Comscore Tracker

Gowa-Tallo Menyokong Perjuangan Rakyat di Jawa Melawan VOC (1)

#MenjagaIndonesia Tetap melawan meski kampung telah takluk

Makassar, IDN Times - Perjanjian Bongaya yang diteken oleh Kesultanan Gowa-Tallo dan pihak VOC pada 18 November 1667, di tengah kecamuk Perang Makassar (1666-1669), memang melucuti supremasi wilayah yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin tersebut. Seperti diperkirakan Laksamana Cornelis Speelman, sejumlah bangsawan yang menolak 30 butir kesepakatan memilih hengkang ketimbang tunduk pada Kompeni.

"Mereka bertolak dalam rombongan kapal bak Suku Viking demi mencari kehormatan, kekayaan, dan rumah baru. Mereka kemudian sukses menjadi pemain penting dalam urusan dalam negeri Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya dan bahkan Siam," tulis mendiang Merle Calvin Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia since c.1200 (Palgrave, 2001).

Ini tak lepas dari budaya siri' (memegang teguh harga diri) di masyarakat Bugis-Makassar. Para figur berpengaruh Gowa-Tallo berpencar ke berbagai tempat, salah satunya Pulau Jawa dan memimpin perlawanan rakyat melawan VOC.

1. Syekh Yusuf Al-Makassari dalam Perang Saudara Kesultanan Banten (1682-1683)

Gowa-Tallo Menyokong Perjuangan Rakyat di Jawa Melawan VOC (1)Lukisan Syekh Yusuf Al-Makassari, figur ulama berpengaruh asal Gowa-Tallo dan pemimpin pasukan kubu Sultan Ageng Tirtayasa di Perang Saudara Banten (1682-1683), dalam prangko Afrika Selatan terbitan tahun 2011. (Universal Postal Union)

Sosok kelahiran Parangloe (Kabupaten Gowa), 3 Juli 1626, ini bertolak ke Arab untuk mendalami ilmu agama pada 1644. Ketika singgah di Banten usai lebih dari dua dekade masa perantauan (1668), Syekh Yusuf menerima kabar bahwa Gowa-Tallo takluk pada Kompeni usai menandatangani Perjanjian Bongaya.

Mustari Mustafa, dalam buku Agama dan Bayang-Bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari  (LKiS, 2011), menjelaskan bahwa Syekh Yusuf sempat pulang. Tujuannya yakni membujuk Sultan Amir Hamzah atau I Mappasomba Daeng Nguraga (memerintah 1669-1674) untuk kembali melawan, serta demi menghindari masyarakat kembali terjerumus kemaksiatan. Namun, bujukan tersebut ditolak oleh sang sultan.

Kegagalan ini membuatnya memilih menetap di Banten. Ia mengabdi sebagai mufti untuk sang kawan lama, Sultan Ageng Tirtayasa (memerintah 1651-1683). Posisinya sebagai ulama tertinggi bagi masyarakat dan lingkungan istana memberi Syekh Yusuf posisi terpandang. Namun, ia kemudian terseret dalam intrik istana yang melibatkan putra sang sahabat yakni Sultan Haji dan pihak yang dibencinya: VOC.

2. Eksodus bangsawan Gowa-Tallo ke Banten terjadi pada awal dekade 1670-an

Gowa-Tallo Menyokong Perjuangan Rakyat di Jawa Melawan VOC (1)Pemandangan kota Banten abad ke-16 dari laut lepas menurut lukisan Johann Theodor de Bry (1561-1623) dan Johann Isreal de Bry (1565-1609) dalam buku Orientalische Indien (Little Voyages) yang terbit tahun 1599. (Wikimedia Commons)

Sultan Ageng ingin agar Banten tetap mempertahankan posisi sebagai mitra untuk semua kamar dagang asal Eropa. Entah itu Belanda (VOC), Inggris (EIC) atau Portugal. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun, Sultan Haji ingin Banten menjalin hubungan lebih dekat dengan Kompeni.

Selain Syekh Yusuf, masih ada sejumlah figur berpengaruh Gowa-Tallo di dalam Kesultanan Banten. Tokoh pertama yang menyusul sang mufti adalah Sultan Harun Al Rasyid I Tuminanga ri Lampana, Raja Tallo ke-9, pada awal dekade 1670-an atau setelah Benteng Somba Opu direbut Kompeni. Kemudian datang pula putra Sultan Hasanuddin, I Manienrori sekaligus Karaeng Galesong ke-5.

Namun, rombongan terbesar tiba pada 9 November 1674 yang dipimpin oleh Daeng Mangappa, saudara Sultan Harun Al Rasyid. Mereka tiba dalam 19 perahu besar dengan jumlah rombongan antara 7.000 hingga 8.000 orang yang berasal dari Gowa, Wajo dan Luwu (Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan, Zainal Abidin, SIGn Institute, 2017).

Baca Juga: Karaeng Pattingalloang: Poliglot dan Pencinta Sains Asal Gowa-Tallo

3. Kedatangan para bangsawan Gowa-Tallo di Banten disebut atas undangan Sultan Banten sendiri

Gowa-Tallo Menyokong Perjuangan Rakyat di Jawa Melawan VOC (1)Ilustrasi karya Josias Cornelis Rappard yang memperlihatkan kondisi Masjid Agung Banten di Desa Karangantu, Kota Serang, Provinsi Banten, antara tahun 1882 hingga 1889. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Selanjutnya turut pula I Tanriawa ri Ujung Karaeng Bontomarannu, bekas Panglima Angkatan Laut Gowa dan Tuma'bicara Butta (Perdana Menteri Gowa-Tallo), yang sempat ditawan oleh Kompeni di Pulau Buton. Ia datang pada 19 Agustus 1671 bersama 800 orang. Sebulan berselang, datang pula Opu Cenning (putra mahkota Kerajaan Luwu di tanah Bugis) yakni Settiaraja bersama istri-istri dan 300 pengikutnya.

Eksodus bangsawan Gowa-Tallo ke Banten membawa pengikutnya masih belum berhenti. Ada Karaeng Tulolo (saudara kandung Sultan Hasanuddin) serta Datu Louadin (figur kelahiran Minangkabau) dengan kekuatan 1.200 orang Melayu-Bugis.

Kenapa harus Banten? Zainal Abidin dalam Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan menulis bahwa pedagang Bugis dan Makassar sudah bermukim di Banten sejak awal abad ke-17. Kemungkinan mereka sudah ikut serta dalam tiga perang Kesultanan Banten melawan Kompeni (1633-1639, 1656-1659 dan 1678-1684).

4. Perang Saudara Banten pecah pada 1682, dengan Syekh Yusuf dan I Manienrori Karaeng Galesong bergabung dengan faksi Sultan Ageng

Gowa-Tallo Menyokong Perjuangan Rakyat di Jawa Melawan VOC (1)Ilustrasi prajurit Kesultanan Banten, bersama baju zirah dan perlengkapan tempur seperti senapan dan tombak, di tahun 1596. (Wikimedia Commons)

Sejarawan Leonard Andaya dalam The Heritage of Arung Palakka (Martinus Nijhoff, 1981) mengemukakan bahwa eksodus pasca kejatuhan supremasi Gowa-Tallo mengantongi izin dari Sultan Ageng sendiri. "Kedatangan para pengungsi dengan status bangsawan di Banten ini rupanya atas undangan penguasanya. Mereka langsung diberi izin tinggal di sana dan langsung menetap di dekat tempat tinggal Sultan di Pontang, sebelah timur pasar besar," tulisnya.

Saat Perang Saudara Banten pecah pada 1682, Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng. Ia memimpin 2.000 prajurit (terdiri dari orang-orang Makassar, Bugis, Jawa dan Melayu) bersama dua putranya sekaligus cucu Sultan Ageng, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul. Bangsawan Gowa-Tallo yang turut memimpin pasukannya adalah I Manienrori.

Seiring perang berjalan, faksi Sultan Ageng terdesak sebab koalisi Sultan Haji mendapat bantuan persenjataan dan personel tambahan dari VOC. Sultan Ageng menyerahkan diri pada 16 Maret 1683. Syekh Yusuf juga menyerah pada bulan Maret 1683. Karaeng Galesong I Manienrori sendiri diduga gugur dalam pertempuran pada usia sangat muda, 24 tahun.

 

(Bersambung)

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalamanan unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di saat mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.

Baca Juga: Kobar di Tanah Banten: Saat Syekh Yusuf Pimpin Perlawanan Rakyat

https://www.youtube.com/embed/szsxkHb8EUo

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya