Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Teori Sosiologi untuk Menekan Rasa Egois, Biar Gak Dijauhi Teman!
ilustrasi persahabatan (pexels.com/Elle Hughes)
  • Simpati adalah perhatian terhadap perasaan orang lain, bisa membantu menekan sifat egois dan memprioritaskan kepentingan bersama.
  • Sugesti diri sendiri untuk belajar menjadi orang baik dan mengesampingkan sifat egois dengan memberikan pengaruh pada diri sendiri.
  • Tindakan rasional instrumental membantu dalam mempertimbangkan tindakan egois, karena bisa berbalik menjadi kerugian bagi orang lain dan diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa seseorang dengan kepemilikan sifat egois ini selalu mementingkan dirinya sendiri saja, ya. Mungkin dalam satu atau dua waktu memang memprioritaskan diri sendiri itu boleh, bahkan perlu dan butuh.

Namun, akan ada situasi dan kondisi tertentu yang mengharuskan kamu mengutamakan kepentingan bersama, nih. Bahkan, dalam kondisi darurat, bukan lagi kepentingan bersama, tapi kamu dituntut untuk mengesampingkan kepentingan dirimu sendiri.

Jika tidak, maka saat itulah kamu terkategori sebagai seseorang yang bersifat egois. Nah, kalau kamu merasa tak ingin memiliki sifat egois karena dampaknya yang merugikan orang lain, tapi telanjur terbiasa tak bisa mengalah dalam situasi dan kondisi apa pun. Tenang, berikut cara untuk bisa menekan rasa egoismu tersebut secara sosiologis.

Cara ini merupakan konsep-konsep dari ilmu sosiologi yang mempelajari hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, lho. Konsep tersebut di antaranya yakni simpati, sugesti, tindakan rasional instrumental, hingga norma dan peraturan. Penasaran bagaimana penjabarannya? Langsung simak ulasan berikut ini, ya.

1. Bersimpati saat melakukan interaksi

ilustrasi persahabatan (pixabay.com/CaiHuuThanh)

Dalam ilmu sosiologi, simpati bermakna perhatian terhadap berbagai perasaan yang dialami oleh seseorang. Ya, ketika dia sedih, maka kamu bisa menempatkan posisi sebagai dia dengan ikut merasakan kesedihannya.

Pun dengan berbagai perasaan lainnya, ya. Kamu bisa merasakan apa yang dia rasakan, maka bisa dikatakan kamu punya rasa simpati yang tinggi. Nah, konsep simpati ini bisa kamu terapkan jika ingin menekan rasa egois yang kamu miliki.

Dengan simpati, hatimu bisa tergerak untuk tidak selalu mementingkan kepentinganmu saja. Tetapi juga bisa mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih butuh daripada kamu. Bahkan, rasa simpati yang teramat tinggi bisa membuat pelakunya rela rugi materi maupun non materi demi kepentingan orang lain, lho.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya, karena simpati itu membuat kamu bisa memposisikan diri dengan kesedihan, kepentingan, kebutuhan, hingga hal darurat yang orang lain rasakan. Sehingga, ketika kamu memiliki rasa simpati, ya auto mau mengalah jika dia lebih butuh, terlebih jika dia teman atau orang terdekatmu, ya.

2. Sugesti diri untuk memperlakukan orang lain dengan baik

ilustrasi persahabatan (pixabay.com/Anemone123)

Secara sosiologis, sugesti merupakan pengaruh yang diberikan satu pihak kepada pihak lain. Tujuannya, yakni agar target tergerak untuk mengikuti pengaruh maupun pandangan terkait, baik secara sadar maupun tanpa berpikir panjang. 

Sejalan definisi dari sugesti, maka untuk bisa menekan keegoisan yang sudah melekat pada dirimu, yakni dengan mensugesti dirimu sendiri. Apa yang perlu kamu lakukan? Ya, kamu bisa memberikan pengaruh untuk belajar menjadi orang baik dengan tidak menempatkan sifat egois di tempat yang salah.

