Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WALHI Sulsel Minta Ormas Agama Tidak Ikut Berbisnis Tambang
Ilustrasi tambang batubara (unsplash.com/@dominik_photography)
  • WALHI Sulsel meminta ormas keagamaan tidak berbisnis tambang
  • Ormas keagamaan disarankan fokus pada amal usaha sesuai visi misi
  • Ketua PP Muhammadiyah dan PBNU diminta menolak rencana pemerintah memberikan IUP pertambangan
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel), meminta organisasi masyarakat (ormas) keagamaan tidak ikut dalam bisnis tambang. Ormas keagamaan disebut hadir di masyarakat bukan untuk berkonflik dan menambah kerusakan lingkungan.

Direktur WALHI Sulsel, Muhammad Al Amin, menilai tawaran pemerintah agar ormas keagamaan dapat mengajukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan menjalankan bisnis pertambangan, seperti upaya adu domba antara ormas keagamaan dengan organisasi lingkungan yang selama ini menyerukan perlindungan dan pemulihan lingkungan.

“Saya berharap sekali supaya ormas Islam, Kristen, Budha, Hindu dan agama-agama lainnya menolak tawaran pemerintah untuk mengajukan IUP dan berbisnis tambang. Ditambah lagi langkah Ini seperti upaya pemerintah untuk membenturkan antara masyarakat korban tambang demgan ormas keagamaan,” kata Amin dalam keterangan persnya di Makassar, Senin (3/6/2024).

1. Lebih cocok bisnis pendidikan dan kesehatan

Ilustrasi bisnis pendidikan. Pelajar SMK Muhammadiyah 9 Medan Belajar Safety Riding (Dok. IDN Times)

Amin mengatakan, saat ini amal usaha ormas sudah sangat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia. Di mana ormas keagamaan menjalankan usaha atau bisnis yang sesuai dengan visi misi ormas sebagai pengayom masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan usaha di jasa lainnya.

Sehingga, jelas Amin, kalau ormas keagamaan ikut berbisnis tambang, maka hal tersebut sudah jauh dari spirit dan visi misi ormas keagamaan.

“Sekali lagi, saya mewakili warga yang terdampak tambang, maupun warga yang akan terdampak tambang, memohon dengan sangat agar ketua-ketua ormas untuk tidak berbisnis tambang. Dan tetap menjalankan amal usaha seperti saat ini,” ucap Amin.

2. Potensi konflik antara ormas keagamaan dan masyarakat

ilustrasi tambang marmer (pixabay.com/ELG21)

Kemudian, dia menjelaskan bahwa konflik lingkungan yang kerap mengorbankan petani, nelayan, masyarakat adat dan perempuan selalu melibatkan perusahaan. Maka, kalau ormas keagamaan juga ikut berbisnis tambang, kami prediksi konflik tersebut juga akan terjadi antara masyarakat dengan ormas.

“Hal itulah yang saya maksud pemerintah ingin membenturkan antara masyarakat, organisasi lingkungan dengan ormas keagamaan. Jadi agar tidak terjadi hal yang kami khawatirkan, kami harap ormas tidak berbisnis tambang dan bisnis ekstraktif lainnya.

3. WALHI meminta ketua ormas menolak

Aktivitas pertambangan PT Vale di Kabupaten Luwu Timur. (Didit Hariyadi untuk IDN Times)

Amin lalu meminta agar Ketua PP Muhammadiyah, Ketua PBNU, dan ketua-ketua ormas lainnya untuk menyampaikan pernyataan menolak rencana pemerintah memberikan IUP pertambangan tersebut.

“Demi keselamatan rakyat saat ini dan generasi yang akan datang, serta untuk kelestarian lingkungan, saya mohon agar NU, Muhammadiyah dan ormas-ormas keagamaan lainnya menolak pemberian konsesi tambang dan tidak berbisnis di sektor ekstraktif," kata Amin.

4. PBNU sebut sudah siapkan SDM olah tambang

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (IDN TimesIlman Nafi'an)

Terkait polemik pemberian IUP pertambangan kepada ormas keagamaan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menyebut Presiden Joko "Jokowi" Widodo memiliki keberanian untuk mengizinkan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan ikut mengelola tambang.

“Kebijakan ini merupakan langkah berani yang menjadi terobosan penting untuk memperluas pemanfaatan sumberdaya-sumberdaya alam yang dikuasai negara, untuk kemaslahatan rakyat secara lebih langsung,” ujar Yahya dalam keterangannya, Senin (3/6/2024).

Yahya juga mengaku PBNU telah memiliki sumber daya manusia (SDM) untuk ikut mengelola tambang yang ada di Indonesia. Menurutnya, SDM di PBNU memiliki jaringan bisnis yang baik.

“Nahdlatul Ulama telah siap dengan sumberdaya-sumberdaya manusia yang mumpuni, perangkat organisasional yang lengkap dan jaringan bisnis yang cukup kuat untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut,” kata dia.

Editorial Team

Related Article