Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BPS: Inflasi Sulsel 2,68 Persen, Harga Makanan dan Emas Jadi Pemicu Utama

BPS: Inflasi Sulsel 2,68 Persen, Harga Makanan dan Emas Jadi Pemicu Utama
ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan 2,68 persen pada April 2026, dengan deflasi bulanan tipis 0,03 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 2,09 persen.
  • Inflasi tertinggi terjadi di Sidrap sebesar 3,94 persen dan terendah di Parepare 2,18 persen, menunjukkan perbedaan harga komoditas antarwilayah.
  • Kelompok makanan serta kenaikan harga emas perhiasan jadi penyumbang utama inflasi, sementara pakaian dan perlengkapan rumah tangga mengalami deflasi yang menahan laju kenaikan harga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,68 persen pada April 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,65 pada April 2025 menjadi 111,56 pada April 2026.

Meski secara tahunan mengalami inflasi, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) Sulawesi Selatan justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,03 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga April 2026 tercatat sebesar 2,09 persen.

1. Sidrap tertinggi, Parepare terendah

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, inflasi tertinggi di Sulawesi Selatan terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebesar 3,94 persen dengan IHK 109,81.

Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kota Parepare sebesar 2,18 persen dengan IHK 112,39. Adapun Kota Makassar sebagai ibu kota provinsi mencatat inflasi y-on-y sebesar 2,51 persen.

Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah ini mencerminkan variasi harga komoditas dan pola konsumsi masyarakat di masing-masing daerah.

2. Makanan dan emas dominasi penyumbang inflasi

Ilustrasi emas
Ilustrasi emas (pexels.com/Robert Lens)

Secara kelompok pengeluaran, inflasi terbesar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,41 persen secara tahunan. Kelompok ini juga memberi andil terbesar terhadap inflasi keseluruhan.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan paling tinggi secara persentase, yakni 11,72 persen. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan yang memberi kontribusi signifikan terhadap inflasi.

Beberapa komoditas utama penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan (0,88 persen), daging ayam ras (0,19 persen), beras (0,17 persen), tomat (0,17 persen), serta telur ayam ras (0,12 persen).

3. Transportasi dan perumahan ikut terdorong naik

Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana
Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

Kelompok transportasi juga mengalami inflasi sebesar 0,43 persen secara tahunan, seiring kenaikan biaya operasional kendaraan dan jasa pengiriman. Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,58 persen.

Di sisi lain, terdapat kelompok yang mengalami deflasi, seperti pakaian dan alas kaki sebesar 0,94 persen serta perlengkapan rumah tangga sebesar 0,14 persen. Hal ini sedikit menahan laju inflasi secara keseluruhan.

Dengan tren ini, tekanan harga di Sulawesi Selatan masih relatif terkendali, meski sejumlah komoditas pangan dan emas terus menjadi faktor utama pendorong inflasi di daerah tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More