Ibaratnya, ketika ada orang yang sakit komplikasi datang karena penyakitnya kambuh secara tiba-tiba. Di sisi lain kamu yang sudah reservasi hingga mengantre lama di rumah sakit untuk medical check up, ya sadar diri. Sadar untuk tidak egois dengan mempersilahkan yang lebih darurat untuk menerima perawatan terlebih dahulu.

Nah, prinsip atau pandangan seperti ini yang perlu kamu sugestikan kepada dirimu sendiri. Jadi, biar enggak menyusahkan diri sendiri dengan selalu memprioritaskan orang lain, kamu cukup mensugesti atas hal-hal darurat yang membuat kamu harus mengalah. Demi menjadi orang baik, yang kebaikan itu nantinya akan berbalik kepada dirimu sendiri.

3. Bertindak secara rasional instrumental terkait akibat keegoisan

ilustrasi persahabatan (pixabay.com/cherylholt)

Dalam teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh seorang sosiolog yang bernama Max Webber, disebutkan bahwa salah satunya yakni tindakan rasional instrumental. Tindakan ini menggunakan penghitungan untung dan rugi sebagai pertimbangan dalam melakukan sesuatu.

Oleh karena itu, kamu bisa menggunakan konsep tindakan rasional instrumental dalam mempertimbangkan tindakanmu yang masih sering egois itu. Ya, di satu sisi memang bertindak egois bisa memberikan keuntungan di kamu, akan tetapi coba pikirkan kerugian yang dialami oleh orang lain. 

Terlebih lagi, sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, suatu hari sikap dan tindakan egoismu itu bisa berbalik ke kamu. Mulai dari dijauhi teman, ditinggalkan teman saat sedang membutuhkan bantuannya, hingga ditusuk oleh teman dari belakang karena kekesalannya atas keegoisan yang pernah kamu lakukan.

Dengan begitu, bukankah saling menguntungkan dengan tidak bersikap dan bertindak egois itu lebih baik? Coba pikiran dengan matang. Jangan sampai apa yang saat ini menguntungkanmu, suatu hari bisa berputar drastis menjadi kerugian yang bertubi-tubi, lho.

4. Menerapkan norma dan peraturan untuk menekan keegoisan

ilustrasi persahabatan (pixabay.com/trevoykellyphotography)

Dalam kehidupan sosial, ilmu sosiologi menjelaskan bahwa keteraturan dalam kehidupan masyarakat bisa didapatkan dari dengan adanya norma atau peraturan yang ditetapkan dan ditaati bersama. Ya, adanya nilai-nilai yang menjadi batasan itu telah disepakati bersama oleh anggota masyarakat. Jadi, peraturan yang ada harus dipatuhi, jika melanggar, maka akan ada hukuman atau sanksinya, ya.

Dengan begitu, maka untuk membuat kehidupanmu jadi teratur dengan menekan rasa egois ya harus ada aturan yang mengikat dan mengaturnya. Misalnya saja, peraturan akan sebisa mungkin sikap dan tindakan itu menguntungkan semua pihak, termasuk kamu.

Kamu juga boleh dan berhak untuk egois dalam situasi dan kondisi tertentu. Kondisi tersebut misalnya saja saat mendesak, darurat, demi kemajuan diri, dan sejenisnya. Pun sebaliknya, kamu juga harus menekan rasa egoismu dengan mengalah saat keselamatan vital orang lain bergantung pada kamu. 

Sejatinya, menekan rasa egois itu tak selalu merugikan diri sendiri, lho. Hal tersebut karena masih bisa diusahakan atau didiskusikan untuk kedua belah pihak masih bisa sama-sama untung. Yakni, dengan mendapatkan kepentingannya masing-masing. Pun ketika harus mengalah, sejatinya itu adalah tiket untuk di kemudian hari bisa kamu tukar dengan orang lain yang mau mengalah saat kamu benar-benar butuh, nih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article