4 Alasan Sanksi FIFA Bisa Membuat PSM Kurang Diminati Pemain

- PSM Makassar kembali dijatuhi sanksi registration ban oleh FIFA sejak 9 Maret 2026, melarang klub mendaftarkan pemain baru selama tiga periode bursa transfer.
- Sanksi ini menimbulkan kekhawatiran soal kepastian hak finansial pemain dan menurunkan daya tarik PSM di mata pemain serta agen profesional.
- Larangan transfer berpotensi memperburuk kedalaman skuat, memicu kelelahan pemain, dan mengancam loyalitas pemain yang masih bertahan di tengah ketidakpastian manajemen.
Makassar, IDN Times - Di tengah perjuangan keluar dari jeratan papan bawah BRI Super League 2025/2026, kabar tak mengenakkan kembali datang dari PSM Makassar. Laman resmi FIFA kembali memasukkan mereka ke daftar klub yang terkena sanksi registration ban. PSM tercatat dilarang mendaftarkan pemain baru sejak 9 Maret 2026 untuk tiga periode bursa transfer ke depan.
Sanksi ini menjadi alarm keras karena bisa merusak reputasi klub di mata para pemain profesional. Berikut adalah 4 potensi dampak buruk yang membuat PSM Makassar terlihat kurang ideal di mata pemain jika sanksi ini terus berulang, atau bahkan dinormalisasi.
1. Munculnya kekhawatiran tentang kepastian hak pemain

Meskipun FIFA tidak pernah merinci penyebab pastinya, riwayat mencatat bahwa hukuman transfer ban biasanya berakar dari sengketa finansial atau tunggakan gaji. Bagi pemain profesional, kepastian hak menjadi prioritas utama.
Jika klub terus-menerus masuk daftar hitam FIFA, pemain akan berpikir dua kali untuk bergabung karena adanya risiko ketidakpastian finansial yang bisa mengganggu fokus mereka di lapangan. Dan efeknya tidak hanya berdampak pada pemain, tapi juga perfoma klub di kompetisi yang mereka ikuti.
2. Menurunkan daya tawar dalam perburuan pemain berkualitas

Klub dengan sanksi FIFA secara otomatis memiliki citra yang kurang sehat di pasar transfer. Hal ini membuat agen pemain maupun pemain incarannya akan merasa ragu untuk menjalin negosiasi.
Dampaknya, PSM berpotensi kehilangan kesempatan untuk merekrut talenta berbakat yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mendongkrak performa tim. Pemain berkualitas cenderung memilih klub dengan manajemen yang lebih stabil dan bersih dari sengketa hukum.
3. Menciptakan ketimpangan kedalaman skuat (squad depth)

Larangan mendaftarkan pemain baru selama tiga periode bursa transfer adalah hukuman yang sangat berat. Jika ada pemain pilar yang cedera panjang atau memutuskan hengkang, PSM tidak bisa mencari pengganti sepadan.
Kondisi skuat "itu-itu saja", tanpa adanya penyegaran akan membuat beban kerja pemain yang ada menjadi sangat berat. Pada akhirnya, meningkat pula risiko kelelahan dan penurunan performa tim secara keseluruhan.
4. Mempengaruhi loyalitas pemain yang masih bertahan

Pemain yang saat ini berada di dalam tim tentu ikut merasakan dampak psikologis dari sanksi ini. Munculnya kabar sanksi FIFA bisa menggoyang kondusivitas ruang ganti dan menurunkan kepercayaan mereka terhadap manajemen.
Jika tidak segera diselesaikan, pemain-pemain kunci yang kontraknya akan habis mungkin lebih memilih mencari klub baru yang dianggap lebih aman secara administratif. Dan upaya untuk mempertahankan para pemain kunci untuk menjaga stabilitas performa kian sulit diwujudkan.
Yang bisa dilakukan manajemen PSM Makassar tentu saja membereskan sengketa yang sedang terjadi, sekaligus menyiapkan rencana finansial lebih matang utnuk musim depan.


















