Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tradisi Anti-Pecat PSM di Putaran Kedua, Tomas Trucha Masih Aman?

Tradisi Anti-Pecat PSM di Putaran Kedua, Tomas Trucha Masih Aman?
Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, dalam sesi jumpa pers pra-pertandingan pada 20 November 2025. (Dok. Ofisial PSM Makassar)
Intinya Sih
  • Absennya Tomas Trucha dan penunjukan Zulkifli Syukur sebagai Dirtek memicu spekulasi soal posisi pelatih kepala PSM yang terancam akibat performa tim menurun tajam.
  • Manajemen PSM dikenal menjaga stabilitas dengan tidak memecat pelatih di tengah musim, mempertimbangkan risiko teknis, finansial, serta sanksi transfer ban dari FIFA.
  • Sebagai solusi kompromi, manajemen menyerahkan kendali taktis kepada asisten pelatih dan Dirtek baru tanpa memberhentikan Trucha secara resmi demi menjaga tradisi klub.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Misteri absennya pelatih kepala Tomas Trucha dalam laga kontra Malut United (7/3/2026) serta penunjukan mendadak Zulkifli Syukur sebagai Direktur Teknik (Dirtek) memicu spekulasi panas. Meski manajemen menegaskan status Trucha masih pelatih kepala, hasil minor dan situasi internal menunjukkan kursi kepelatihan Juku Eja sedang tidak baik-baik saja.

Peluang pemecatan paling besar didasari oleh performa tim yang terjun bebas. Sebelum berhasil menahan imbang Malut United yang dipimpin asisten pelatih Ahmad Amiruddin, PSM di bawah arahan Trucha menelan empat kekalahan beruntun. Meski masih duduki peringkat 13 klasemen sementara, jarak mereka dengan zona degradasi kini hanya 4 poin.

1. Ada tradisi manajemen menghormati kontrak yang berlaku hingga akhir musim

PSM Makassar versus Malut United di musim 2025/2026.
Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha (tengah), memberi instruksi pada geladang Fahrul Aditia (kanan) dalam laga pekan ke-15 BRI Liga 1 2025/2026 melawan Malut United di Stadion B.J. Habibie Parepare pada 21 Desember 2025. (Dok. I.League)

Namun, jika membaca pola selama beberapa musim terakhir, PSM dikenal sebagai klub yang sangat menghargai stabilitas teknis. Jika menilik ke belakang, manajemen lebih memilih memberikan kesempatan bagi pelatih untuk menyelesaikan tugasnya, ketimbang melakukan pergantian dadakan di tengah jadwal yang padat.

Hal ini terlihat saat mereka tetap mempertahankan pelatih, meski tim sedang terhuyung-huyung di papan tengah atau bawah pada putaran kedua. Hal tersebut terjadi pada musim 2019 saat ditukangi Darije Kalezic, lalu ketika Joop Gall menjadi nahkoda di Liga 1 2021/2022.

2. Efektivitas pergantian di waktu sempit masih diragukan

PSM Makassar versus Semen Padang di musim 2025/2026.
Salah satu momen laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 antara PSM Makassar versus Semen Padang yang berlangsung di Stadion B.J. Habibie Parepare pada 2 Februari 2026. (Instagram.com/psm_makassar)

Manajemen PSM tampaknya sadar bahwa mengganti pelatih di pertengahan putaran kedua adalah perjudian besar. Dengan sisa laga yang sedikit, pelatih baru akan sulit menerapkan filosofinya dalam waktu singkat. Risiko ini seringkali dianggap lebih berbahaya ketimbang mempertahankan pelatih yang sudah ada, kendati performanya sedang menurun.

Faktor finansial juga tidak bisa dikesampingkan, terutama dengan adanya sanksi transfer ban yang baru saja dirilis FIFA per 9 Maret 2026. Memecat pelatih di putaran kedua berarti harus membayar sisa kontrak atau pesangon dalam jumlah besar. Di tengah kondisi manajemen yang sedang disorot secara administratif, opsi pemecatan bisa menjadi beban keuangan dan berimbas pada stabilitas klub.

3. Manajemen Pasukan Ramang lebih memilih solusi "jalan tengah"

Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, saat memimpin sesi latihan di Stadion Kalegowa Pallangga pada 20 Januari 2026.
Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, saat memimpin sesi latihan di Stadion Kalegowa Pallangga pada 20 Januari 2026. (Instagram.com/psm_makassar)

Alih-alih memecat secara resmi, manajemen tampaknya lebih memilih strategi "pembekuan" tugas. Dengan menyerahkan komando kepada asisten pelatih Ahmad Amiruddin dan mendatangkan Zulkifli Syukur sebagai Dirtek, Pasukan Ramang tetap menjaga tradisi tidak memecat pelatih secara resmi di putaran kedua.

Kendati demikian, kendali taktis secara de facto sudah berpindah tangan dan tidak lagi di tangan pelatih kepala asal Republik Ceko tersebut. Ini seolah menjadi cara lain untuk melakukan perubahan tanpa harus merusak tradisi menghormati kontrak, atau mengeluarkan biaya kompensasi atas pemutusan kontrak secara prematur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest Sport Sulawesi Selatan

See More