Ekspor Sulsel Tertekan, Nikel Masih Jadi Komoditas Utama

- Ekspor Sulsel triwulan I 2026 turun 13,26 persen menjadi US$323,80 juta, dipicu melemahnya ekspor besi, baja, dan nikel sebagai komoditas unggulan daerah.
- Nikel tetap jadi komoditas utama dengan nilai ekspor US$73,59 juta atau 64,61 persen dari total ekspor Maret 2026, meski nilainya turun dibanding bulan sebelumnya.
- Impor Sulsel naik signifikan hingga 43,53 persen pada Januari–Maret 2026 mencapai US$256,72 juta, didorong kebutuhan bahan baku industri seperti gandum dan gula.
Makassar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat kinerja ekspor provinsi Sulsel mengalami tekanan pada awal 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Januari–Maret 2026 tercatat turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan di Sulawesi Selatan pada periode Januari–Maret 2026 mencapai US$323,80 juta. Secara kumulatif, nilai itu turun US$49,49 juta atau turun 13,26 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya ekspor komoditas unggulan seperti besi dan baja serta nikel.
Selain nilai, volume ekspor Sulawesi Selatan juga mengalami penurunan. Pada triwulan I 2026, total volume ekspor tercatat sebesar 567,35 ribu ton, turun 3,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 585,41 ribu ton.
1. Nikel masih jadi komoditas ekspor utama

Pada Maret 2026, nikel menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar dari Sulawesi Selatan, yakni mencapai US$73,59 juta. Nilai tersebut setara 64,61 persen dari total ekspor, menunjukkan dominasi kuat sektor pertambangan dalam struktur ekspor daerah.
Komoditas terbesar berikutnya adalah biji-bijian berminyak sebesar US$9,20 juta (8,08 persen), disusul garam, belerang, dan kapur sebesar US$6,79 juta (5,96 persen). Selain itu, besi dan baja menyumbang US$5,84 juta (5,13 persen), serta ikan dan udang sebesar US$5,49 juta (4,82 persen).
Jika dibandingkan Februari 2026, nilai ekspor nikel turun cukup dalam sebesar 28,84 persen. Sementara itu, beberapa komoditas lain justru mengalami kenaikan, seperti biji-bijian berminyak naik 38,93 persen, garam, belerang, dan kapur naik 41,52 persen, serta ikan dan udang melonjak 55,68 persen.
Namun secara tahunan, penurunan ekspor Sulsel terutama dipicu oleh anjloknya ekspor besi dan baja yang turun US$64,85 juta (76,15 persen) serta nikel yang turun US$8,88 juta (4,35 persen). Kondisi ini menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap komoditas tertentu yang rentan terhadap fluktuasi harga global.
2. Jepang dan Tiongkok jadi tujuan utama ekspor

Dari sisi negara tujuan, ekspor Sulawesi Selatan pada Maret 2026 didominasi oleh Jepang dengan nilai mencapai US$76,73 juta. Angka ini setara 67,36 persen dari total ekspor, menjadikan Jepang sebagai mitra dagang utama yang sangat dominan.
Posisi kedua ditempati Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar US$24,43 juta (21,45 persen). Sementara itu, Taiwan menyusul dengan US$4,14 juta (3,64 persen), diikuti Amerika Serikat sebesar US$2,25 juta (1,98 persen), dan Bangladesh sebesar US$1,84 juta (1,62 persen).
Jika dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor ke Jepang turun 26,96 persen dan ke Tiongkok turun 10,83 persen. Namun, beberapa negara justru mencatat lonjakan, seperti Taiwan yang naik 90,34 persen dan Amerika Serikat naik 93,05 persen, sementara Bangladesh meningkat 7,83 persen.
Dominasi Jepang dan Tiongkok menunjukkan konsentrasi pasar ekspor Sulsel masih tinggi pada negara tertentu. Kondisi ini membuat kinerja ekspor sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi di negara-negara tersebut.
3. Impor naik signifikan di awal 2026

Di tengah penurunan ekspor, kinerja impor Sulawesi Selatan justru menunjukkan tren peningkatan. Pada Maret 2026, nilai impor tercatat sebesar US$63,96 juta atau naik 2,93 persen dibandingkan Maret 2025.
Secara kumulatif, impor Januari–Maret 2026 mencapai US$256,72 juta atau melonjak 43,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh komoditas utama seperti gandum, gula, dan bahan baku industri lainnya yang masih sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas ekonomi di daerah.


















