Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

170 Ribu Anak di Sulsel Tercatat Tak Sekolah, Ini Penyebabnya

170 Ribu Anak di Sulsel Tercatat Tak Sekolah, Ini Penyebabnya
ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)
Intinya Sih
  • Pendataan awal mencatat 170.433 anak di Sulawesi Selatan tidak bersekolah, namun hasil verifikasi lintas daerah menyisakan lebih dari 48 ribu anak yang valid sebagai ATS.
  • Faktor ekonomi menjadi penyebab utama anak berhenti sekolah, disusul jarak ke sekolah dan pengaruh lingkungan yang membuat mereka enggan melanjutkan pendidikan.
  • Perpindahan domisili tanpa pembaruan data serta kendala perlengkapan sekolah turut memengaruhi akurasi pendataan, meski faktor ini tergolong kecil dibanding alasan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Data anak tidak sekolah (ATS) di Sulawesi Selatan masih tergolong tinggi. Hasil pendataan awal mencatat total 170.433 anak dari jenjang SD hingga SMA masuk dalam kategori tersebut.

Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Mustakim, menyebut angka tersebut merupakan hasil verifikasi awal. Data itu dihimpun dari seluruh wilayah di Sulawesi Selatan.

"Ini yang terverifikasi, jumlah totalnya itu 170.433 untuk seluruh Sulsel. Itu semua tingkatan umur dari wajib 12 tahun kemarin. Jadi SD, SMP, dan SMA," kata Mustakim, Selasa (5/5/2026).

1. Verifikasi data sisakan 48 ribu lebih ATS

ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)
ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Data tersebut kemudian ditelusuri ulang melalui proses verifikasi lintas kabupaten dan kota. Dari hasil tersebut, lebih dari 48 ribu anak dinyatakan valid sebagai ATS berdasarkan rujukan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan.

Proses verifikasi juga menemukan adanya potensi data ganda dalam sistem pendataan pendidikan. Perbedaan basis data antara Dapodik milik Kementerian Pendidikan dan Emis milik Kementerian Agama turut memengaruhi jumlah ATS.

Kadang satu anak tercatat di Emis dan juga muncul di Dapodik. Kondisi ini membuat data terbaca sebagai dua anak ATS, padahal orangnya sama.

"Misalnya dia di pesantren, data anak itu terdata di Emis. Kadang ada anak-anak yang double, ada yang datanya di Emis, ada juga yang terdata di Dapodik sehingga terbaca bahwa oh ini masuk ATS," kata Mustakim. 

2. Faktor ekonomi dan lingkungan dominan

Foto ilustrasi anak sekolah. (Dok.IDN Times/Istimewa)
Foto ilustrasi anak sekolah. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Selain persoalan data, hasil verifikasi turut menggambarkan beragam alasan anak tidak melanjutkan pendidikan. Faktor ekonomi masih menjadi penyebab dominan, di mana anak memilih bekerja untuk membantu orang tua.

"Ada yang tidak mau lagi melanjutkan sekolah karena dia bekerja, mencari uang, perekonomiannya, membantu orang tuanya," kata Mustakim. 

Mustakim menyebut faktor jarak turut berpengaruh terhadap keputusan anak untuk berhenti sekolah. Faktor lingkungan juga ikut memengaruhi.

"Alasannya jauh dari sekolah, jauh dari rumah. Ada juga pengaruh lingkungan atau teman," katanya. 

3. Perpindahan domisili hingga kendala perlengkapan

Ilustrasi anak sekolah (unsplash.com/Ed Us)
Ilustrasi anak sekolah (unsplash.com/Ed Us)

Selain itu, perpindahan domisili tanpa pembaruan data sekolah ikut memengaruhi pendataan. Kondisi ini membuat anak tercatat sebagai ATS.

"Sampai pada pindah domisili, mengikuti orang tua, sementara data-data dapodiknya belum dicabut di tempatnya bersekolah pertama itu," kata Mustakim. 

Di luar itu, terdapat pula sebagian kecil anak yang terkendala perlengkapan sekolah, seperti seragam. Namun, faktor ini tidak dominan dibanding alasan lainnya.

"Tapi presentasinya kecil, bahwa tidak punya pakaian seragam atau apalah. Ini mulai untuk tahun lalu itu kita sudah salurkan juga bantuan pakaian untuk anak afirmasi," kata Mustakim.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More