Comscore Tracker

Mitos dan Fakta Karier Ramang Jadi Tema Film Dokumenter FIFA

Saat kemampuan alam disebut lahir dari jampi magis

Makassar, IDN Times - Ramang, bagi pencinta sepak bola Indonesia, adalah sosok yang berdiri di tengah zona fakta dan mitos. Bagi kuping-kuping modern, tentu akan sulit percaya dengan betapa agresifnya Sang Macan Bola. Mulai dari cerita tentang kekuatan tendangan yang bisa merobohkan kiper lawan, hingga ketika Ramang bisa mencetak 7 gol dalam satu pertandingan.

Mitos dan fakta dalam karier sepak bola Ramang jadi topik utama yang diangkat oleh FIFA dalam serial dokumenter khusus Indonesia bertajuk "Sons of Football." Tak main-main, mereka berbicara langsung kepada figur-figur ternama untuk mengulik lebih dalam. Mulai dari eks pemain PSM era 1970-an Syamsuddin Umar, sejarawan Anhar Gonggong dan jurnalis M. Dahlan Abubakar.

Turut pula mantan penggawa Gaspar Sidrap yakni Abdul Wahab serta Bob Hippy, anggota Exco PSSI dekade 2000-an.

1. Sebuah urban legend menyebut kemampuan Ramang meningkat setelah kena sambar petir

Mitos dan Fakta Karier Ramang Jadi Tema Film Dokumenter FIFASkuat PSM Makassar saat jalani untuk Babak 6 Besar Nasional Kejuaraan Perserikatan PSSI musim 1954-1955. (Dok. Istimewa)

Dari mana sumber kekuatan Ramang? Menurut Dahlan, ini adalah hasil bersepeda dari Segeri ke Barru semasa kecilnya. Jarak 20 kilometer ia tempuh lantaran saat itu ia menjadi pagandeng (penjual ikan) untuk membantu ekonomi keluarganya. Tempaan hidup ternyata turut menempa kaki sang legenda.

Mistisisme juga mewarnai kisah Ramang di mata penduduk Sidrap secara turun temurun. Abdul Wahab menyebut kemampuannya datang setelah bersepak raga menggunakan tengkorak manusia dengan seseorang di Pantai Ujung Batu. Sedang yang lain mendapat cerita bahwa sambaran petir kala bermain bola sendirian di pasar membuat kekuatan Ramang meningkat berkali-kali lipat.

Namun, Anhar Gonggong tidak sepakat. Ramang baginya adalah bukti bakat alami yang lahir dalam satu generasi, sehingga klaim mistis dianggap tak masuk akal.

"Memang dia pemain yang natural betul, menurut pandangan saya. Jadi kalau ada yang mengatakan dia punya jampi-jampi, itu adalah hal berlebihan," tutur sejarawan 79 tahun itu.

2. Dianggap sebagai sosok yang dianugerahi bakat dan muncul sekali dalam satu generasi

Mitos dan Fakta Karier Ramang Jadi Tema Film Dokumenter FIFATimnas Indonesia di tengah jamuan kenegaraan oleh Kedubes RI di Beograd, Yugoslavia, di sela-sela tur Timnas ke Eropa Timur pada tahun 1956. (Dok. Arsip Keluarga Djamiaat Dhalhar / Twitter.com/Mah5Utari)

Hijrah ke Makassar pada tahun 1947, Ramang berani merantau cuma berbekal keahlian bal-balan. Waktu itu, pekerjaannya masih serabutan, tapi tak pernah kehilangan waktu untuk bermain bola. Kebolehannya mengolah bola membuatnya langsung menjadi sosok yang menonjol di lapangan. Ia menjadi primadona ibarat Maradona.

"Bola dipermainkan. Dia dikawal atau dikepung oleh sekian banyak orang, dia masih bisa lepas. Para penonton masuk dan mengelilingi Ramang ketika ia menendang bola. Jadi penonton itu mendekat mengelilinginya saat menendang bola," kata Anhar Gonggong yang sempat melihat aksi Ramang dengan mata kepala sendiri.

"Saat nenek saya melihat Maradona di TV, beliau berkata 'Masih jauh Ramang.' Karena Maradona mentok cuma bisa kaki kiri, sedang kedua kaki Ramang hidup. Kecepatannya luar biasa," cerita Abdul Wahab.

Baca Juga: Kesan Duo Ramang Muda Rafli - Edgard Lolos Lagi Garuda Select ke Eropa

3. Hidup sederhana hingga wafat, nama Ramang dianggap masih belum dihargai secara layak

Mitos dan Fakta Karier Ramang Jadi Tema Film Dokumenter FIFARamang berusaha melewati salah satu pemain timnas Uni Soviet, Anatoli Maslyonkin, dalam laga ulangan babak perempat final cabang olahraga sepak bola Olimpiade Melbourne 1956, di Melbourne Olympic Park Stadium, 1 Desember 1956. (FIFA.com)

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi pencinta sepak bola klasik bahwa Toni Pogacnik, pelatih Timnas dekade 1950-an, sangat mengandalkan Ramang di lini depan. Tapi ternyata, Toni sempat tak terkesan dengan kemampuannya saat pertama kali melihatnya beraksi dalam sesi latihan yang berlangsung di Lapangan Ikada Jakarta.

"Tapi waktu itu, Maladi (Ketua PSSI) memperhatikan sisi lain dari Ramang. Ia kemudian memberi tahu Toni bahwa Ramang hanya perlu dimaksimalkan sebagai striker. Benar saja, ia kaget ketika ada pemain yang bisa menjebol gawang Van der Vin (kiper Timnas saat itu) berulang kali," tutur Dahlan Abubakar.

Ramang membawa PSM Makassar berjaya sepanjang dekade 1950-an. Tapi, skandal suap pemain yang menyeret namanya membuat ia menjauh dari ekspos pers. Sempat melatih Juku Eja setelah gantung sepatu, ia wafat dalam ekonomi sangat sederhana pada 1987.

Barulah belakangan pencinta sepak bola kembali menggali sisi historis Ramang sebagai sosok yang berpengaruh dalam sejarah sepak bola Makassar, Sulawesi, dan Indonesia. Tapi, semua sepakat bahwa Ramang masih belum dihargai dengan layak.

"Ramang itu sosok yang besar, tapi penghargaannya kurang," kata Dahlan Abubakar.

Baca Juga: Dari Ramang hingga Rahmat Erwin: Jejak Atlet Asal Sulsel di Olimpiade

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya