Mengenal Noise Breeze Fest: Saat Bissoloro Jadi Arena Musik Ekstrem

Membawa para metalhead kembali menikmati alam

Makassar, IDN Times - Festival musik metal di alam terbuka (open air) adalah konsep yang sebenarnya sudah lumrah di luar negeri. Tapi, hal serupa sedang dicoba dalam Noise Breeze Fest (NBF) yang berlangsung pada 8 Oktober silam di Wisata Camp Hutan Pinus Moncong Sipolong Bissoloro, Tinggimoncong, Gowa.

Azrul Efendy, salah satu penggagas, menyebut NBF sebagai cara memperkenalkan konsep tersebut kepada pencinta musik ekstrem di Sulawesi Selatan. Terlebih mereka memilih kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan vakansi tersohor.

"Ini persembahan yang kreatif, kolektif, dan adaptif dengan prospek jangka panjang untuk menunjang eksistensi musisi dan pelaku industri kreatif lokal dari berbagai kota sebagai ajang publikasi, promosi, dan edukasi," ujarnya saat dihubungi IDN Times pada Selasa (29/11/2022).

"Caranya dengan menghadirkan gaung musik keras yang siap memuaskan gairah para penikmat musik ekstrem yaitu event berskala medium gig," imbuhnya.

Baca Juga: Rock In Celebes 2022, Siapkan Selebrasi Meriah di Edisi Ke-13

1. Wisata Camp Hutan Pinus Moncong Sipolong Bissoloro jadi venue edisi pertama

Mengenal Noise Breeze Fest: Saat Bissoloro Jadi Arena Musik EkstremSuasana Wisata Camp Moncong Sipolong Bissoloro di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. (Dok. Istimewa/M. Arafah Nusu)

Prospek jangka panjang yang dimaksud Azrul adalah membuat Noise Breeze Fest jadi helatan regular alias diadakan tiap tahun. Ia menyebut grindcore hingga metalcore tetap jadi sajian untuk para pengunjung headbang. Tapi, bukan cuma itu yang hendak mereka utamakan.

"Tidak hanya mengedepankan musik extreme sebagai poin utama, namun juga memberikan nilai edukatif tentang sinergi dengan alam," katanya.

"Serta memberikan pengalaman eksklusif dan eksploratif bagi para pelaku, penggiat, dan penikmat musik extreme pada event musik di ruang terbuka (open air, red.)," sambung Azrul.

Sejumlah helatan open air jadi inspirasi sekaligus referensi mereka. Sebut saja Forest Gets Noise yang berlangsung di Bogor pada November 2020 lalu, Obscene Extreme Fest di Trutnov (Republik Ceko), serta Armstrong Metal Fest yang jadi acara rutin metalhead Kanada sejak 2011.

2. Ada 15 band silih berganti memanaskan panggung NBF 2022

Mengenal Noise Breeze Fest: Saat Bissoloro Jadi Arena Musik EkstremBand asal Makassar, Bullshit, saat tampil di Noise Breeze Fest yang berlangsung di Hutan Pinus Bissolorio Gowa pada 8 Oktober 2022. (Instagram.com/dis.bullshit)

Dengan konsep unik, edisi perdana Noise Breeze Fest mendapat respons positif. Ada 15 band didapuk sebagai pengisi, mulai dari trio electronic modern rock Phinisi East Kingdom asal Barru, veteran hardcore FrontXside hingga unit metalcore Unremains. Azrul menyebut bahwa tiket yang mereka sediakan ludes hingga 95 persen.

Tiga jenama fesyen lokal juga ikut andil seperti Huntears, Auswitch, Vandley dan R U Happy?. Termasuk sejumlah tenant kuliner dan jasa yang datang langsung ke Hutan Pinus Bissoloro. Respons hangat juga datang dari sesama pelaku musik ekstrem.

"Tidak hanya berupa dukungan moril, melainkan dukungan materil juga kami terima. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti Malaysia dan Amerika Serikat karena mengingat event perdana ini berbentuk kolektif DIY (Do It Yourself)," jelas vokalis band death metal Nocturnal Victims itu.

"Untuk talent pengisi, kuota awalnya hanya 15 band. Tapi sampai ditutupnya registrasi, kami menerima hingga 50-an band yang tersebar dari berbagai provinsi di Indonesia," imbuh Azrul.

Azrul bahkan menyebut salah satu band asal Sabah, Malaysia juga menawarkan diri untuk singgah ke NBF di sela mini-tour mereka. "Namun karena terbatasnya kuota band yang kami sediakan, sehingga belum bisa tercapai di tahun ini," katanya.

3. Tak menutup kemungkinan acara ini juga berlangsung di lokasi wisata alam lainnya

Mengenal Noise Breeze Fest: Saat Bissoloro Jadi Arena Musik EkstremBand asal Makassar, Kamar Gelap, saat tampil di Noise Breeze Fest yang berlangsung di Hutan Pinus Bissolorio Gowa pada 8 Oktober 2022. (Instagram.com/kamargelap666)

Azrul sangat berharap Noise Breeze Fest menjadi wadah promosi, publikasi, dan nilai edukatif tentang menyatu dengan alam. Ini disebut sebagai pengalaman eksklusif dan eksploratif bagi para pelaku, penggiat, dan penikmat musik extreme lewat acara musik  open air.

"Selain itu, juga menciptakan ruang ekonomi mikro atau makro dan industri kreatif untuk berbagai elemen umum, dengan potensi pariwisata pada objek alam dan masyarakat sekitar venue event," tuturnya.

Pihaknya sendiri tak menutup potensi jika NBF juga berlangsung di tempat lain. Tapi tetap mempertahankan konsep festival musik alam terbuka yang mereka bawa.

"Kemungkinan event ini juga bisa diadakan di Malino dan beberapa objek wisata alam yang tersebar pada radius terdekat dari Kota Makassar," pungkasnya.

Jadi, akan seperti apa kemeriahan Noise Breeze Fest 2023, ya?

Baca Juga: Rumata' Artspace Rayakan Relasi Makassar-Yolngu di Australia

Topik:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya