Coto Vs Konro, Mana Sajian Paling Enak saat Lebaran?

- Coto Makassar dikenal ringan dan cocok disantap berulang kali saat lebaran, berpadu sempurna dengan buras serta kuah rempah kacang yang gurih.
- Konro menawarkan sensasi makan lebih berat dan mewah dengan iga sapi besar berkuah kalloa pekat, cocok bagi pecinta daging sejati di hari raya.
- Keduanya sering hadir berdampingan di meja lebaran Sulsel, coto untuk sarapan setelah salat ied dan konro sebagai menu utama makan siang keluarga.
Makassar, IDN Times - Bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel), momen lebaran tanpa kehadiran buras bagaikan sayur tanpa garam. Panganan berbahan dasar beras dan santan yang dibungkus daun pisang ini adalah "bintang utama" di atas meja
Namun, muncul satu perdebatan yang selalu hadir di benak pencinta kuliner setiap tahun: mana yang lebih cocok mendampingi si gurih buras? Apakah si kuah rempah coto makassar atau si iga konro? Mari kita bedah perbedaannya!
1. Coto makassar cenderung lebih ringan ketika disantap saat lebaran
Coto makassar adalah jodoh "sehidup semati" bagi buras, alias tidak hanya ketupat. Tekstur buras yang padat dan sangat serasi ketika bertemu dengan kuah coto nan kaya dengan rempah-rempah.
Irisan daging dan jeroan yang empuk memberikan sensasi kunyahan yang pas dalam setiap suapan. Keunggulannya? Coto cenderung lebih "ringan" untuk disantap berulang kali saat tamu datang ke rumah. Jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis dan sambal tauco biar rasanya makin pecah!
2. Bagi penyuka makanan berat, maka konro jadi sajian utamanya
Kalau kamu ingin suasana lebaran yang lebih "ekstra" dan mengenyangkan, Konro adalah jawabannya. Iga sapi berukuran besar dengan kuah hitam pekat berbumbu kalloa (keluwak) ini memberikan kesan mewah di hari kemenangan.
Lemak yang menempel pada iga memberikan rasa gurih yang mendalam saat disesap bersama buras. Menyantap konro butuh usaha lebih untuk memisahkan daging dari tulang, tapi justru di situlah letak kenikmatannya. Bagi pecinta daging sejati, konro adalah pemenang mutlak sebagai sajian lebaran.
3. Coto dan konro biasanya kompak tersaji sebagai hidangan hari lebaran

Perbedaan mendasar ada pada profil kuahnya. Coto mengandalkan kekentalan dari hasil sangraian kacang tanah, memberi rasa gurih. Sementara konro menggunakan kalloa untuk warna gelap dan rasa rempah yang lebih "berani" dan tajam.
Jika kamu suka sensasi kuah yang menyelimuti lidah dengan lembut, coto pemenangnya. Tapi kalau kamu mencari rasa rempah yang kuat, konro juaranya.
Sebenarnya, tidak ada jawaban yang salah. Banyak keluarga di Sulsel bahkan menyajikan keduanya secara berdampingan. Coto biasanya disiapkan untuk sarapan pagi setelah salat ied, sedangkan konro menjadi menu utama saat makan siang besar bersama keluarga inti.


















