak pada kondisi fisik dan emosionalmu, seperti peningkatan detak jantung, wajah memerah, rasa tegang setiap bertemu mereka, dan lainnya?
Bila jawabannya sering, maka hati-hati. Bisa jadi, persahabatan tersebut memiliki dampak yang lebih negatif pada kesehatan mental dibanding dampak positifnya. Coba renungkan, bukankah sahabat seharusnya menjadi sosok yang membangun dan mendukung? Kalau begitu, mengapa kamu malah merasa buruk tiap berada dekat dengan sahabatmu?
2.Apa kamu selalu merasa gugup, seolah harus "berhati-hati" saat berada di sekitar sahabatmu?

Dengan kata lain, interaksi kalian tidak tulus dan apa adanya. Ada sesuatu dalam diri temanmu yang membuatmu merasa tegang dan waspada, sehingga kamu selalu ingin menampilkan sisi terbaikmu.
Masalahnya, sikap seperti ini jelas menguras energi fisik dan emosional. Kamu tidak akan pernah bisa membangun hubungan yang intim dengan temanmu, karena kamu sendiri tidak merasa aman di dekatnya. Sisi yang kamu tunjukkan bukanlah versi dirimu apa adanya, melainkan versi diri yang kamu ingin doi untuk melihatnya.
3.Apa gaya komunikasi kalian selama ini selalu jujur, terbuka, dan transparan?

Seseorang punya cara masing-masing dalam mengelola dan mengomunikasikan perasaannya sendiri. Ini berdampak pada bagaimana kalian akan menyelesaikan masalah yang dihadapi nantinya.
Apa temanmu sering menyembunyikan perasaannya alih-alih mengungkapkan secara langsung? Apa temanmu sering melakukan pasif-agresif yang membuatmu merasa bersalah tanpa benar-benar tahu apa kesalahanmu? Bila jawabannya adalah “iya”, maka ada yang perlu dievaluasi dari hubungan kalian.
4.Apa kamu merasa bahwa temanmu memiliki otoritas jauh di atasmu?

Apalagi untuk teman yang punya sikap bossy, pasti rasanya akan sangat melelahkan berada di dekat mereka. Hubungan yang terbentuk tidak akan pernah seimbang, karena satu pihak selalu menuntut untuk didengar tanpa melakukan hal serupa.
Selalu ada satu pihak yang sifatnya over-controlling, dimana mau memegang kuasa sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain. Hati-hati, berteman dengan tipe orang seperti ini bisa membuatmu lelah secara mental.
5.Apa dia selalu memandang rendah perasaanmu?

Seorang teman sejati pasti akan mau mengerti dan mendengar temannya sendiri. Bila ia sering membuatmu merasa kecil, kecewa, bahkan tidak jarang untuk mengecilkan masalahmu, maka bisa jadi ia bukan teman yang baik. Bukankah sahabat seharusnya memberi dukungan dan nasihat yang membangun?
Pertemanan pun harus dibangun dengan respek yang seimbang antara kedua belah pihak. Setelah mengenal satu sama lain lebih dekat, jangan berhenti di sana. Coba evaluasi setiap hubunganmu agar kamu pun terhindar dari relasi toksik.



















