Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

2 Bulan Disandera, Keluarga Awak MT Honour 25 Desak Pemerintah Bertindak

2 Bulan Disandera, Keluarga Awak MT Honour 25 Desak Pemerintah Bertindak
Syamsuddin Dg Ngawing (67), orang tua kapten MT Honour 25, Azhari Samadikun, yang ditawan perompak bersenjata di perariran Somalia. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Intinya Sih
  • Empat WNI awak kapal MT Honour 25 telah dua bulan disandera perompak bersenjata di perairan Somalia, dengan kondisi memburuk akibat kekurangan makanan, air bersih, dan tekanan psikologis.
  • Keluarga para sandera mendesak pemerintah serta perusahaan pemilik kapal segera mengambil langkah nyata karena belum ada hasil konkret dari upaya pembebasan yang dijanjikan.
  • Dalam video terbaru, kapten Azhari Samadikun memohon bantuan logistik dan kepastian pembebasan, mengungkap kru kini bertahan dengan persediaan minim dan kondisi kesehatan yang semakin kritis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Makassar, IDN Times – Empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal tanker minyak MT Honour 25 dilaporkan masih disandera kelompok perompak bersenjata di perairan Somalia. Hingga memasuki dua bulan penyanderaan, kondisi para awak kapal disebut semakin memburuk akibat keterbatasan makanan, air bersih, serta tekanan psikologis yang terus meningkat.

Keluarga korban mengaku belum melihat adanya perkembangan signifikan dari upaya pembebasan yang dilakukan pihak terkait. Mereka juga menyoroti minimnya informasi resmi yang diterima selama para kru masih berada dalam situasi kritis di atas kapal.

1. Keluarga desak pemerintah dan perusahaan bertindak

Kapten MT Honour 25, Azhari Samadikun, yang ditawan perompak bersenjata di perariran Somalia. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Kapten MT Honour 25, Azhari Samadikun, yang ditawan perompak bersenjata di perariran Somalia. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Keluarga para sandera mulai mempertanyakan langkah nyata pemerintah maupun perusahaan pemilik kapal dalam upaya pembebasan para kru. Mereka menilai, hingga saat ini belum ada hasil konkret yang dirasakan pihak keluarga.

Syamsuddin Dg Ngawing (67), ayah dari kapten MT Honour 25 Azhari Samadikun, mengaku sudah sekitar tiga pekan terakhir tidak mendapatkan kabar langsung dari anaknya. Ia menyebut komunikasi para awak kapal dibatasi ketat oleh perompak bersenjata api.

“Kami hanya terus diberi kabar bahwa sedang ada upaya, tetapi sampai sekarang belum ada hasil nyata. Anak saya dan kru lainnya masih terkatung-katung di atas kapal,” ujar Syamsuddin di rumahnya di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Minggu (21/6/2026).

2. Kondisi kru dilaporkan memburuk

Ilustrasi teroris (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi perompak. (IDN Times/Mardya Shakti)

Informasi terakhir yang diterima keluarga menyebut kondisi para sandera semakin mengkhawatirkan. Persediaan makanan dan air bersih dilaporkan semakin menipis, sementara sejumlah awak kapal mulai jatuh sakit.

“Anak saya bilang air sudah berkurang, makanan juga semakin sedikit. Banyak yang sakit dan mengalami tekanan berat karena tidak ada kepastian kapan mereka dibebaskan,” kata Syamsuddin.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran setelah melihat kondisi fisik Azhari dalam rekaman video terbaru yang beredar. Dalam video tersebut, Azhari tampak mengalami penurunan kondisi fisik yang cukup drastis.

“Badannya sudah kurus, rambut dan jenggotnya panjang, pakaiannya lusuh. Sebagai orang tua, saya tidak bisa tenang melihat kondisi seperti itu,” ujarnya.

3. Keluarga minta bantuan logistik dan kepastian pembebasan

-
Ashari Samadikun, Kapten tanker Honour 25 yang disandera perompak Somalia saat video call dengan keluarga dan rekan seangkatannya di PIP Makassar (Dok.IDN Times/Istimewa)

Keluarga besar para kru MT Honour 25 berharap pemerintah pusat, DPR RI, hingga Presiden RI segera mengambil langkah konkret untuk membebaskan para sandera. Mereka menegaskan, yang paling utama saat ini adalah keselamatan para awak kapal.

“Kami hanya ingin mereka pulang dengan selamat ke Indonesia,” tegas Syamsuddin.

Dalam rekaman video yang beredar, kapten kapal Azhari Samadikun juga menyampaikan permohonan langsung kepada pemerintah Indonesia. Ia menyebut para kru kini hanya bisa bertahan dengan persediaan terbatas di tengah kondisi yang semakin memburuk.

Azhari juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada bantuan logistik maupun obat-obatan yang diterima para kru dari pihak perusahaan.

“Kondisi kami sangat kritis. Banyak yang sakit, makanan hampir habis, dan kami bertahan dengan air yang kotor,” ujar Azhari dalam rekaman tersebut.

Share Article
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata

Latest News Sulawesi Selatan

See More