Dominasi Semu di Markas Persebaya: PSM Kuasai Bola, tapi Tidak Agresif

PSM Makassar mendominasi penguasaan bola hingga 59 persen, tapi gagal menciptakan ancaman berarti ke gawang Persebaya yang justru tampil lebih efektif dan menang 1-0.
Meski unggul dalam distribusi bola dengan 316 umpan sukses, serangan PSM minim agresivitas dan hanya menghasilkan satu tembakan tepat sasaran dari lima percobaan sepanjang laga.
Kekalahan tipis ini memperpanjang tren negatif PSM, menegaskan perlunya peningkatan produktivitas gol agar tidak semakin terpuruk di papan bawah klasemen liga.
Makassar, IDN Times - Statistik laga pekan ke-23 BRI Super League 2025/2026 antara Persebaya Surabaya versus PSM Makassar, Rabu (25/2/2025) lalu, mempertegas penyakit kronis skuat asuhan Tomas Trucha. Meski bermain di hadapan ribuan Bonek, Juku Eja mendominasi penguasaan bola hingga 59 persen. Tapi, keunggulan aliran bola tersebut terbukti sia-sia karena gagal dikonversi menjadi ancaman nyata ke gawang tuan rumah.
Ketimpangan efektivitas serangan terlihat mencolok pada jumlah tembakan kedua tim sepanjang 90 menit. Persebaya yang tampil pragmatis mampu memberondong pertahanan PSM dengan total 20 tembakan. Sebaliknya, PSM yang lebih banyak memegang bola hanya melepas 5 tembakan, sebuah angka yang sangat minim untuk tim yang mendominasi jalannya pertandingan.
1. Para penyerang PSM Makassar masih kurang agresif di sektor pertahanan lawan

Masalah utama PSM terletak pada kualitas peluang di sepertiga akhir lapangan, yakni hanya satu tembakan yang mengarah tepat ke gawang dari lima percobaan. Statistik ini sangat kontras dengan Bajul Ijo yang bukukan 6 tembakan akurat, termasuk gol tunggal Gali Freitas. Rendahnya akurasi tembakan PSM yang hanya 25 persen menunjukkan adanya krisis kepercayaan diri di lini serang. Dan masalah tersebut sudah terjadi sejak lima pertandingan sebelumnya.
Tomas Trucha tidak menutupi rasa frustrasi melihat timnya kembali kalah tipis, meski secara permainan mampu bersaing dengan tim papan atas. Ia merasa ini sangat menyakitkan sebab anak asuhnya selalu kalah dengan margin satu gol, di saat tim lain justru kalah telak. "Ada tim yang kalah 3-0, 4-0, dan 4-1. Sedang tim seperti kami selalu kalah 1-0 dan 2-1, dan rasanya menyakitkan," ungkapnya dalam sesi jumpa pers selepas pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya tersebut rampung.
2. Unggul dalam distribusi bola, tapi serangan jarang berbuah ancaman berarti

Padahal, secara distribusi bola, PSM tampil cukup rapi dengan catatkan 316 umpan sukses, jauh mengungguli Persebaya yang hanya mengemas 213 umpan. Tingginya angka umpan sukses menjadi bukti bahwa aliran bola dari lini belakang ke tengah berjalan lancar. Tapi, Trucha mengakui anak asuhnya seolah bermain tanpa energi di babak pertama. Alhasil, banyak waktu terbuang tanpa semangat juang yang tinggi.
Dari sisi taktikal, pelatih asal Republik Ceko itu mengklaim telah mengantongi kekuatan lawan dan siap menghadapi skema racikan Bernardo Tavares. Tapi, instruksi tersebut tidak berjalan maksimal di lapangan yang menyebabkan gawang Reza Arya harus kebobolan satu gol krusial. "Kami tahu siapa saja yang akan diturunkan, jadi kami siap menghadapi mereka. Kami kebobolan satu gol," jelas Trucha tantang masalah timnya dalam duel klasik itu.
3. Jika masalah agresivitas tak kunjung dipecahkan, Juku Eja akan terbenam di papan bawah

Statistik tendangan sudut yang berimbang, yakni masing-masing lima kali, juga gagal dimanfaatkan PSM. Yuran Fernandes dan Aloisio Soares, yang biasanya menjadi andalan duel udara, kesulitan dalam kawalan ketat di kotak penalti Persebaya. Kegagalan memaksimalkan bola mati semakin menutup peluang Pasukan Ramang untuk mencuri poin.
Secara keseluruhan, kekalahan 1-0 ini jelas jadi tamparan untuk misi kebangkitan yang diusung Tomas Trucha. Mendominasi permainan tanpa ancaman serius membuat PSM mudah diredam lawan yang bermain efisien. Tugas besar mereka kini adalah mengubah dominasi ball possession menjadi produktivitas gol, sebelum makin terbenam di papan bawah.















