Seharian Memancing di Laut Makassar: Wisata Bahari yang Jarang Dilirik

- Empat orang berangkat dari Dermaga Pannyua Makassar untuk menikmati pengalaman memancing seharian di laut tanpa target tangkapan, dipandu oleh kapten perahu berpengalaman bernama Pak Harun.
- Perjalanan mencakup tiga spot mancing berbeda dengan suasana tenang dan hasil tangkapan beragam, diselingi makan siang sederhana di atas perahu sambil menikmati panorama gugusan Pulau Spermonde.
- Kegiatan ditutup menjelang senja dengan perjalanan pulang penuh kesan, sementara nelayan lokal menyoroti potensi wisata bahari Makassar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan pemerintah daerah.
Makassar, IDN Times - Jam belum menunjukkan pukul delapan pagi pada Sabtu (11/4/2026), ketika kami sudah berdiri di dermaga Pannyua, dermaga kecil yang bersembunyi di hadapan Benteng Fort Rotterdam. Di depan kami, laut Makassar terbentang lebar, permukaannya berkilat ditimpa matahari pagi yang belum sepenuhnya naik.
Kami berangkat berempat. Tidak ada target tangkapan yang harus dipenuhi. Hanya seharian memancing di laut, membiarkan waktu berlalu sesuka arus.
Pak Harun, kapten perahu kami, sudah menunggu di dermaga. Usianya sekitar lima puluhan, kulitnya gelap dengan wajah yang membaca tanda dari laut seperti orang lain membaca jam tangan. Ia tidak banyak bicara. Satu tangannya menjepit rokok, satu tangan lainnya sudah siap di kemudi mesin.
"Siap? Ombak hari ini bagus," katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
Perahu kayu kami berukuran sedang, cukup untuk enam orang dengan semua perbekalan dan perlengkapan pancing. Di bagian buritan, seorang anak buah kapal muda bernama Qalbi sibuk menyiapkan tali dan menarik jangkar. Biaya sewa perahu untuk seharian ini kami sepakati di angka delapan ratus ribu rupiah, yang jika patungan berempat, maka angka ini terasa sangat layak untuk pengalaman yang tidak bisa diukur dengan uang.
Mesin perahu dinyalakan. Asapnya sebentar, lalu hilang ditelan angin. Dermaga Pannyua perlahan menjauh, bangunan tinggi di daratan semakin mengecil di belakang kami, dan Makassar, kota dengan segala kebisingan dan kepanasannya, mulai terasa seperti cerita dari dunia lain.

1. Rumpon tanpa penanda

Sekitar empat puluh menit perjalanan dari dermaga, Pak Harun mematikan mesin. Perahu berayun pelan di atas gelombang yang tidak terlalu besar.
"Di sini ada rumpon," jelasnya singkat. "Biasanya ada kerapu." Spot mancing pertama merupakan rumpon yang dibuat oleh Pak Harun. Tidak ada satupun penanda lokasi, namun dia hapal betul di mana titiknya.
Qalbi menurunkan jangkar. Pancing kami lempar ke dalam air yang berwarna biru kehijauan, lebih jernih dari yang saya bayangkan untuk perairan dekat kota. Kedalaman di sini sekitar dua puluh meter, cukup untuk menyimpan kehidupan yang kaya di dasarnya.
Sepuluh menit pertama: tidak ada apa-apa. Tapi tidak ada yang mengeluh. Ini bagian yang tidak diajarkan dalam brosur wisata mana pun, bahwa memancing mengajarkan Anda cara berdamai dengan ketidakpastian. Anda bisa memiliki semua perlengkapan terbaik, umpan paling segar, dan pengetahuan soal arus, tetapi pada akhirnya, ikan yang memutuskan.
Kemudian joran saya mulai bergetar. Saya tarik namun lupa memutar reel. Alhasil, ikannya lepas. Pak Harun pun bergumam.
"Jangan kayak pemancing empang, gulung reel-nya" katanya pelan.
2. Makan siang di tengah laut

Menjelang pukul sebelas, kami berpindah ke spot kedua ke arah barat laut. Di sini permukaan laut terasa lebih tenang. Kedalaman di titik ini mencapai dua puluh lima hingga tiga puluh meter. Pak Harun menjelaskan bahwa di musim seperti ini, di kedalaman seperti ini, ada kemungkinan mendapat kakap merah besar jika umpan kita beruntung. Kami menggunakan umpan hidup udang kecil yang memang sudah disiapkan oleh Pak Harun.
Joran kami lalu bergantian bergetar. Strike demi strike terjadi lalu berbagai jenis ikan pun kami dapatkan. Setelah dirasa cukup untuk makan siang, Pak Harun lalu menyiapkan api di atas tungku pembakaran ikan. Kami berbagi tugas; menmbersihkan ikan, meracik sambal dabu-dabu sederhana, dan membuka kotak nasi uduk yang dibawa dari rumah.
Kami makan duduk di dek perahu, melihat ke segala arah dengan pemandangan pulau-pulau kecil di gugusan Spermonde. Angin laut mengipasi nasi panas. Sesekali riak kecil menggoyangkan perahu.
Pak Harun makan sedikit lebih cepat dari kami semua, lalu merebahkan diri di bagian haluan perahu. Qolbi mengikuti, duduk bersandar pada tiang kecil dengan matanya setengah terpejam.
Laut Makassar di siang hari punya ketenangan yang berbeda dari pagi. Lebih berat. Lebih sunyi. Seperti sedang mengambil napas panjang.
3. Spot terakhir menjelang sore

Pukul dua siang, mesin dinyalakan kembali. Pak Harun membawa kami ke spot ketiga yang ia sebut "tempat favorit saya mancing" sebuah titik koordinat yang ada di kepalanya, bukan di GPS. Dalam satu jam di spot ini, kami mendapat tiga ekor kerapu berukuran sedang.
Pukul enam sore, Pak Harun memutar haluan ke arah daratan Makassar. Matahari sudah turun rendah di barat, mewarnai horizon dengan gradasi oranye dan merah yang terlalu indah untuk difoto tapi terlalu sayang untuk tidak dicoba.
Kami duduk diam dalam perjalanan pulang. Lelah yang menyenangkan, jenis lelah yang terasa seperti pencapaian, bukan beban. Tangan saya masih terasa getaran joran tadi.
Dermaga Pannyua muncul di kejauhan. Gedung-gedung tinggi kembali terlihat jelas. Kami turun dari perahu dengan kaki sedikit goyah karena efek seharian berada di atas permukaan yang bergerak. Pak Harun menambatkan perahu dengan gerakan yang sudah ribuan kali ia lakukan. Kami pun membawa boks ikan ke darat.
Tidak ada upacara perpisahan yang khusus. Hanya terima kasih yang tulus dan janji untuk kembali yang kedengarannya serius.
Nur Ichsan, pemancing profesional yang mendampingi kami, mengatakan, "Pemkot Makassar pernah membuat lomba mancing di sini, pesertanya ramai sekali. Tapi sekarang, sepertinya pemerintah belum melirik kembali potensi laut Makassar dengan baik."


















